Memoar Maret #1

“Berjalanlah waktu secepat mungkin”, pintaku selalu saat itu. Waktu sudah berlalu, 5 tahun lamanya semenjak umpatan tersebut saya rangkaikan dalam sebuah doa.

9 Maret 2011, 5 tahun lalu tepat untuk kali pertama menaiki kapal perikanan Jepang setelah menjalani masa karantina selama 3 bulan lebih, di salah satu distrik di Pref. Shizuoka ; Makinohara, Omaezaki. Mimpi buruk ini akhirnya tiba dan benar-benar terjadi selepas pukul 9 malam. Saat itu bulan Maret, walaupun sudah memasuki musim Haru, tetapi cuaca masih sangat dingin menusuk, pun angin yang sama sekali tidak sepoi-sepoi membuat hidung tak berhenti beringus.

Pekerjaan pertama kali yang dilakukan saat itu adalah menarik jangkar yang masih tertancap di dasar dermaga. Jangkar tersebut terikat dengan tali yang diameternya hampir sama dengan pergelangan tangan saya. “Ki o tsukete ne, gaman shite, ganbare!” tak henti-hentinya diucapkan oleh pengasuh saya – Hakamata Miyoko, yang selalu dipanggil Miyo-Chan oleh kita. Uluran tangan dari 5 orang saling sahut-menyahut dengan desahan nada kelelahan lemas dalam tarikan tali jangakar yang basah terendam di kedalaman laut, menjadikannya lebih dingin 2x lipat dari sebelumnya.

Sampai terlihat jangkar yang ditarik dari dasar, selanjutnya menarik rantai yang menyambungkan tali dan jangkar tersebut. Dengan dalih “agar terbiasa dan bisa cepat kerja” porsi tersebut diserahkan kepada saya dan teman saya selaku tingkat 1 yang baru naik, dingin dan semakin dingin. Sangat semakin dingin ketika mengangkat jangkar yang beratnya 20kg tersebut ke dek kapal, saking dinginnya, yang terasa adalah rasa panas.

Kapal bergegas memutar ke arah lautan lepas, diiringi lambaian tangan berbalas dari orang yang ada di dermaga. Dengan kecepatan 2 knot, saya dan yang lainnya berdiri gagah kedinginan di haluan beriringan dengan larian kapal sampai benar-benar ke luar dermaga. Malam memuakan dimulai, dan hidung tetap tak henti mengeluarkan ingus.

2 hari berikutnya, 11 Maret 2011, Tsunami terbesar di Jepang menyapu daerah Tohoku.

***

5 tahun telah berlalu, dari semalam saya memikirkan hal yang telah berlalu itu dengan sedikit heran dan rasa syukur yang mendalam. Bagaimanapun hidup memang tidak selalu semau kita, sesuatu yang kita tak sukai bisa membawa kita ke tahap yang lebih baik. Anak manja memang punya kemampuan khusus menghadapi hidup yang mendadak tak sesuai dengan harapan, termasuk membuat sebuah epos yang kelak akan diteladani anak cucunya.

Pagi tadi, saya mengirim pesan via LINE ke beberapa orang Jepang yang pada malam itu hadir di dermaga membalas lambaian tangan saya. Beberapa belum terbalas, sebagian menjawab “O-sewa ni natte orimasu“, karena saya mengirim pesan yang berisi demikian pula, disamping mengabarkan kalau di Indonesia hari ini terjadi gerhana matahari. Beberapa foto gerhana yang saya ambil dari televisi pun dibalas dengan rasa kagum dan ucapan terima kasih.

Hari ini serasa sangat monumental dengan adanya 2 hal di atas, oh iya, Hari Nyepi juga yak? Selamat Nyepi bagi umat Hindu. Dan saya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi 5 tahun berikutnya. Sama dengan 5 tahun lalu, saya tidak pernah tahu tentang yang terjadi hari ini.

Semoga Indonesia dan umat Islam di dunia menciptakan kedamaian bagi peradaban manusia di akhir zaman ini.

Advertisements

3 thoughts on “Memoar Maret #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s