Haji Umar Mita: Muslim Jepang Pertama yang Menerjemahkan Al-Qur’an

Tanpa bermaksud mengesampingkan tokoh muslim Jepang lain barang sedikit pun, salah satu muslim Jepang termasyhur dalam khazanah sejarah Islam Jepang yan patut kita kenal adalah Haji Umar Mita. Ia diingat atas banyak dedikasi dan kontribusinya terhadap perkembangan Islam di Jepang. Pencapaian paling monumentalnya adalah proyek penerjemahan al-Qur’an yang diselesaikannya pada tahun 1972. Setidaknya ada dua hal yang patut dicatat dari pencapaian tersebut. Pertama, proyek yang sudah dimulai sejak 1961 tersebut mengukuhkannya sebagai muslim Jepang pertama yang berhasil menerjemahkan kitab suci al-Qur’an ke dalam bahasa Jepang. Kedua, karya terjemahan tersebut rampung dalam waktu yang tak sebentar, 12 tahun. Bukan suatu hal yang berlebihan, jika momen tersebut memang laik dicatat dengan penuh kebanggaan sebagai salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam Jepang.

Berbicara tentang penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Jepang, jauh sebelum Haji Umar Mita, setidaknya sudah dilakukan sebanyak lima kali dalam rentan waktu 1920-1970, dan dilakukan oleh orang-orang yang berbeda. Kenichi Sakamoto, seorang beragama Buddha lulusan Tokyo University, adalah orang Jepang pertama yang melakukan pekerjaan tersebut pada tahun 1920. Sumber yang dipakai Sakamoto adalah al-Qur’an yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Pada tahun 1929, penerbit Kaizo-sha menerbitkan ulang al-Qur’an karya Kenichi Sakamoto tersebut. Sakamoto juga menerbitkan buku tentang tentang Nabi Muhammad SAW berjudul Prophet Mohammed (sumber lain menyebutkan Mohammed) di tahun 1923. Al-Qur’an terjemahan bahasa Jepang  yang kedua terbit pada tahun 1938. Penerjemahnya adalah G. Takahashi, yang meninggal dunia di tahun 1935, tiga tahun sebelum hasil terjemahannya diterbitkan. Abdul Karim Saito dalam “The Historical Journey of Islam Eastward and The Muslim Community in Japan Today” (1979) menuliskan bahwa Ahmad Ariga, orang yang dianggap sebagai muslim Jepang ketiga, ikut turut serta membantu Takahashi menggarap al-Qur’an terjemahan tersebut. Edisi ketiga diterbitkan pada tahun 1950, dan diterjemahkan oleh Shumei Okawa dan Prof. Gamo. Kemudian pada tahun 1957, untuk pertama kalinya diterbitkan al-Qur’an bahasa Jepang yang diterjemahkan langsung dari teks bahasa Arab. Adalah Toshihiko Izutsu, seorang profesor ilmu keislaman Keio University yang membidaninya. Pada tahun 1970, terbit al-Qur’an terjemahan bahasa Jepang untuk kelima kalinya. Edisi kelima tersebut diterjemahkan oleh Katsuji Fujimoto, Kosai Ban dan Osamo Ikeda diterbitkan. Kesemua penerjemah al-Qur’an yang disebut di atas memiliki satu kesamaan, mereka semuanya bukan pemeluk Agama Islam, kecuali Ahmad Ariga, yang itu pun hanya sebatas membantu G. Takahashi. Sehingga ketika Haji Umar Mita berhasil menerjemahkan kitab suci tersebut ke dalam bahasa Jepang, adalah satu hal yang patut dibanggakan. Sebab ia adalah seorang muslim cum akademisi, yang bagaimanapun memiliki pemahaman lebih objektif tentang kitab suci Agama Islam tersebut.

Haji Umar Mita terlahir dengan nama Ryouichi Mita (了一三田) dari keluarga samurai klan Chofu di Pref. Yamaguchi pada tanggal 19 Desember 1892. Semenjak kecil, dibanding anak-anak lain seumurannya, kondisi fisik dan kesehatannya mengalami sedikit hambatan. Akibatnya ia terlambat dalam menyelesaikan pendidikannya. Pada usia 24 tahun, Mita lulus dari Yamaguchi Commercial College, yang sekarang bertransformasi menjadi Yamaguchi University.

Pasca kelulusannya, Mita muda bergegas menuju Cina, negara yang sudah menarik perhatiannya sedari kecil. Cina lah tempatnya pertama kali berinteraksi langsung dengan Islam. Selama tinggal di Cina, ia mengunjungi banyak daerah yang membuatnya sering berinteraksi dengan penduduk daerah-daerah kunjungannya. Selain itu, kemahirannya di bidang pengobatan yang juga ia pelajari di Cina, semakin memudahkan pergaulannya dengan mereka.  Termasuk interaksinya dengan muslim Cina yang kemudian memberikannya kesan sangat baik dan mendalam. Pikirnya, hal tersebut tak pernah ia temui sebelumnya di Jepang. Seiring lamanya bermukim di Cina, ia semakin tertarik dengan Islam. Sebagi hasilnya, pada tahun 1920 ia menulis artikel tentang Islam di Cina untuk majalah Toa Keizai Kenkyu.

Pada tahun 1921, Mita kembali ke Jepang untuk beberapa saat. Selama di Jepang, ia banyak menghadiri ceramah dan intens membaca tulisan-tulisan dari Haji Omar Kotaro Yamaoka, muslim Jepang pertama yang menunaikan ibadah haji pada tahun 1909. Bisa dikatakan, Yamaoka adalah salah satu orang yang berpengaruh bagi Mita. Dilansir dari jurnal Islamic Culture Forum yang terbit pada Februari 1975, dikatakan bahwa Mita sudah tertarik dengan Agama Islam semenjak muda jauh sebelum kepergiannya ke Cina. Pada waktu itu, salah satu yang memantik ketertarikannya terhadap Agama tersebut adalah buku-buku bacaannya yang ditulis oleh Yamaoka. Di tahun 1921 pula, akhirnya Mita dapat bertemu dengan Yamaoka di Kamakura. Pada waktu itu Mita berusia 29 tahun, sedangkan Yamaoka 41 tahun.

Pada tahun 1922, Mita bergabung dengan Manchurian Railway Company dan ditugaskan di bagian inspeksi industri. Ia ditempatkan di kantor pusat perusahaan tersebut, yang terletak di daerah bernama Dalian, Manchuria. Pada periode ini pula ia memasuki kehidupan berumah tangga. Suatu waktu, ia mendapat kenaikan jabatan yang membawanya mengampu tugas baru. Tugas barunya tersebut memungkinkannya semakin intens berinteraksi dan berhubungan dengan banyak orang, karena ia acap kali dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain oleh perusahaannya. Hal tersebut semakin memberikannya banyak kesempatan untuk lebih dekat dan intens berhubungan dengan muslim Cina.

Selama hampir kurang lebih 30 tahun ia mempelajari Islam, hatinya semakin yakin untuk memeluk Islam, tetapi selama itu pula belum sampai membuatnya untuk mendeklarasikan imannya terhadap Agama tersebut secara resmi. Sampai pada tahun 1941, di usia 49 tahun, Mita secara resmi memeluk Islam di bawah bimbingan Wang Reilan, imam masjid Nyuchie di Beijing. Setelah itu, Mita berkomitmen untuk mengabdikan diri di jalan Islam dan mengganti namanya menjadi Umar Mita. Ia tinggal di Beijing sampai tahun 1945, lalu meninggalkan pekerjaanya untuk kembali ke Jepang.

Sepulangnya ke Jepang, ia bekerja sebagai pengajar bahasa Cina di Kansai University dan Kita-Kyushu University. Namun, hal yang buruk menimpanya pada masa itu, istrinya meninggal dunia. Pada tahun 1952, ia berhenti mengajar dan memutuskan tinggal di Tokyo, untuk kemudian ikut berpartisipasi dalam aktivitas keislaman di Tokyo. Kemudian bersama beberapa tokoh lainnya, pada tahun 1953, ia mendirikan Japan Muslim Association, asosiasi mulim pertama di Jepang.

Pada tahun 1957, ia pergi ke Pakistan untuk menjalin interkasi dengan komusitas Islam Jamaah Tabligh, juga untuk belajar bahasa Arab. Pada masa-masa ini, kesehatan Mita semakin menurun. Setahun berikutnya, bersama jamaah dari Pakistan, ia berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekah. Pada tahun 1960, ia didaulat menjadi ketua Japan Muslim Association kedua, menggantikan Sadiq Imaizumi yang meninggal mendadak. Pada masa ini pula Mita menerbitkan beberapa buku, di antaranya Isuramu Rikai no Tame ni (Understanding Islam), Isuramu Nyuumon (An Introduction to Islam) dan menerjemahkan Sahaba Monogatari, buku berbahasa Urdu yang ditulis oleh Maulana Muhammad Zakaria, dan secara khusus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Abdur Rasheed Arshad untuk Mita, agar dapat ia pakai sebagai sumber untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Jepang.

