Shugo Tokumaru

Musik tidak bisa dipisahkan dalam tatanan pop culture Jepang sebagai salah satu konten yang disukai orang non-Jepang selain Manga dan Anime. Itu bisa dibuktikan dengan antusiasnya warga negara lain yang datang ke Jepang hanya untuk menonton festival musik besar seperti Fuji Rock atau Summer Sonic.

Picture1

Khasanah musik Jepang tidak semata-mata mereka yang sering tampil di TV mainstream, mereka yang ada di scene underground malah menonjolkan prestasi yang lebih. Beberapa dari mereka adalah Shugo Tokumaru yang sudah pasti merasa terhormat tampil di festival musik sebesar SXSW dan Pitchfork.

Pada kesempatan ini saya akan merekomendasikan album paling terbaru dari Shugo Tokumaru, yakni “In Focus?”. Album yang dirilis di medio akhir 2012 ini masih beraroma indie-folk dan phsycadelic-pop, tidak berbeda jauh dengan 2 album pendahulunya, Exit (2007) dan Port Entropy (2010). Hanya saja di album ini ada cukup banyak track instrumental dan eksplorasi sound dari tiap-tiap instrument semakin kaya. Berikut ulasan beberapa lagu yang ditulis secara subjektif dari sudut pandang saya.

Katachi adalah jembatan pertama yang memperkenalkan saya terhadap band ini, permainan flute di intro lagu sungguh menggemaskan. Sebagai first single dari album ini, Katachi mampu mendeskripsikan semua lagu di album ini secara lugas. Jadi, dengan mendengar lagu ini kita sudah bisa menebak lagu lainnya itu seperti apa, akan tetapi tetap mengundang penasaran untuk menyimak track demi tracknya. Shugo Tokumaru bukan tipikal yang sering menunjukan wujud diri di tiap video klipnya, termasuk di movie clip lagu ini yang menggunakan teknik hyperlapse video. Konon ada sekitar 2000 foto karakter kertas yang diambil lalu diedit dalam pembuatan video klip ini, hasilnya? Alus hed! Sangat menarik dan artistik.

Poker, lagu yang mencuri perhatian karena lick gitarnya yang unik dan permainan bunyi bibir tiap member di bagian tengah lagu. Entah mengapa ketika mendengar lagu ini sontak mengingatkan penulis terhadap karya-karya Frank Zappa dan Alm.Harry Roesli yang eksentrik. Menurut penulis, lagu ini paling mempu menginterpretasikan bahwa Shugo tidak bisa lepas dari musik tradisional Jepang, tapi tetap manis dibalut dengan pembawaan yang modern. Sama halnya dengan Katachi, video klip dari lagu ini tidak mengikut sertakan wujud anggota band ini, hanya animasi dengan karakter karakter abstrak yang bernuansa phsycadelic. Berikutnya Call, Decorate, Helictite (LeSeMoDe), Shirase, dan Balloon yang tak kalah eksentriknya dari single-single di atas. Call punya karakter kuat buat penulis, sound yang dibangun di lagu tersebut membuat penulis ingin menyamakannya dengan lagu Shugo yang lain yang pernah menjadi soundtrack produk SONY VAIO, Rum Hee (Port Entropy/2010). Suka dengan Rockabily ala Elvis Presley? Down Down menjawabnya dengan cukup asyik, ada beberapa kejutan di tengah lagu yang membuat ritme dan tempo lagu ini terkesan ada effort ke arah experimental. Yap, layaknya Sonic Youth yang suka bermain bising dan mengedepankan rusaknya suara gitar, Shugo bisa mengakalinya dengan berbagai bunyian unik yang tak beraturan dari instrument tiup seperti pianika dan sebagainya.

Ada cukup banyak lagu instrumental yang menengahi album ini, ada Gamma, Mubyo, Pah-Paka, dan Miero Guitar Music yang tentunya akan membawa kita ke dunia kanak-kanak yang ceria dan serasa berada di wahana permainan game masa kecil. Lagu berikutnya adalah underrated song yang menurut penulis layak menjadi single, lagu ini juga adalah lagu yang paling kelam dan paling slow. Tightrope belakangan ini menjadi playlist favorit, dan hamper selalu menjadi penutup dari rangkaiaan kesempatan mendengarkan musik. Lagu ballad memang selalu diperlukan di setiap album, Tightrope menjaawab kebutuhan tersebut dengan tepat, apalah arti In Focus? tanpa lagu ini, nuansa akustiknya seolah meredam amuk rasa senang berlebihan yang dibiuskan di lagu-lagu lainnya. Untuk beberapa lagu lainnya sila disimak masing-masing.

Shugo Tokumaru adalah seorang multi-instrumentalis yang meracik aransemen, konsep dan komposisi lagunya seorang diri, kemudian merekamnya seorang diri pula. Musiknya visioner dengan berbagai instrument yang tak lazim dipakai, tapi tetap tak menghilangkan rasa musik tradisional Jepang. Dia sudah menelurkan 5 buah album studio dan 1 demo semenjak 2003 yang melengkapi perjalanan diskografinya, selain yang penulis sebutkan di atas, Fragment Demo (2003) dan Night Piece (2004) yang juga dirilis di Amerika, serta L.S.T (2006) yang juga rilis di New Zealand dan dataran Eropa. In Focus? merupakan pencapaian yang kaffah, yang seolah mampu mengajak kita berwisata ke dunia aneh yang menyenangkan dan penuh keriangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s