Sastra Jepang ; Tak Satra, Tak Berarti Tak Jepang

“Dalam dimensi Sastra Jepang, Anime adalah hal yang paling sastra, dan Cosplay adalah ejawantahnya”.

Mungkin untuk anak Sastra Indonesia, hafal-tidaknya puisi ‘Aku’ dari Chairil Anwar atau sudah-tidaknya membaca ‘Tetralogi Pulau Buru’ karangan Pramoedya Ananta Toer adalah standar sederhana sebagai legitimasi yang bersangkutan itu sah sebagai mahasiswa sastra yang “sastra banget” atau tidak. Akan dicukupkan dengan klasifikasi “sastra” saja jika yang jadi standar adalah ‘Pulang’ atau ‘Hujan’ karya Tere Liye, jauh menukik dari sederhana.

Globalisasi memaksa arus informasi masuk tumpah ruah ke Indonesia, termasuk produk-produk modern yang beraneka ragam dari negara-negara maju, mau tak mau mejadikan Indonesia sebagai Negara Dunia Ke-3 yang menjadi tempat produksi pelbagai produk tersebut, bukan hanya itu, Indonesia juga dipaksa jadi konsumen yang loyal akan produk-produk tersebut. Termasuk di dalamnya produk yang berupa konten hiburan.

Hiburan jelas menjadi kebutuhan yang primer saat ini, jenisnya beragam dengan pola konsumsinya yang masif. Salah satu negara yang mempunyai pengaruh besar bagi dunia hiburan Indonesia adalah Jepang. Produk unggulannya adalah Anime, Dorama, dan Idol Grup. Ada yang lain? Ada.

Anime, siapa tak tahu Doraemon dan kolega-koleganya, barang kali kita pernah berandai-andai dari kantungnya bisa mengeluarkan alat yang kita inginkan, seperti misalnya ; Pulpen yang bisa membuat ujian bernilai 100, Uang yang bisa membeli apa saja, dan mungkin termasuk di dalamnya Boneka Darurat  yang bisa menjelma jadi seorang pasangan. Ehm.

Lalu dengan hanya berpangku pada Anime ; dan itu pun hanya Doraemon, sudahkan bisa menyematkan predikat “Anak Sastra” bagi mereka yang menempuh disiplin Sastra Jepang?, saya rasa jauh dari layak, sangat belum sekali.

Doraemon itu parsial dari Anime, begitu sebaliknya, Anime tidak bisa ditakwilkan dengan Doraemon semata. Pengetahun tentang Doraemon belum cukup bisa dijadikan modal untuk seseorang ikut dalam asyiknya perbincangan tentang Anime. Itu yang membuat saya selalu terdiam bengong ketika beberapa teman asyik mengobrol tentang itu. Dengan tema Doraemon yang saya tawarkan untuk sama-sama kita obrolkan, malah membuat keadaan berbalik ; teman-teman saya yang malah diam.

Bagaimanapun juga siapa sih dari teman-teman saya yang tertarik untuk mengkaji akan karya tulis klasik seperti Genji Monogatari, ah lagi pula siapa juga yang peduli akan nilai seni yang terkandung dalam Ukiyo-E yang melegenda dari Periode Edo.

Haruki Murakami, satu nama yang boleh jadi (mungkin) paling familiar di antara penulis Jepang. Jangan berharap banyak akan ada yang mengenal Yasunari Kawabata, Ryunosuke Akutagawa, Natsume Souseki, atau mungkin Oe Kenzaburo. Hakulyakin nama-nama seperti Eiichiro Oda atau Masashi Kishimoto lebih dikenal.

Adanya situasi jumud seperti demikian bukanlah suatu kesalahan, atau satu hal yang harus dipersalahkan. Masing-masing orang punya pendekatan secara personal akan pemuas kebutuhnnya dalam berbagai hal. Anime khususnya, adalah satu dari sekian banyak yang menjadikan landasan paten beberapa orang untuk mengikatkan dirinya lebih erat dengan Jepang. Malahan Anime dan Manga atau beberapa Dorama menjadi trigger mereka untuk mempelajari Bahasa Jepang dan masuk ke jurusan Sastra Jepang.

Beberapa keresahan tersebut membuat saya untuk mencoba meng-eksplore Anime, dan tentunya bukan sembarang Anime. Pilihan jatuh terhadap Anime yang berformat movie dan old-school. Tentu saja nama Hayao Miyazaki jadi nama yang paling sering dibicarakan, setidaknya itu yang lebih saya ketahui dari Anime Director  yang lain. Walaupun begitu sebelumnya saya tidak tahu kalau dia lah yang menciptakan Totoro – Anime yang membantu saya belajar Bahasa Jepang yang direkomendasikan oleh pengasuh saya, bahkan saya tahu nama tersebut ketika rilis film animasi yang berjudul Kaze Tachinu (The Wind Rises) di Jepang sekitar akhir 2013. Cara seperti ini cukup membuat saya berhasil untuk nyambung dalam diskusi yang melibatkan tema Anime.

Selebihnya saya tidak bisa berharap akan ada diskusi lebih intensif tentang hal-hal mengenai Jepang lainnya, semisal membahas Haiku atau Manyoushu. Kalau itu terlalu rumit, setidaknya tidak mengacuhkan ajakan untuk menonton bersama film-film Akira Kurosawa seperti Shichinin No Samurai atau Rashomon adalah salah satu hal yang sangat bijaksana. Dalam musik pun demikian, AKB48 dan Idol  Group yang lain  serta musik televisi Jepang era modern sekarang semakin melunturkan hasrat beberapa teman untuk mengetahui dan menikmati musik khas Jepang ; Enka. Usaha saya membagi referensi musik jaman dahulu Jepang, besar atau kecil harapan dapat memberikan sumbangsih terhadap referensi tentang ke-Jepang-an, lebih jauh dari itu besar harapan saya agak terjadi pertukaran pandangan mengenai media dan sarana yang membuat kita menyukai Jepang.

Jadi, andaikata taraf kesastraan sastra Jepang adalah dengan hafal benar Anime secara mahfum, lantas Anime yang seperti apa yang harus ditonton? Manga apa yang harus dibaca? Dan Grup Idol yang mana yang harus digilai? Rasanya saya tak perlu memaksakan untuk itu, dan tak perlu juga memaksakan apa yang saya suka terhadap orang lain. Masing-masing mempunyai referensi dan preferensi yang berbeda dan itu sudah sangat sastra dengan apa yang mereka suka. Justru hal yang demikian adalah keuntungan buat saya, menambah wawasan tentang disiplin ilmu yang saya tempuh dari sudut yang berlawanan. Jadi analogi di atas tentang Sastra Indonesia, menurut saya pribadi tak mengena jika diterapkan dalam Sastra Jepang.

Benar adanya memang yang dikatakan oleh salah satu politikus akhir Zaman Edo, Sakamoto Ryouma, bahwasannya manusia terus membuka dunia dengan jalan yang dia suka.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Sastra Jepang ; Tak Satra, Tak Berarti Tak Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s