Haji Umar Mita memulai proyek penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Jepang pada tahun 1961. Pada saat usianya menginjak 70 tahun ia meninggalkan Pakistan dan pindah ke Lahore untuk meneruskan proyek tersebut. Di sana, ia juga belajar bahasa Arab dan dan ilmu tentang al-Qura’an. Kemudian atas sebuah undangan, ia pergi ke Mekah untuk memperoleh dukungan proyek penerjemahan tersebut. Selama tinggal di Mekah, ia menjalin kontak dengan para ahli al-Qur’an dari Mekah, Madinah, Thaif, Riyad dan lain-lain. Pada tahun 1963, saat Mita dan Abdur Rasheed Arshad dan yang lainnya menuju Mekah dari Madinah, kecelakaan menimpa mereka. Haji Umar Mita selamat, walaupun menderita luka serius. Sementara Abdur Rasheed Arshad meninggal dunia. Pada masa itu, Mita mengalami shock dan banyak menghabiskan waktu untuk memulihkan kembali kesehatannya. Oleh karena itu ia kembali ke Jepang

Sembari menjalani perawatan dan pemulihannya di Jepang, ia tetap melanjutkan proyek penerjemahannya tersebut. Untuk menghindari riuh kota besar, dan demi kelancaran pemulihannya, terkadang ia tinggal di Miyazaki, Pref. Kyushu, kadang di Enzan, Pref. Yamanashi. Selama tinggal di Enzan, tepatnya pada tahun 1965, ia bertemu dengan Abu Bakr Morimoto, seorang muslim Jepang yang juga mendukung proyek penerjemahan tersebut, khususnya dalam hal percetakan.

Pada tahun 1968, proses penerjemahan selesai, yang kemudian direvisi dan dicek oleh komite yang ditunjuk oleh pihak Japan Muslim Association. Setelah proses revisi dan pengecekan yang memakan waktu kurang lebih sekitar satu tahun setengah, pada tahun 1970 Mita pergi ke Mekah dengan ditemani seorang Pakistan yang bernama Hussain Khan. Tujuannya adalah untuk merevisi dan mencek ulang teks terjemahan al-Qur’an tersebut oleh komite yang ditunjuk oleh Rabita Al Alam Al Islami. Setelah enam bulan, teks terjemahan tersebut akhirnya siap dicetak. Mita kemudian kembali ke Jepang dan membawa teks tersebut ke penerbit Takumi Kobo yang ada di Hiroshima untuk dicetak.

Akhirnya pada 10 Juni 1972, edisi pertama terjemahan al-Qur’an tersebut dirilis dalam jumlah 5.000 eksemplar. Pada saat itu, Mita sudah berusia 80 tahun. Setelah karya terjemahan yang memakan waktu kurang lebih 12 tahun itu selesai, Mita tetap melanjutkan aktivitasnya di Japan Muslim Associaion, dan menulis artikel, terjemahan dan lainnya. Pada Maret 1974, ia kembali mengunjungi Mekah. Bulan November di tahun yang sama, ia menghadiri konferensi muslim yang diadakan di New Delhi, India. Haji Umar Mita meninggal pada 29 Mei 1983. Meskipun pada tahun 2014, muslim Jepang lainnya, yaitu Kaori Nakata dan Kazoki Shimamura menerjemahkan al-Qur’an di bawah pengawasan Kou Nakata (suami dari Kaori Nakata), karya Haji Umar Mita tetap masih dipakai sampai hari ini di Jepang.

 

 

 

 

Advertisements

Haruki Murakami – Kejutan dari Bangkok

“Halo, apakah ini dengan nomor 5721-1251?” tanya si perempuan.

“Ya, betul.”

“Maaf mengganggu, sebenarnya dari tadi aku bermaksud menelpon ke nomor 5721-1252.”

“Eh?” aku sedikit heran.

“Sedari pagi, sudah kucoba menelponi nomor itu sampai 30 kali, tapi tak diangkat-angkat. Mungkin orangnya sedang bepergian entah kemana, semacam piknik atau sebagainya.”

“Lalu?” aku bertanya.

“Ya, selayaknya tetangga, aku hanya bermaksud untuk menelpon ke nomor itu saja.”

“Hah?” Aku tambah heran.

Perempuan di balik telpon tersebut mengeluarkan batuk kecil. Lalu dia berkata “Semalam, aku baru saja tiba dari Bangkok. Ada hal yang sangat menakjubkan. Benar-benar tak habis pikir, sungguh menakjubkan. Dari rencanaku semingguku, hanya tiga hari saja aku di sana, lalu kuputuskan untuk pulang. Aku tak tahan untuk menceritakan hal menakjubkan tersebut. Itulah sebabnya aku terus-terusan menelponi nomor 1252. Aku sampai dibikin tak bisa tidur, kalau belum menceritakannya kepada seseorang. Hanya saja ini bukan cerita yang bisa diceritakan kepada setiap orang. Aku cuma berpikir, mungkin aku bisa menceritakannya kepada nomor 1252.”

“Hmm begitu ya.”

“Aku pikir yang akan mengangkat telpon ini adalah perempuan. Karena sepertinya cerita ini lebih pas diceritakan kepada perempuan ketimbang laki-laki.”

“Maaf kalau begitu” Aku, sedikit lirih.

“Berapa usiamu?”

“Baru saja jadi 37 bulan lalu.”

“Oh, 37. Kalau saja lebih muda lagi, mungkin lebih baik. Eh, maafkan aku berkata seperti itu.”

“Tidak apa-apa.”

“Maaf, ya.” Perempuan itu berkata demikian kedua kalinya. “Kalau begitu, aku coba telpon nomor 5721-1253 saja. Terima kasih, yak!.”

Dengan ditutupnya telpon itu, pada akhirnya aku sama sekali tak tahu apa sebetulnya yang terjadi di Bangkok, dan apa yang dimaksud perempuan itu dengan “sesuatu yang menakjubkan.”

Diterjemahkan dari cerpen Haruki Murakami berjudul Bangkokku Saapuraizu, yang termuat di buku Minna no Nihongo Chuukyuu 2.

Album Musik Pertama dalam Format CD di Jepang: Eiichi Ohtaki – A Long Vacation

37 tahun lalu, tepatnya 21 Maret 1981, album solo salah satu mantan personil band folk-rock legenda Jepang, Happy End, Eiichi Ohtaki, yang berjudul A Long Vacation dirilis. Pada Oktober 1982, album ini dicetak ulang dalam format CD, dan merupakan album musik Jepang pertama yang dirilis dalam format cakram padat tersebut.Pada tahun 2007, album ini didaulat menjadi salah satu album rock terbaik Jepang sepanjang masa oleh majalah Rolling Stone Jepang. A Long Vacation menempati urutan ke-7 dalam kategori tersebut.

Pada tahun 2009, beberapa penyanyi perempuan seperti Amii Ozaki, Miki Imai, Ayano Tsuji dll menyayikan ulang lagu-lagu yang ada di album ini. Album tribute tersebut berjudul A Long Vacation From Ladies. 30 Desember 2013, Eiichi Ohtaki meninggal dunia dalam usia 65 tahun. Ia adalah salah satu musisi paling berpengaruh dalam sejarah musisi paling berpengaruh dalam sejarah musik populer Jepang.

Pada tahun 2003, majalah HMV Jepang menempatkan Ohtaki di urutan ke-9 sebagai salah satu dari 100 musikus yang paling berpengaruh dalam sejarah musik populer Jepang. Beberapa lagu yang patut disimak dari magnum-opus-nya ini adalah カナリア諸島, 愛するカレン dan Pap-Pi-Doo-Bi-Doo-Ba 物語.

Mendobrak Tempurung Ala Ben Anderson

Benedict Anderson adalah satu nama yang tidak boleh dilewatkan dalam peta sejarah dan kebudayaan Indonesia, khususnya bagi mereka yang menempuh studi tentang ilmu sosial Indonesia. Karya-karyanya mustahil dilewatkan oleh para Indonesianis sebagai sumber bahan dan referensi primer. Salah satu buku yang ia tulis, Imagined Communities (1983), adalah buku fenomenal yang menjadi kajian baru tentang nasionalisme yang sampai sekarang masih merupakan bacaan wajib mahasiswa universitas di seluruh dunia[1], pula mengantarkannya sebagai salah satu peneliti kajian Asia Tenggara termasyhur dunia.

13 Desember 2015, Om Ben, sapaan akrabnya, meninggal dunia dalam usia 80 tahun. Ia menghembuskan nafas di negeri yang ia cintai, Indonesia, tepatnya di Batu, Malang, Jawa Timur. Beruntung enam tahun sebelumnya, memoar ini sudah diterbitkan terlebih dahulu dalam bahasa Jepang, karena memang awalnya ide menerbitkan buku ini datang dari orang Jepang yang bernama Endo Chiho, seorang editor di penerbit NTT, Jepang, dan ditujukan kepada mahasiswa-mahasiswa Jepang untuk mengetahui bagaiamana seorang peneliti Barat bekerja. Bersama mahasiswa Jepang bimbingan Om Ben sendiri, Kato Tsuyoshi, kemudian ia mengerjakan penulisan memoar ini dalam jangka waktu yang cukup panjang. Adiknya, Perry Anderson aka Rorry kemudian membujuknya untuk menerbitkan buku ini dalam bahasa Inggris melalui penerbit yang ia pimpin, Verso.  Sebuah keberuntungan barangkali, buku ini kemudian juga terbit dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan oleh Ronny Agustinus melalui penerbit Marjin Kiri. Buku ini merupakan otobiografi dari seorang peneliti besar, satu sumbangsih bagi dunia akademisi dan intelektual dunia tentang sehimpun kisah hidup seorang peneliti mengerjakan kerja lapangannya. Buku ini terdiri dari enam bab.

