Polisi Moral Untuk Polisi

Screen Shot 2016-01-03 at 22.02.06

Dengan bantuan lagu Pilih Sidang atau Berdamai? dari Morfem dan Cokelat dari Pure Saturday …
C : “Mau sidang apa bayar denda?”

A : “Sidang aja pak, eh tapi kalau bayar denda ditempat bisa pak?”

C: “Bisa *sambil menunjuk daftar denda yang tercantum di lembar penilangan, 100rb ~ 1jt”

A : “Enggaklah pak, sidang aja”

C : “Mau tilang apa saya bantu?”

A : “Apa pak? *tidak kedengaran?”

C : “Mau saya bantu tidak? Keluarin 50rb aja bisa nggak?”

A : “Eh emang bisa pak? Tadi katanya minimal 100rb?”

C : “Udah 50rb aja sini!”

A : “Serius pak, emang bisa? Legal nggak? Nggak ah sidang aja pak!!!!”

C : …

Kalau menilik konsep yang dikemukakan oleh filsuf moral Jepang, Tetsuro Watsuji, dalam jurnalnya A Climate : A Philosophical Study, yang mengemukakan keterkaitan individu dengan alam. Bahwa keadaan alam turut membentuk karakteristik suatu bangsa.Di Indonesia lantas tak demikian, khususnya perihal moral beberapa oknum aparatur negara. Letak geografis tidak berpengaruh terhadap pembentukan moral beberapa oknum aparat, walkhusus mereka yang berseragam cokelat. Dari Sabang sampai Merauke, moral mereka dapat diukur dengan pertanyaan dan lelucon “are they smarter than 5th grader?“, sekalipun itu di Bekasi.

Tentu saya orang yang lebih merasa bermoral sebagai korban, dibanding beberapa dari mereka sebagai penindak yang selalu mengharapkan “uang perdamaian” dari sang korban. Mereka yang berusaha keluar dari konteks legal dalam menindak, tak pelak mengundang tawa nyinyir dari saya yang memang selalu menunggu momen pertanyaan “mau sidang apa dibantu?” dari sang penindak.

Kalau kembali melihat transkip percakapan di atas antara saya dan cokelat, saya sangat puas dan bahagia melihat muka tolol nan gugup si oknum yang tak bisa berbicara apapun ketika saya tetap putuskan ikut sidang seraya menanyakan ke-absahan “sidang di tempat” yang disodorkan beliau.

Pembelaan :

Saya terima andaikata kalau saya salah, karena masuk jalur cepat di JL. Ahmad Yani, Bekasi. Tapipak! Baru kali ini ada penindakan. Selama kurang lebih hampir setahun saya lewat jalan tersebut, yang dimana saya lewat juga karena lebih efisien, hendak belok dan menunggu lampu merah di perempatan, selama satu tahun lewat dan belok disitu pula, sekalipun ada cokelat bertengger dipundak jalan di depan kantor posnya, tak ada penindakan sama sekali. Sehingga bagi siapapun yang melewati jalur tersebut, menimbulkan asumsi bahwasannya melewati jalur tersebut bukan suatu pelanggaran berlalu lintas.

Bantahan saya semakin diperkuat dengan situasi setelah saya ditilang, dengan jelas saya melihat semua orang yang lewat jalur tersebut tak mengalami penindakan seperti yang cokelat lakukan kepada saya dan beberapa orang lainnya. Kenapa ini bisa terjadi? Latar belakang apa yang menyebabkan inkonsistensi tersebut?

Entah dari konteks aturan yang tidak diperbolehkan sepeda motor melewati jalan tersebut, padahal setahun saya melewati jalur tersebut tak pernah ada apa-apa.Apakah penindakan tersebut di latar belakangi dengan adanya penertiban cokelat dengan dinas perhubungan menjelang antisipasi puncak arus mudik hari ini?. Ini baru awal bulan pak, sedikit cerdiklah, lakukan itu di akhir bulan, ketika gaji anda mulai menipis untuk membeli kopi kapal api, rokok garpit, atau pakan burung peliharaan.

Atau, dari konteks kenapa semua pengendara yang melewati jalur tersebut tidak mengalami penindakan?. Mungkin inilah yang disebut dengan “Banalitas Kebaikan“.Bukan saya mau atau tidak mendapat penindakan, tapi sikap yang seperti itu menimbulkan ambiguitas. Saya harus memandang dari segi kualitas mana terhadap para cokelat?. Ah lagi pula, di kantor cokelat melihat pelanggar menyelipkan uang ke tangan para penindak itu bukan pemandangan yang aneh. Hal yang demikian mungkin bisa kita bawa ke sebuah praduga, mungkin, mungkin, mungkin sikap demikian juga dilakukan oleh para yang melacur terhadap para pelacur di lokalisasi sudra.

Skeptis tidak bisa dihindari. Padahal baru awal selebrasi 2016, semoga semua membaik.

Fyi :
Istilah “Cokelat” diambil dari salah satu lagu Pure Saturday yang ada di album debut mereka, self titled (1996)

Cokelat menari, bagai babi, injak penghuni …

Bekasi, 3 Januari 2016

Merdeka!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s