Dibuka dengan kisah kelahirannya di Kunming, Tiongkok, 26 Agustus 1936, Benedict Richard O’Gorman Anderson, nama lengkapnya, lahir di tengah peristiwa politik besar yang melanda dunia – pada malam invasi Jepang atas Tiongkok Utara dan tiga tahun sebelum Perang Dunia II pecah, yang mau tidak mau membuat ayahnya berpikir untuk membawa keluarganya hijrah ke Irlandia yang netral melalui Amerika Serikat. Om Ben sempat tinggal di Amerika Serikat, tumbuh dan  besar di Irlandia, sekolah di Inggris, mengajar di Amerika Setrikat, dan menggarap penelitian di Indonesia, Siam (Thailand) dan Filipina, lahir dari pasangan orang tua yang mampu memberikan akses perpustakaan dengan koleksi buku yang lintas budaya, bahasa dan sejarah. Tale of Genji dan The Pillow Book of Sei Shonagon karya terjemahan Arthur Waley habis dibaca saat usia 14 tahun. Ibunya, Veronica Bigham, membuatnya mengakrabi bahasa Latin. Keputusan tersebut diamini Ben kecil, yang memang memiliki ikatan kuat dengan bahasa. Kelak ia bekerja dengan berbagai macam lintas bahasa. Selain bahasa, sastra, teater dan film juga membuat ia dengan mudah terikat kepada berbagai tempat. Dari hal tesebut pula kesadaran politis dan sikap egaliternya terbentuk. Pengalaman intoleransi Agama, perjuangan kelas, diskriminasi rasial, dan pergolakan politik saat itu, turut pula membentuk sikap kekiriannya, menjadi seorang anarkis, anti-imperalisme dan kolonialisme, serta menjunjung tinggi persamaan kelas.

Om Ben bersekolah di Eton dengan sistem kurikulum yang ketat, dan bagaimana ia berkesempatan bertemu kaisar Akihito di sana, kemudian berhasil mendapat beasiswa masuk Unversitas Cambridge sebagai mahasiswa studi klasik, dan lulus sebagai sarjana terbaik yang menurutnya tak berguna, sampai akhirnya ia terdampar di Unversitas Cornell berkat andil salah satu temannya di Eton. Di Cornell lah, tempat yang kemudian menjadi tempat yang mengubah hidupnya.

Tidak berisi peristiwa-peristiwa nostalgia belaka, lepas bab pertama, kita akan diantarkan dengan perkenalan Om Ben dengan orang-orang yang kelak akan berpengaruh bagi perkembangan karir intelektualnya, seperti George Kahin, John Echols, Claire Holt, Harry Benda, Ruth McVey, Herbert Feith, Dan Lev, dll. Terutama Kahin, seseorang yang menurut Om Ben memiliki pemikiran dan sikap politik yang progresif, berkomitmen terhadap keadilan, dan bertenggang rasa terhadap perbedaan, kelak sangat memperangaruhi dirinya dalam memutuskan apa yang hendak diperbuatnya dalam hidup: menjadi profesor, menggarap riset, menulis dan mengajar, dan menhgikuti jejak Kahin dalam orientasi akademik maupun politik (hal.31). Bersama dengan orang-orang tersebut, Ben merinitis studi, yang  mana di Amerika Serikat disebut kajian wilayah, khusunya tentang Asia Tenggara. Universitas Cornell, tempat di mana ia mengajar, merupakan satu dari dua universitas yang ditunjuk untuk merintis program tersebut, selain Universitas Yale.

Kajian wilayah bukanlah program yang diperhatikan sebelum Perang Dunia II meletus, Amerika Serikat hanya terbatas mempelajari negara-negara Eropa karena dianggap sebagai kiblat ilmu pengetahuan, mempelajari Uni Soviet karena lawan ideologi mereka, Jepang karena kekuatan militernya, dan hanya sedikit dari mereka yang mempelajari daerah lain, seperti India, Indonesia dll. Dan bagaimana Amerika Serikat pada saat itu, hanya mengurusi “halaman belakannya sendiri”. Kemenangan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kajian wilayah, dikarenakan minimnya pengetahuan Amerika tetang negara-negaa tersebut – khsususnya negara-negara Asia Tenggara. Sementara secara politik, Amerika Serikat didaulat mempunyai peran kunci. Di sisi lain, kajian-kajian tentang Asia  Tenggara terbaik yang pernah ada adalah hasil para birokrat-birokrat kolonial yang masih banyak kekurangan di dalamnya, semisal tak mencakup sekian wilayah koloni yang ada, juga kurang mendalamnya kajian seputar politik dan ekonomi. Om Ben bersama para peneliti yang lain, mesti memulai kerja mereka dengan membaca teks-teks yang berbahasa asli bangsa kolonial tersebut, misal Belanda dan Prancis. Oleh kaenanya, mulai saat itu negara mulai mencurahkan banyak sumber dana bagi program-program kajian wilayah. Yayasan swasta raksasa, seperti Rockefeller dan Ford, pun turut mengucurkan dana untuk program tersebut.

Masuk bab ketiga, Om Ben bercerita tentang pekerjaan lapangannya yang meliputi tiga negara: Indonesia, Siam dan Filipina. Bab ini jelas menjadi bab paling menarik bagi saya, dan saya pikir akan menjadi favorit juga bagi kebanyakan pembaca buku ini. Bagaimana ia langsung banyak mengalami gegar budaya dalam hari pertamanya di Jakarta (hal. 64-66). Om Ben bercengkerama dan melakukan wawancara dengan beragama orang dari yang paling kiri sampai yang paling kanan, ia akrabi, guna menggarap data untuk risetnya. Om Ben juga memandang Indonesia sebagai sebuah negara yang egaliter, di mana masyarakat Indonesia bisa berkumpul dalam satu tempat tanpa mempermasalahkan latar belakangnya. Sesuatau yang tidak ia temukan ketika hidup di Irlandia, Inggrsi dan Amerika Serikat yang rentan dengan diskriminasi ras.

Sebelum geger persitiwa 65 merebak, Om Ben sudah kembali ke Amerika Serikat pada tahun 1964. Peristiwa tersebut memantiknya untuk menulis tesis tentang peristwa naas itu bersama temannya. Ia pula termasuk orang pertama kali yang menuding militer terlibat dalam peristiwa kelam tersebut. Di kemudian hari, tesis yang berjudul “Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia” tersebut bocor, oleh sebab itu terhitung tahun 1972, ia dilarang masuk Soeharto sampai “diktator” tersebut lengser pada tahun 1998. Namun, berkat pelarangan tersebut, ia bisa mengenal Siam dan Filipina sebagai daerah kajiannya yang lain. Beruntung, jauh sebelumnya, ia pernah mewawancarai Laksamana Maeda di Hotel Des Indes, Indonesia, pada tahun 1962. Orang Jepang pertama yang ia ajak bicara dan wawancara, sekaligus orang yang punya sumbangsih terhadap kemerdekaan Indonesia. Betapa senangnya ia. Bagaimana korespondensinya dengan lima orang Indonesia – Ben Abel, Benny, Yudi, Komang, dan Pipit, yang memberikan Om Ben akses untuk tetap terikat dengan Indonesia dan mengikuti perkembangan Indonesia, walaupun masih dicekal masuk oleh rezim Soeharto. Terutama ceritanya dengan Pipit sungguh sangat menarik, sedikit ngeri, lucu, juga membuat “ngakak”. Pipit inilah yang kemudian berjasa membuat Om Ben mendapat semacam ilmu baru untuk gaya tulisannya. Dari pengauh Pipit juga ia kemudian banyak menulis satir dengan menggunakan gaya bahasa campuran yang “nyelekit”. Ingatan saya langsung tertuju dengan catatan Eka Kurniawan di salah satu blognya, bahwa tidak seharusnya kata-kata dibunuh[2], dan Om Ben tidak melakukan hal demikian ketika menulis “ngaceng” untuk Jenderal Benny Moerdani (hal.104). Hubungannya dengan orang-orang tersebut menjadi satu dari banyak alasan membuat Om Ben tetap mempunyai ikatan istimewa dengan Indonesia. Kelak di kemudian hari, saat ia menerima penghargaan seumur hidup dari American Association of Asian Studies pada tahun 1998, dalam pidatonya ia turut memboyong kedua anak angkatnya,  Benny dan Yudi, ke atas panggung dan berdiri di sampingnya sembari berkata kepada para hadirin, bahwa  yang membedakan spesialis kajian wilayah dari ilmuwan-ilmuwan di disiplin kajian wilayah adalah ikatan emosional yang dirasakan pada tempat-tempat dan orang-orang yang dipelajari. Perkataan sentimental tersebut tak pelak diganjar tepuk tangan penuh simpati oleh para hadirin (hal.162).

Meremas otak, tentu saja hal tersebut bukanlah sesuatu hal yang berlebihan jika selesai membaca bab empat dan lima. Om Ben menjelaskan tentang mekanisme komparasi dalam penelitiannya beserta kerangka ilmiahnya. Penilaiannya terhadap nasionalisme Amerika yang eksepsionalis dan secara sarkas ia menyebut Amerika dengan mentalitas “katak di bawah tempurung” – yang membuatnya jarang menemukan mahasiswa Amerika bisa menyebutkan entah nama Presiden Meksiko atau Perdana Menteri Kanada (hal.108), juga pengalamannya mengajar selama tiga puluh lima tahun di Cornell di bawah dunia akademis AS, di tambah kekeselannya terhadap para pejabat Amerika yang sok memandang rendah orang Indonesia, turut mengilhami pemikirannya untuk melakukan perbandingan dengan menyelami berbagai macam disiplin di luar disiplin keilmuannya; sejarah, politik dan ekonomi. Hal tersebut pula yang kelak melatarbelakangi karya pertamanya yang bersifat komparatif, sebuah artikel berjudul “The Idea of Power in Javanese Culture”, dan tentu magnum-opus-nya, Imagined Communities. Mulainya kapitalisme industri banyak memberikan perubahan besar,I lmu pengetahuan dan  pendidikan pun menjadi wilayah yang terkena dampaknya. Industrialisasi tersebut membuat negara bertanggung jawab terhadap pendidikan bagi masyarakat untuk yang pertama kalinya dalam sejarah (hal.133). Pengaruh globalisasi yang membuat semakin banyaknya mahasiswa asing yang datang ke Amerika Serikat, juga tentang Imagined Communities yang mendapat respon berbeda di Amerika Serikat dan Inggris. Dua bab ini akan memaksa kita mencerna bagaimana kajian wilayah digeluti, tetapi di sisi lain, akan turut merentangkan wawasan kita tentang kerangka perbandingan dan interdisipliner yang dibahas oleh Om Ben melalui dua bab tersebut.

Memasuki bab terakhir, Om Ben menulis tentang masa-masa pensiunnya. Bagaimana ia kembali menilik cita-cita masa mudanya untuk menjadi seorang novelis, tetapi merasa minder akan kemampuannya di ranah tersebut, dan justru malah membawanya menghasilkan satu buku yang berjudul Under Three Flags: Anarchism and The Anticolonial Imagination pada tahun 2005. Buku tersebut sudah terbit juga melalui Marjin Kiri dan diterjemhakan oleh penerjemah yang sama: Ronny Agustinus. Mendapat penghaagaan Fukuoka Prize, dan oleh karenanya bisa menghabiskan waktu bersama Pramoedya Ananta Toer yang juga diganjar penghargaan puncak anugerah tersebut (hal.162). Hal menarik lainnya adalah ketika  ia kembali meneruskan pelacakan informasi buku yang pernah ia temukan dulu dari toko buku loak di Jakarta, berjudul Indonesia Dalem Api dan Bara yang ditulis oleh seseorang dengan nama pena Tjamboek Berdoeri, yang sempat terhenti karena pencekalannya. Perlu digaris bawahi, bagi Om Ben buku tersebut adalah buku terbaik Indonesia yang ditulis tentang tahun terakhir kependudukan Belanda, tiga setengah tahun pendudukan Jepang dan dua tahun pertama Revolusi Bersenjata. Hingga pada akhirnya atas bantuan seorang kawan, buku tersbut bisa kembali diterbitkan pada tahun 2010 (hal.169-175). Juga pertemuannya dengan Eka Kurniawan dan penilaiannya terhadap penulis tersebut, dan bagaimana ia menjadi satu dari beberapa orang yang memaksa  dan membantu Eka menerjemahkan karya-karyanya (hal.1979). Nantinya dari tulisan Eka, diketahui bahwa cerpen Eka yang berjudul Corat-coret di Toilet, pernah diterjemahkan oleh Om Ben sendiri[3].

Tidak ada hal yang paling pantas untuk menjadi sebuah renungan kalau membaca bab penutup ini. Om Ben membandingkan zaman di mana perpustakaan menjadi tempat ekplorasi yang memberi pengalaman unik dalam proses studi seseorang, mulai dari proses mencari, mengumpulkan, menata, menyimpan, dan mengolah informasi yang semua dilakukan manual, dengan zaman sekarang yang mana semua orang nyaris menjadikan Google sebagai Agama baru. “Apa guna mengingat, menghafal dan sejenisnya? Kan tinggal dicari!” sebuah refleksi menohok yang pantas untuk dikontemplasikan.

Bukan Om Ben kalau dalam tulisannya tak didapati hal-hal konyol nan menarik. Seperti kebiasannya memasukan anekdot-anekdot, lanturan-lanturan, sarkasme, atau gurauan-gurauan dalam setiap tulisannya. Gaya kepenulisannya yang demikianlah itu yang membuat buku ini tidak hanya sebagai otobiografi yang kaku dan berat, tetapi juga menarik serta menghibur. Zen RS benar tentang pendapatnya tentang Om Ben di salah satu esainya, bahwa Om Ben, melalui kutipan-kutipan novel mampu menulis sejarah dengan tidak membosankan, tidak hanya berisi nama-nama tokoh pahlawan dan tanggal-tanggal peristiwa melulu[4], dan Om Ben pun berhasil berbuat demikian untuk buku ini. Selain itu, kisah-kisah kecil menarik hidupnya seperti bagaimana ia dipukuli setelah mewek berlinang air mata menonton Tokyo Story nya Ozu (hal.20), digelandang Guardia Civil – Polisi Spanyol – saat melancong dan berenang di pesisir pantai utara  Spanyol (hal.21), sumbangsihnya terhadap bahasa Indonesia melalui kata “bule” (hal.76 & 77), atau fakta menarik tentang orang pertama yang menyusun kamus Indonesia-Inggris (hal.39) menggenapkan buku ini sebagai buku yang sayang untuk dilewatkan.

Seperti apa yang Endo Chiho katakan, bahwa sangat perlu kisah hidup seorang peneliti untuk diketahui oleh calon para peneliti muda Jepang, sekiranya hal tersebut perlu juga untuk diamini oleh para calon peneliti di Indonesia, bahkan dunia. Membaca buku ini, minimalnya saya sendiri, membentuk kesadaran akan pentingnya bahasa dan terjemahan. Hanya saja buku ini tidak dilengkapi dengan footnote yang memadai untuk memudahkan pembaca awam. Mengingat banyak sekali nama tokoh-tokoh dan judul buku yang dikutip Om Ben di sini. Tetapi buku ini tetap layak untuk dibaca, tidak lain karena akan banyak menemukan beragam referensi yang sayang sekali untuk tidak dicari tahu. Bagi yang awam terhadap Om Ben, tentu buku ini adalah medium perkenalan yang bagus. Bagi mereka yang sudah mengenal lama Om Ben, sudah pasti akan lebih akrab dengan “sardjana ngawur” ini.

Terakhir, buku bagus ini tidak akan seru dan renyah dibaca tanpa penerjemahan yang bagus pula oleh Ronny Agustinus. Hal tersebut sudah dapat didapati semenjak awal buku ini dibuka,  bagaimana Ronny memakai diksi “bokap” dan “nyokap”. Sungguh sebuah usaha yang menarik yang patut ditiru oleh para penerjemah lain. Catatan ini ada baiknya ditutup dengan slogan yang bagus nan sedikit menggelitik: Katak-katak dalam perjuangan mereka untuk emansipasi hanya akan kalah dengan mendekam dalam tempurungnya yang suram. Katak sedunia, bersatulah!

 

[1] John Roosa, “Obituari: Benedict Anderson (1936-2015)” diterjemahkan oleh M. Zaki Hussein dari judul asli “Benedict Anderson (1936-2015)”, diaskes dari https://indoprogress.com/2016/08/obituari-benedict-anderson-1936-2015/, pada tanggal 3 Juli 2017 pukul 20.00.

[2] Eka Kurniawan, “Kata-kata yang Dibunuh”, diakses dari http://ekakurniawan.com/journal/kata-kata-yang-dibunuh-5045.php, pada 3 Juli pukul 21.20.

[3] Eka Kurniawan, “Obituari: Benedict Anderson (1936-2015)”, diakses dari https://ekakurniawan.com/tag/benedict-anderson, pada pukul 7 juli 2017 pukul 20.20.

[4] Zen RS, “Beta dan Om Ben Anderson”, diakses dari http://kurangpiknik.tumblr.com/post/135104050692/beta-dan-om-ben-anderson, pada 4 Juli pukul 10.00.

Tontonlah Bangumi Jepang!

Namanya adalah Rina, ia berusia 12 tahun dan hendak pergi ke Iran mengunjungi kakeknya. Kakek yang sedari ia lahir, tumbuh, dan besar di Jepang belum pernah sekalipun ditemuinya. Kepergiannya tak ditemani oleh adiknya yang  usianya terpaut 4 tahun, karena pada hari H sang adik mendadak sakit.

Singkat cerita, kepergiannya ke Iran sempat dilarang oleh ayahnya. Hal tersebut dikarenakan sang anak bermaksud menemui sang kakek yang ternyata memiliki konflik masa lalu dengan sang ayah, yang membuat sang ayah pergi dan menetap di Jepang. Kejadiannya terjadi 20 tahun lalu, dan selama itu pula sang kakek dan sang ayah tidak pernah berkomunikasi. Rina yang berkeinginan ingin merukunkan keduanya, pergi ke Iran sembari membawa seperangkat dudukan toilet ala Jepang sebagai hadiah untuk sang kakek yang diketahui sering mengalami sakit pinggang ketika “berkesenian.” Itu dikarenakan toilet di Iran adalah toilet jongkok, sama dengan toilet saya di rumah.

Cerita tersebut adalah satu dari program televisi Jepang yang dikenal dengan istilah bangumi, berjudul Nihon O Hokori Ni Omoeru. Bangumi tersebut memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk menghadiahkan produk-produk made in Japan kepada orang terdekat yang dinyana tidak ada di negara lain, dibarengi dengan latar belakang cerita menarik atau permasalahan sosial yang melibatkan sekelingkup orang-orang tersebut. Drama? Tentu bukan, ini kisah yang nyata.

***

Beberapa hari lalu, dalam salah satu tayangan televisi “berkualitas” di salah satu acara stasiun televisi swasta, terjadi konflik yang melibatkan dua pedangdut kontemporer panutan masyarakat Indonesia. Keduanya saling beradumulut tentang hal yang kalau ditimbang dengan seksama, hanya persoalan remeh-temeh yang pernah sama-sama kita pernah alami di Taman Kanak-kanak dahulu kala. Cekcok tersebut berujung pada makian dan umpatan dengan kata-kata yang seharusnya tidak muncul di layar kaca. Menggelikan? Ya. Saya sendiri tak habis pikir, kenapa mereka kok bisa berkata sedemikian “sopan” di layar kaca. Terlebih  lagi satu diantaranya mengeluarkan kata-kata binatang. “Ini bagaimana kalau anak-anak kecil maniak dangdut menonton?” pikirku.

Semenjak tayangan televisi Indonesia hanya diisi sinetron melulu, hasrat untuk memiliki televisi flat 33 inch barangkali tak lebih hanyalah olok-olok belaka. Kalau dikualifikasikan dengan skala prioritas, hal tersebut bahkan tidak masuk dalam skala tersier, mungkin sepuluh level lebih  rendah dari itu, sebut saja “mermier (?).”

Sebagai anak sastra Jepang, bangumi Jepang sangat efektif bagi saya dalam belajar bahasa Jepang, juga sangat memberikan pengaruh signifikan bagi perkembangan skill bahasa Jepang saya. Hal itu karena pada bangumi tersebut terdapat jimakusubtitle dalam huruf kana dan kanji – yang muncul di layar sesuai dengan apa yang dibicarakan talent tersebut.

Bukan hanya itu, yang menarik dari bangumi Jepang adalah sajian pembahasannya yang menarik. Mereka bisa saja mengangkat isu sosial, seperti tentang pendidikan, budaya, teknologi dll, atau mengulas habis-tuntas hal-hal sepele yang sangat tidak mungkin sekali dihadirkan di program televisi Indonesia. Acara-acara kebanyakan dibuat dengan format talk-show, jadi talent yang tampil di acara tersebut saling berbincang dan berbalas berpendapat. Salah satu yang paling sering hadir adalah Dewi Fujin, istri almarhum Presiden Soekarno.

Misalnya, dalam acara You Wa Nani O Shi Ni Nippon E, acara yang mewawancarai para turis tentang alasan kedatangan mereka ke Jepang. Saya mendapat banyak sekali sudut pandang orang-orang mancanegara tentang Jepang, pun sebaliknya. Bagaimana orang-orang tersebut hanya punya alasan sederhana untuk mendatangi negara yang budayanya mereka cintai. Ada yang hanya untuk sekadar berwisata, ada yang datang untuk kuliah, bahkan ada yang datang hanya untuk berkunjung ke tempa-tempat kecil yang sama sekali tidak dikenal masyarakat luas.

Satu episode pernah menayangkan dua orang backpacker asal Norwegia yang hanya memiliki budget terbatas, ingin menjelajahi Jepang dari ujung Hokkaidou sampai Okinawa. Anehnya mereka hanya datang dan tidak tahu harus pergi ke mana, atau tempat seperti apa yang ingin dikunjungi. Pada akhirnya, buku panduan yang mereka bawalah yang diajadikan acuan, mereka membuka halaman secara acak dan pergi ke tempat yang ada di halaman tersebut.

Episode lain menayangkan tentang seorang pemuda asal Inggris yang berencana melakukan perjalanan dari Kagoshima sampai Tokyo hanya dengan berjalan kaki. Dengan jarak sejauh itu, mungkin akan selesai ditempuh dengan waktu hampir enam bulan. Walaupun pada akhirnya perjalanan sang turis hanya bertahan dalam waktu seminggu, karena setelahnya ia menghilang tanpa pamit. Kegagalan misinya tersebut adalah kali ke-2, setelah tahun sebelumnya juga gagal. Bagi saya itu sangat luar biasa, bahwa ada dan masih banyak orang datang dari berbagai negara ke Jepang tidak hanya berkeinginan untuk berpose di Asakusa, Tokyo Tower, dan Sky Tree, atau berwisata menikmati gunung Fuji, sakura, salju, dan bahkan Tokyo Dome belaka.

Acara lain yang juga menarik adalah Nihon E Ikitai Hito Ouendan, yaitu acara yang memberikan kesempatan bagi mereka warga mancanegara untuk datang ke Jepang. Pihak bangumi ini pergi ke berbagai negara dan mencari orang yang sangat ingin sekali datang ke Jepang dan mengundangnya untuk datang ke Jepang, gratis! Sebuah apresiasi yang sangat mengharukan kepada orang-orang yang mencintai Jepang. Hal ini tentu mustahil dilakukan oleh stasiun televisi kita. Saya pun berandai-andai didatangi oleh pihak bangumi tersebut, semoga.

Tidak hanya acara yang mengekspos orang mancanegara yang datang ke Jepang, ada acara yang justru mengekspos orang Jepang di luar negeri. Pergi ke berbagai macam negara dan mencari orang Jepang yang tinggal di negara tersebut. Seperti Sekai Naze Soko Ni Nihonjin dan Sekai No Nihonjinzuma Wa Mita, yang saya sebut terakhir adalah acara yang mengulas tentang perempuan yang menjadi istri orang asing di mancanegara.

Suatu ketika ada tayangan tentang perempuan yang menjadi istri dari orang Korea Selatan yang karena urusan pekerjaan menetap di satu negara kecil, Malta. Pada saat itu, mereka sedang membangun sebuah rumah, sang istri langsung turun tangan membantu pembangunan rumahnya, turut dibantu juga oleh para tetangga sekitar. Dari episode ini saya menjadi tahu, bahwa di Malta, membantu tetangga membangun rumah tanpa dibayar adalah sebuah budaya turun temurun dan sudah menjadi kebiasaan, bahkan kewajiban. Ada satu kebanggan bisa mengetahui kesamaan budaya yang positif dengan bangsa lain. Sama halnya dengan Indonesia, khususnya di tempat kelahiran saya kurang lebih demikian.

Yang menjadi pertanyaan adalah si suami tidak berada di sana ikut membangun rumah mereka. Ternyata sang suami sedang bekerja di negara asalnya, Korea Selatan, dan hanya sebulan sekali mengunjungi mereka di Malta. Itu karena project yang ia kerjakan di negara tersebut mangkrak akibat dana pembangunannya dikorupsi oleh pejabat setempat, yang mengakibatkan demo besar-besaran di Malta, juga menyebabkan ia kehilangan pekerjan dan terpaksa bekerja di luar. Pilihan pulang ke kampung halaman pun tidak bisa, sebab rumah yang mereka bangun belum rampung. Alhasil mereka bertahan hidup di sana dengan hutang yang cukup besar atas pinjaman dari bank saat pertama kali membangun rumah.

Kali ini dari Indonesia, bagaimana cerita perempuan Jepang bisa menikahi pemuda Indonesia di Bali. Bermula saat sang perempuan memutuskan untuk pergi ke Indonesia dan jatuh cinta terhadap budaya Indonesia, khususnya Bali. Sehingga membuat ia berpikir untuk membuka bisnis di Bali. Namun, usaha tersebut tidak langsung berjalan mulus, karena justru ia ditipu oleh rekan bisnisnya dari Indonesia saat membangun sebuh cafe. Semua jerih payah dan uang yang ia kumpulkan saat itu ludes, apalagi dalam waktu yang berdekatan, ayahnya di Jepang dikabarkan meninggal, hingga membuatnya berpikir untuk bunuh diri. Saat-saat seperti itu datanglah seorang pemuda slengean nan riang kepadanya. Pemuda tersebut membantunya dari segala kesusahan yang ia dapatkan saat itu, sampai akhirnya ia menikah dengan pemuda tersebut dan membangun keluarga sederhana di Bali sampai sekarang.

Dalam hal lain, saya mendapatkan pelajaran tentang mengakui kesalahn dan maaf maemaafkan dari sebuah bangumi reality show yang menayangkan game untuk bertahan hidup di sebuah pulau kosong selama satu bulan tanpa peralatan yang memadai. Ada adegan saat keduanya seharian tidak mendapatkan makanan yang cukup, dan mereka hanya mendapatkan jeruk yang harus dibagi rata dan dimakan secara terbatas untuk beberpa hari, salah seorang di antara mereka malah diam-diam mengambil jeruk tersebut untuk di makan sendiri pada malam hari saat yang lain tengah tertidur lelap. Kejadian tersebut tidak terungkap sampai game tersebut selesai. Namun, akhirnya sang pelaku mengakui perbuatannya kepada temannya tersebut saat berbicara di sesi kesan-kesan mereka terhadap game tersebut. Air mata bercucur deras mengalir dari sang pelaku saat meminta maaf, ia sangat merasa bersalah.

Masih banyak bangumi Jepang yang mempertontonkan sisi-sisi kecil dari belahan dunia atau budaya Jepang itu sendiri. Bagi saya, mengetahui dan melihat hal tersebut adalah suatu keberuntungan. Sangat edukatif secara wawasan dan emosi. Pengemasan acara-acara tersebut bagi saya sangat menarik. Mungkin memang adanya bangumi-bangumi tersebut merupakan salah satu reward orang Jepang terhadap orang-orang yang mencintai budaya negaranya, di samping kepentingan komersil.

***

Setelah mengetahui cerita dari versi kakeknya, dan membandingkannya dengan cerita yang selama ini ia dengar dari ayahnya, Rina menyimpulkan bahwa hal tersebut hanyalah kesalahpahaman belaka. Kejadian yang mengejutkan adalah ketika pada akhirnya sang ayah juga datang ke Iran setelah 20 tahun berselang, dan bertemu dengan ayah yang selama 20 tahun tak pernag bertemu dan bersua. Walalupun sempat terjadi perdebatan sengit, tetapi akhirnya mereka saling memaafkan atas kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu. Rina pun turut menangis, impiannya tercapai.

Satu hal yang menarik dari perjalanan Rina ke Iran adalah saat ia membeli jus buah di siang yang terik dan bermaksud memberikan apresiasi atas jus yang dinyana segar nan enak yang ia minum dengan cara mengangkat tangan dan memberikan jempol kepada sang penjual, tapi apa yang Rina dapatkan? justru yang ia dapat adalah sebuah bentakan dari sang penjual. Selidik punya selidik, ternyata di Iran, jika ada yang mengakat jempol, merupakan sebuah hal yang tak sopan, bahkan berarti sebuah penghinaan.

Jadi, kalau Dewi Persik tempo hari mengumpat “Anjing” kepada Nassar, para talent bangumi mah tidak bakalan pernah mengumpat “Inu!” ke talent lain. Ada juga mereka bilang “Asu”, tetapi itu pun berarti besok, bukan “Anjing”. Asu!

How Amazing Japan: Kata Mereka Itu Bukan Jepang!

Beberapa hari lalu, setelah kali terakhir di Februari 2016, saya kembali ke Stasiun Pasar Senen. Ada yang tampak beda, berdiri sebongkah mesin penjual minuman otomatis. Sontak saja ingatan tertuju ke medio pertengahan Desember 2010, tepat saat pertama kali saya memijakan kaki di negara matahari terbit, Jepang. Kala itu juga pertama kalinya melihat dan merasakan manfaat mesin penjual minuman otomatis, jidouhanbaiki.
Namun, ada perbedaan mencolok tentang jidouhanbaiki di Jepang dan Indonesia. Jidouhanbaiki di Jepang sudah ada sejak tahun 60-an, pun jenisnya beragam, tak hanya sebatas menjual minuman belaka, benda lain pun dijual, seperti payung, rokok, makanan, bahkan celana dalam, dan lain-lain. Mesin tersebut bisa melayani dan memenuhi kebutuhan secara urgent bak robot yang pintar nan jenius. Bahkan ada yang ketika hendak didekati saja, si mesin mengucapkan salam dengan bahasa yang santun, sungguh sangat praktis! Berbeda dengan mesin yang ada di Indonesia, yang dijaga oleh seorang penjual di samping mesin tersebut. Walaupun saat kita dekati sama-sama bersuara, tentu suara tersebut datangnya berasal dari sang penjual yang akan melayani dan menanyakan kita hendak membeli apa.

Perbedaan tersebut membuat saya menaruh kagum terhadap Jepang, bukan karena perbedaan kecanggihan mesinnya, tetapi lebih kepada hal, pada aspek tertentu, ternyata kejujuran orang Jepang sudah sampai pada level yang jauh dari orang Indonesia. Bayangkan kalau di Indonesia seperti itu, mungkin yang akan hilang bukan hanya saja minuman-minuman yang berderet menghiasi mesin tersebut, tetapi uang dan mesinnya pun bisa raib dicuri masyarakat kita.

Dalam kasus lain yang kurang lebih serupa, suatu kali saya melewati jalanan berkendara dengan mobil. Orang Jepang yang pergi bebarengan dengan saya seketika berhenti dan turun dari mobil untuk menghampiri sebuah tempat penjualan. Saat itu ia hendak membeli lobak, dengan hanya mengambil lobak dan menaruh uang begitu saja, ia kembali ke dalam mobil. Kejadian tersebut sungguh membuat saya tidak habis pikir, bisa-bisanya orang Jepang menjual dagangan mereka hanya dengan menaruh, menulis harga dan kemudian meninggalkannya tanpa seorang pun penjaga di jalanan umum.
Dua peristiwa kecil tesebut adalah hal yang pertama kali mengenalkan Jepang secara langsug dan membuat kagum saya terhadap Jepang dari segi budaya masayarakatnya.

Saya bukan orang yang menyukai tentang kejepangan, tetapi satu dan beberapa hal membuat saya bisa bersinggungan dengan Jepang. Semua berawal ketika saya diterima sebagai pemagang untuk bekerja di Jepang. Semua bayangan indah tentang Jepang semacam menjalar-akut di otak, dengan sedikit tertawa jahat “kemenangan gue raih, dibanding lo yang dari dulu ngidamin Jepang, akhirnya gue bisa pergi ke Jepang” ejek saya ke salah satu teman dekat yang benar-benar mencintai Jepang. Saat itu pula saya mulai belajar bahasa Jepang. Tetapi saat bersamaan, pegumuman SNMPTN menyatakan bahwa saya diterima di salah satu PTN di Jawa Tengah. Mau tidak mau saya harus memilih salah satu dan menanggalkan opsi lainnya. Akhirnya kesempatan pergi ke Jepang lah yang dipilih, dan dengan berat hati “membakar” bangku kursi kuliah yang sudah didambakan sejak dulu.

Berbicara tentang Jepang, tentunya akan identik dengan Tokyo, Kyoto, sakura, shinkansen, Gunung Fuji, Disney Land, Disney Sea, Universal Studio, samurai, anime, manga, sushi, dan jenis budaya populer lainnya. Saya sendiri langsung teringat dengan produk transportasi cepat mereka, yaitu shinkansen, pernah sejak kecil punya impian suatu saat akan menaiki kereta cepat tersebut. Tetapi apa yang saya dapat dari Jepang adalah bertolak belakang dari apa yang digambarkan masyarakat umum tentang negara tersebut.

Saya bekerja di sebuah kapal perikanan di salah satu tempat yang bernama Omaezaki. Aktivitas pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga tidak memungkinkan bagi saya dan teman lainnya untuk “sekadar” melakukan wisata ke tempat-tempat terkenal di Jepang. Alih-alih untuk berwisata mengisi waktu liburan, untuk mengistirahatkan badan pun sulit. Dalam setahun, 10 bulan mengarungi laut, walaupun sering ke darat, tapi tidak lebih hanya untuk menjual dan membongkar hasil tangkapan. Sementara 2 bulan lainnya dihabiskan di daratan, itu pun dibebankan dengan pekerjaan lain, seperti mengecat kapal, membereskan gudang kapal, dan lain-lain.

Gunung Fuji adalah sedikit hal yang bisa menolong, karena letaknya yang berada di Prefektur yang saya tinggali, Pref.Shizuoka. Setiap hari andaikata kebetulan sedang berada di Omaezaki, keindahan gunung tersebut selalu tampak dan bisa dinikmati dari pelabuhan. Sampai sekarang pun saya masih menganggap bahwa gunung tersebut adalah yang terindah yang pernah saya lihat. Hal lain yang juga sedikit mejadi pelipur lara adalah ketika pertama kali merasakan hanami –menikmati sakura yang bermekaran– saat datangnya musim semi di salah satu daerah pesisir pantai di Hamaoka untuk pertama dan terakhir kalinya. Sebab di musim semi tahun berikutnya dan berikutnya adalah periode di mana kapal sedang mendapat hasil tangkapan melimpah dengan daerah penangkapan yang jauh, sehingga sangat mustahil untuk libur dan menikmati keindahan sakura yang sangat singkat itu. Pengalaman tersebut sangat gamblang menggambarkan filosofis bunga sakura sebagai mono no aware, yang berarti perlambangan tentang kesedihan. Saya sedih hanya sesingkat itu bisa memegang dan menikmati sakura dalam waktu tiga tahun.

942151_417783058331266_70983594_n
Kapal Dai 10 Jintoku Maru, Arsip pribadi

Masih ingat dengan tsunami 11 Maret 2011 yang melanda daerah Tohoku? Tsunami yang dianggap sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Jepang. Dua hari sebelum terjadi tsunami dahsyat tersebut, saya naik kapal untuk pertama kali. Saat kejadian, saya tengah berada di tengah laut, menerima kabar tersebut dari informasi radio yang diterima oleh juru komunikasi kapal. Betapa kaget dan shock-nya waktu itu, perasaan pasrah sudah memenuhi isi hati dan pikiran. Baru dua bulan di Jepang dan baru saja naik kapal untuk kali pertama sudah dihadapkan dengan hal yang sungguh di luar kehendak manusia. Pikiran saya tertuju kepada keluarga, yang jelas mereka pasti menganggap saya tersapu tsunami, atau minimal tewas dengan mayat yang bertumpukan dengan mayat lain. Enam hari setelah tsunami tersebut, trip pertama berhasil dituntaskan dan akhirnya bisa masuk ke pelabuhan. Ibu yang sesegera mungkin saya telpon, larut dalam isak tangis yang meluluhlantak. Saat itu hanya bisa bertanya pada diri sendiri, apakah saya benar-benar sedang di Jepang?

September 2011, enam bulan setelah bencana tersebut, kapal saya masuk ke pelabuhan Kesennuma, satu dari sekian banyak tempat yang diterjang tsunami. Hal tersebut merupakan hal lazim, karena terhitung dari september sampai november setiap tahunnya, mengikuti pergerakan dan musim ikan yang semakin naik ke daerah perairan atas mengikuti perubahan musim, kapal-kapal penangkap ikan cakalang sering menjual dan melelang ikan tangkapannya di pelabuhan tersebut. Kondisi Kesennuma yang saya lihat via YouTube enam bulan sebelumnya dengan apa yang saya lihat langsung saat pertama kali masuk ke pelabuhan tersebut sangat berbeda. Mobil-mobil bekas yang hancur tersusun dengan rapih secara menumpuk di suatu tempat pembuangan, di beberpa tempat terlihat sedang digalakan reinfrastructure, menunjukan bahwa progress penanganan bencana  di Jepang itu sangat cepat. Saya masih ingat kapal besar jenis purse sein yang sampai terhempas ke daratan selama berbulan-bulan pada akhirnya dipotong dan bongkahannya dipindahkan entah kemana. Satu pengalaman yang membuat saya juga kagum terhadap Jepang. Tak diragukan.

images
sumber: http://www.takebeyoshinobu.com/?cat=19&paged=4

***

Setiap hari menjalani rutinitas pekerjaan sebagai kewajiban di tengah laut, patut diakui membuat jenuh. Terlebih lagi melihat postingan teman-teman yang bekerja di darat, selalu memposting foto-foto jalan-jalan mereka di media sosial. Seorang teman memposting foto-foto mereka di Tokyo Tower, ada yang sedang selfie di patung gundam di Odaiba, ada yang sedang bermain ski di atas es yang licin, ada yang juga sedang berkunjung ke festival Gion yang terkenal dari Kyoto itu, da nada pula yang tempat tinggalnya dihujani salju dan beberapa mereka memamerkannya dengan penuh suka cita. Untuk yang terakhir saya tuliskan, lagi-lagi hanya sebuah impian belaka, kalimat “Akhirnya saya punya kesempatan memegang dan menjilat salju!” yang sudah jauh-jauh hari ingin diucapkan dan sudah terbayangkan semenjak berada di Indonesia tidak pernah terucapkan, karena kebetulan Omaezaki adalah tempat yang tidak disinggahi salju.

Sebagai orang yang bekerja di laut, bukan berarti saya juga tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, walkhusus tentang suatu tempat, mungkin banyak teman-teman atau masyarakat umum lainnya tidak bisa mengunjungi tempat yang saya bisa kunjungi.. Misal, Hachijou-jima, pulau yang membentang luas yang di dalamnya terdapat sebuah bandara. Pulau ini termasuk ke daerah teritorial ibu kota Tokyo. Saya selalu suka dengan dengan pulau ini karena ketika malam datang, pulau ini berwarna dengan beragam warna lampu. Pulau ini juga sering dijadikan patokan perkiraan waktu tiba ke pelabuhan. Kalau sudah kelihatan pulau ini, otomatis waktu tiba ke pelabuhan tak lama lagi. Saat itu saya selalu senang, karena akhirnya saya masuk darat setelah bekerja penuh peluh di lautan. Perasaan tersebut selalu berulang sama.

Kalau berlayar lebih ke arah utara lagi, kita akan menemukan Aoga-shima, yaitu sebuah pulau yang berbentuk seperti gunung merapi, karena terdapat lembah di dalamnya. Sama halnya dengan Hachijou-jima, pulau ini juga berpenghuni dan merupakan wilayah teritorial ibu kota Tokyo. Sekeliling pulau tersebut sering dijadikan daerah penangkapan.

Selain dua pulau di atas, pemadangan indah nan bagus juga akan kita dapati di sebuah gugusan karang yang menjulang tinggi nan megah, Shofu,  juga di Tori-shima. Khusus untuk Tori-shima, tampak seperti bukit landai yang tandus. Konon di pulau tersebut juga pernah dijadikan sebagai markas militer tentara Amerika Serikat.

arsip pribadi
Aoga-shima, arsip pribadi
img_1759
Aoga-shima, arsip pribadi

Bukan hanya tempat-tempat yang diceritakan di atas yang bisa saya pamerkan, tetapi  kebanggaan lain yang saya jadikan sebagai tandingan atas euforia foto-foto wisata teman-teman adalah kemampuan saya memotong ikan dan meyajikannya sebagai sashimi. Sudah merupakan hal yang sangat lumrah bagi orang yang bekerja dengan ikan sebagai objek utama, untuk bisa memotong ikan. Berbagai macam ikan dengan tingkat kesulitan yang berbeda sedikit demi sedikit bisa saya potong dengan cara potong ala Jepang. Mulai dari cakalang sampai lemadang.

Berkenaan dengan pernah berpartisipasi dengan Jakarta Osoji Club –sebuah kolektif yang menjadi volunteer kebersihan sampah di Jakarta– Jepang dan sampah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bukan berarti Jepang adalah negara yang penuh dengan sampah, tentu saja di setiap negara mengahsilkan sampah. Namun, penanganan sampah di Jepang sangatlah terorganisir. Walaupun sedikit merepotkan, tetapi lagi-lagi tidak mengurangi rasa kagum saya terhadap negeri ini.

Dalam satu produk, bisa terurai menjadi bagian-nagian sampah yang tidak boleh dibuang pada satu tempat. Misal, pack-bentou, akan terurai menjadi namagomi atau moerugomi (sampah basah) dan pura (sampah plastik). Jadwal membuangnya pun tidak sembarangan, tapi sesuai jadwal yang sudah ditentukan di daerah tersebut. Misal, hari ini kita bisa membuang namagomi, tapi besok tidak bisa. Satu hal yang cukup menggelikan bagi saya adalah, untuk membuang sampah pun kita harus merogoh kocek untuk membeli plastik sampah yang dijual di convenience store dan supermarket. Plastik-plastik tersebut pun dibedakan engan beragam warna sesuai jenis sampahnya. Ribet?

Suatu kali saya berkesempatan pergi ke tempat pembuangan sampah akhir di Omaezaki, kesempatan ini saya gunakan untuk mengambil foto-foto proses sortir dan pembuangan sampah di tempat tersebut. Sama halnya dengan perlunya membeli plastik sampah, ketika hendak membuang sampah di sini pun dikenakan biaya sesuai dengan jumlah berat sampah yang ingin kita buang.

arsip pribadi

***

Sedikit telat mengetahui informasi lomba blog ini, tapi tak menyurutkan saya untuk berpartisipasi. Tiga tahun tinggal di Jepang, cerita di atas sedikit atau banyak adalah pengalaman yang saya dapatkan. Suatu kisah yang tentunya kalau saya ceritakan kepada orang lain, akan tampak bahwa saya tidak pernah pergi ke Jepang sekalipun, karena tidak bersinggungan dengan tempat-tempat dan bayangan orang secara umum terhadap Jepang. Bahkan teman saya pernah berkata “Kalau belum ke Tokyo, foto di Sky Tree dan Tokyo Tower, terus maen ke Arashiyama atau mendaki gunung Fuji, terus pulangnya naik shinkansen, lalu singgah buat main ski di atas salju, sama aja belum pernah ke Jepang kali.” Saya pernah ke Tokyo, sekedar lewat menuju Narita, ketika hendak mau pulang ke Indonesia. Waktu itu pembangunan Sky Tree belum rampung. Hanya sebatas itu.
Saya tidak bisa menghindari anggapan semacam itu, tapi dengan adanya kesempatan ini semoga His Travel Indonesiasalah satu agen travel di Indonesiabisa mengkomplitkan perjalanan Jepang saya sehingga bisa dianggap “mabrur.” Saya tidak terlalu tahu dengan His Travel Indonesia, tetapi setelah mencoba menghimpun informasi, penawaran-penawaran paket wisatanya menarik. Mereka mengemasnya dengan poster dan visual yang menggoda, setidaknya saya sebagai penikmat seni visual merasa hal tersebut perlu, bahkan sangat perlu.

Kalaupun pada kesempatan kali ini saya gagal, saya percaya masih ada kesempatan lain yang akan membawa saya ke Jepang (lagi) dan mengunjungi deretan tempat yang orang lain juga ingin kunjungi dari negara ini. Sebagai mahasiswa sastra Jepang mungkin saya punya banyak kesempatan pergi ke Jepang sebagai apapun, tetapi tentunya saya juga ingin membagi keindahan Jepang dan pergi Wisata ke Jepang bersama keluarga. Kelak jika saya sudah bekerja dan memiliki penghasilan, memakai layanan HAnavi bukanlah hal yang mustahil. HAnavi memungkinkan kita berwisata dengan mekanisme yang mudah dan harga yang lebih murah. Bagi teman-teman yang memiliki keinginan yang sama dengan saya, silakan cek langsung ke web HIS Travel Indonesia.
“Itu mah sama aja kamu gak pernah ke Jepang,” ejek tambahan teman saya dibarengi dengan ketawa yang sedikit jahat.

Ayok!

HIS Amazing Sakura - Blogger Competition

Yasunari Kawabata pt.2

Penghargaan Nobel Prize

Dalam pidato yang ia bacakan ketika mendaptakan Nobel Prize 1968, ia dengan rinci menjelaskan akar referensi yang ia dapat untuk kemudian nantinya mempengaruhi gaya kepenulisannya. Judul pidato tersebut adalah Japan, The Beautiful, and My Self.

Beberapa hal yang dianggap dari para pembacanya tentang karya-karyanya ia paparkan. Misalnya, banyak orang yang merasa bahwa upacara teh yang menjadi tema pada novel Senbanzuru merupakan sebuah pengenangan akan keindahan formal dan spiritual upacara minum teh. Ia menampik hal tersebut dan menegaskan bahwa karya tersebut merupakan karya yang negatif yang mengekspresikan keraguan tentang dan peringatan terhadap kenyataan memudarnya penjiwaan minum teh.

Dalam pidatonya berkali-kali ia mengutip sajak-sajak penyair Jepang abad pertengahan. Ryokan, Dogen, Ikkyu, Saigyo, bahkan Ryunusuke Kutagawa pun ia hadirkan sebagai satu penjelasan yang bahu membahu merepresentasikan Jepang dan dinamika kesusastraannya yang sudah berlangsung lama. Hal tersebut menunjukan luasnya pengetahuan dan referensi sastra klasik Jepang yang ia ambil untuk dijadikannya sandaran dalam karya-karyanya. Kebanyakan penyair yang ia kutip adalah seorang pendeta, khususnya mereka yag memeluk Buddha sekte Zen, sebagaimana ia sendiri. Seperti teori Watsuro Tetsuji tentang Fudo, keindahan alam Jepang yang timbul akibat perubahan ke empat musimnya menempati posisi strategis bagi Kawabata.

Satu hal yang menarik adalah, ketika Kawabata mengakui bahwa karya sastra klasik terbesar Jepang, Genji Monogatari, merupakan bacaan favoritnya semenjak remaja. Ia berpendapat bahwa karya sastra yang ditulis oleh Murasaki Shikibu tersebut memiliki pesona tinggi, sehingga banyak yang kemudian meniru dan menulis ulang karya serupa sebagai penghormatan. Karya tersebut juga merupakan sumber yang luas dan dalam bagi banyak sekali sajak, karya seni, kerajinan tangan, bahkan lanskap pertamanan, tambahnya.

Pada akhir pidatonya, ia menegaskan bahwa potret kehampaan yang ia hasilkan merupakan hal yang berdasarkan pada konsep Timur yang dilandasi oleh landasan spiritual yang sungguh berbeda dengan di Barat.

 Kematian Yasunari Kawabata dan Hal yang Tersisa

Hal yang termasuk dikutip dalam pidato Nobelnya adalah catatan Ryunosuke Akutagawa sebelum ia melakukan bunuh diri.

“Aku hidup dalam sebuah dunia dengan tekanan jiwa yang mengerikan, jernih dan dingin seperti es. Aku tak tahu kapan akan datang panggilan untuk bunuh diri. Tetapi alam bagiku lebih indah dibanding sebelumnya. Aku tak ragu bahwa kau akan tertawa melihat kontradiksi ini, karena aku mencintai alam bahkan ketika aku merenungkan tindakan bunuh diri. Tapi akan nampak indah karena sebenarnya ia datang untuk memasuki mataku pada saat-saat sekarat.”

Untuk catatan tersebut Kawabata memberi sebuah komentar dalam essai-nya yang berjudul “Pandangan Mata Saat Sekarat”.

“Betapa pun seorang teralienasi dari dunia, tetapi bunuh diri tetaplah bukan bentuk pencerahan. Betapa pun mengagumkan, tetapi orang yang memutuskan bunuh diri tetaplah jauh dari dunia orang suci.”

Kemudian ia melanjutkan komentarnya dengan sebuah pertanyaan, “Di antara mereka yang menggunakan otaknya untuk berpikir, adakah orang yang tak pernah memikirkan bunuh diri?”

Kawabata dianggap bunuh diri akibat kesedihan dan kehampaan yang dialaminya pasca kematian salah satu sahabat dekatnya, Yukio Mishima, yang juga salah satu sastrawan Jepang. Yukio Mishima mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri pada tahun 1970. Butuh waktu dua tahun untuk Kawabata mengikuti jejak temannya tersebut melalui ritual bunuh diri. Keluarga membantah Kawabata mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, mereka mengklarifikasi bahwa kematian Kawabata adalah karena ia tak sengaja menghirup gas beracun saat hendak mandi.

Pada Juli 2014, media The Japan Times menurunkan artikel tentang penemuan surat cinta Kawabata yang tak sempat terkirim kepada seorang perempuan yang bernama Hatsuyo Ito. Perempuan tersebut diyakini menjadi pengaruh Kawabata dalam menuliskan karya-karya awalanya, seperti Hijo dan Izu no Odoriko.

Napak Tilas Yasunari Kawabata

Footstep of Yasunari Kawabata adalah sebuah program yang diadakan untuk mengunjungi tempat-tempat penting yang berkaitan dengan perjalanan hidup Kawabata.

Napak tilas ini dimulai dari tempat kelahiran Kawabat di Osaka, tepatnya di sebuah rumah yang terletak di sebelah timur gerbang depan kuil Tenmangu. Sebuah monumen yang terbuat dari batu dibangun di dekat pintu masuk, sebagai tanda tempat kelahiran penulis tersebut. Tempat berikutnya berlanjut ke Pref. Ibaraki, tempat di mana Kawabata tumbuh dan besar. Perjalanan menggunakan Hankyu Railway yang kurang lebih memakan waktu sekitar 20 menit.

Setibanya di Ibaraki, tempat pertama yang dikunjungi adalah kuburan Kawabata. Tidak jauh dari tempat tersebut, sekitar satu menit berjalan kaki, ada sebuah toko buku yang bernama Toratani Seseido, yang merupakan tempat Kawabata dan teman-temannya membaca dan membeli buku-buku. Tempat selanjutnya adalah SMA di mana Kawabat lulus pada tahun 1917. Di tempat tersebut dibangun sebuah monumen yang disebut monumen sastra. Kata-kata yang tertulis di monumen tersebut merupakan kata-kata yang dicetuskan Kawabata.

The Ibaraki Municipal Kawabata Literature Memorial Hall, merupakam tujuan berikutnya. Sebuah tempat yang bisa dibilang merupakan museum Kawabata. Banyak benda-benda yang berkenaan dengan dirinya disimpan di tempat ini. Perjalanan dilanjutkan ke rumah tempat Kawabata tinggal di kota ini dan diakhiri di salah satu tempat yang disukai Kawabata, jembatan Sumiyossan. Wisata tersebut bisa diikuti dengan membayar biaya sebesar ¥ 2.600.

Filmografi

Pada tahun 1926, Kawabata menulis skenario untuk sebuah film bisu besutan sutradara Teinosuke Kinugasa. Film tersebut hilang dalam waktu yang lama, sampai akhirnya ditemukan di gudang rumah Kinugasa pada tahun 1971. Film tersebut berjudul Kurutta Ichipeiji, yang dibuat oleh kolektif seniman avant-garde Jepang, Shinkankakuha, untuk merepresentasikan seni naturalisme. Ia juga menulis skenario untuk beberapa film lainnya.

Selain itu, banyak karyanya juga  yang diangkat ke dalam sebuah film dan seni peran lainnya. Beberapa novel dan cerpennya diangkat ke layar lebar oleh sutradara yang berbeda. Twin Sister of Tokyo (Koto) adalah salah satu film yang diproduksi berdasarkan cerita novel Koto. Film tersebut dirilis pada tahun 1963 dan disutradarai oleh Noboru Nakamura. Academy Award memasukan film tersebut sebagai nominasi dalam kategori The Best Foreign Language.

Bahkan dalam serial televisi Tamayura, tercatat juga Yasunari Kawabata telibat sebagai pemain.  Karya-karya Kawabata lainnya, baik novel, cerpen, atau skenario yang ia tulis, berulang kali didaur ulang menjadi film, serial televisi, dan seni peran lainnya.

Daftar karya tulis Yasunari Kawabata:

  1. Diary of a Sixteen-years-old,
  2. Izu no Odoriko (The Dancing Girl of Izu),
  3. Asakusa Kurenainda (The Scarlet Gang of Asakusa), 1930.
  4. Yukiguni (Snow Country),
  5. Senbazuru (Thousand Cranes),
  6. Meijin (The Master of Go), 1954.
  7. Yama no Oto (The Sound of Mountain),
  8. Mizuumi (The Lake),
  9. Nemureru Bijo (The House of The Sleeping Beauties),
  10. Koto (The Old Capital),
  11. Utsukushisa to Kanashimi to (Beauty and Sadness),
  12. Kataude (One Arm),
  13. Tenohira no Shosetsu (Palm of The Hand Stories),

Daftar film diadaptasi dari karya-karya Yasunari Kawabata:

  1. Kurutta Ichipeiji (1926), sutradara Teinosuke Kinugasa.
  2. Asakusa Kurenaidan (1930), sutradara Sadae Takami.
  3. Koi no Hana Saku: Izu no Odoriko (1933), sutradara Henosuke Gosho.
  4. Otomoe-gokoro – Sannin-shimai (1935), sutradara Mikio Naruse.
  5. Mihime no Koyomi (1935), sutradara Yasushi Sasaki.
  6. Arigatou-san (1936), sutaradara Hiroshi Shimizu.
  7. Meshi (1951), sutradara Mikio Naruse.
  8. Maihime (1951), sutradara Mikio Naruse.
  9. Asakusa Kurenaidan (1952), sutradara Seiji Hisamatsu.
  10. Senbazuru (1953), sutradara Kozaburo Yoshimura.
  11. Yama no Oto (1954), sutaradara Mikio Naruse.
  12. Izu no Odoriko (1954), sutaradara Yoshitaro Nomura.
  13. Kawa no Aru Shitamachi no Hanashi (1955), sutradara Teinosuke Kinugasa.
  14. Niji Ikutabi (1956), sutradara Koji Shima.
  15. Tokyo no Hito (1956), sutradara Katsumi Nishikawa.
  16. Yukiguni (1957), sutradara Shiro Yoyoda.
  17. Kaze no Aru Michi (1959), sutradara Katsumi Nishikawa.
  18. Izu no Odoriko (1960), sutradara Yoshiro Kawazu.
  19. Izu no Odoriko (1963), sutradara Katsumi Nishikawa.
  20. Twin Sisters of Kyoto (Koto) (1963), sutradara Noboru Nakamura.
  21. Izu no Odoriko (1964), sutradara Hideo Onchi.
  22. Utsukushisa to Kanashimi (1965), sutradara Masahiro Shinoda.
  23. Onna no Mizuumi (1966), sutradara Yoshishige Yoshida.
  24. Nemureru Bijo (1967), sutradara Kozaburo Yoshimura.
  25. Yukiguni (1969), sutradara Hideo Oba.
  26. Senbazuru (1969), sutradara Yasuzo Masumura.
  27. Hi mo Tsuki mo (1969), sutradara Noburo Nakamura.
  28. Izu no Odoriko (1974), sutaradara Katsumi Nishikawa.
  29. Tristesse Et Beaute (1985), sutradara Joy Fleury.
  30. Twin Sisters of Kyoto (Koto) (1980), sutradara Kon Ichikawa.
  31. Nemureru Bijo (1995), sutradara Hiroto Yokoyama.
  32. Sleeping Beauties (2001), sutradara Eloy Lezano.
  33. House of The Sleeping Beauties (2006), sutradara Vadim Glowna.
  34. Yubae Shojo (2008), sutradara Shinju Funabiki dan Natsuki Seta.
  35. Xin (2009), sutradara Edmund Yeo.
  36. Kingyo (2009), sutradara Edmund Yeo.
  37. Tenohira no Shosetsu (2009), sutradara Tsukasa Kishimoto dan Nobuyuki Miyake.
  38. Red Dance (2010), sutradara Nguyun Thi Nam Phuong (animasi).
  39. The Old Capital (Koto) (2016), sutradara Yuki Saito.

Program televisi:

  1. Izu no Odoriko, NHK (1961).
  2. Tamayura, TV series (1965-1966).
  3. Yukiguni (1970).
  4. Izu no Odoriko, KTV (1967).
  5. Izu no Odoriko, Terebi Tokyo (1993).
  6. Ayahiki Bungo Kaidan, TV Series (2010).