Ada Apa Dengan “Buku dan Pagina-Paginanya yang Membuat Kita Cupet”?

“Apalah arti hidupku tanpa buku-buku pengetahuan kita”, tukas si pengemis tua tak bernama yang membakar dirinya sendiri ketika melihat menggunungnya tumpukan buku yang dibakar, potret yang ditulis Tariq Ali – seorang sastrawan dan pemikir muslim progresif, dalam novel  Shadows of  The Pomegranate Tree. Novel yang menceritakan tentang pembakaran buku oleh pasukan yang diperintahkan  uskup Kerajaan Spanyol, Xiemenes de Cisneros. Peristiwa tersebut terjadi pada awal abad ke-16 di Oran, Afrika, yang membumihanguskan ribuan manuskrip Arab.

 

Kalau melihat kenyataan Indonesia akhir-akhir ini, bagaimana pemerintah membredel buku-buku yang bernafas “kiri” – yang disangka akan memantik kembangkitan PKI sebagai tanda neo-komunisme, mungkinkah akan ada juga sosok seperti si pengemis tua tersebut yang entah siapa saja di masyarakat Indonesia? Siapa? Entahlah. Indonesia sekarang adalah Indonesia yang terlalu baperan. Baperism is the new ideology of Indonesia – maaf “keminggris”. Bagaimana bisa mereka membredel senjata intelektualisme hanya atas prasangka. Jelas benar mereka tak mengimani Pram, adil sejak dalam pikiran.

 

Indonesia dewasa ini adalah kembali ke masa lalu. Berbalik ke masa yang dialami Pram yang dimusuhi dua rezim sekaligus. Hoakiau di Indonesia yang membuatnya tersungkur di dalam penjara di era Soekarno, dan Tetralogi Pulau Buru yang diberangus oleh rezim orde baru Soeharto. Selalu terenyuh ketika mengingat bagaimana roman Pulau Buru miliknya itu ditulis. Bagaimana bisa nasib seseorang ditentukan oleh buku yang dia tulis?

 

Buku adalah bentuk lain dari ingatan, itu kata Dhani. Orang yang mempunyai nama dengan awalan Armand yang menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang menolak bahwasannya kesendirian adalah takdir terhina dalam fase remaja kehidupan manusia.

 

Memuakkan memang jika harus berurusan dengan aksara, rentetan kata yang menjadikannya sebagai kalimat, menggunduk merupa paragraf, menebal menjadi lembaran-lembaran pagina yang sangat jauh sekali dikatakan sedikit, sangat tidak pantas juga disebut tipis. Bagi mereka yang membaca buku, saya yakin mereka sedang mencoba untuk jadi lebih manusiawi. Dalam KBBI, pengertian buku yaitu lembar kertas yang berjilid dan berisi tulisan atau kosong, yang saya maksudkan disini adalah yang berisi tulisan, bukan yang kosong seperti otak dan hati kita.

 

Menurut data statistik UNESCO pada 2012 menunjukan indeks minat baca Indonesia hanya mencapai 0,001. Artinya, hanya satu orang saja yang membaca buku dari 1000 penduduk Indonesia. Sementara merujuk data IKAPI, jumlah buku yang diterbitkan Indonesia hanya berada pada angka 30.000 per tahun dari 1.317 penerbit yang tersebar di seluruh Indonesia. Masih jauh dibanding negara-negara lain, misalnya Jepang, yang setiap warganya  bisa melahap 10 ~ 15 buku per tahun dan mampu menerbitkan kisaran 40.000 per tahun. Ukuran tersebut masih rendah untuk Indonesia, yang notabene mempunyai jumlah penduduk yang jauh lebih banyak dari Jepang. Saya menaruh harapan besar, kalau yang satu orang tersebut adalah mahasiswa.

 

Mahasiswa adalah kaum intelektual, dan buku adalah satu media paling mutakhir dalam mencapai makrifat intelektual tersebut. Dosa besar andaikata mahasiswa antipati terhadap buku. Meminjam konsep ekonomi, skala prioritas primer-sekunder-tersier sudah tak relevan kita relasikan dengan kebutuhan dan keharusan mahasiswa menggauli buku. Sebut saja mermier, skala pembenaran yang tingkatannya sepuluh atau dua belas bahkan tiga belas kali lipat diatas primer sebagai justifikasi hal tersebut. Pendek kata, fardhu ‘ain adalah fatwa absolut ikhwal kewajiban membaca bagi para mahasiswa. Nubuat Goa Hira melalui Jibril – Al-Alaq (1-5), “Iqra!” yang dalam bahasa Indonesia kata tersebut berarti “Baca!”, sudah dititahkan semenjak empat belas abad yang lalu.

 

Tidak terbatas pada mahasiswa belaka, minat membaca seyogyanya ditekankan semenjak dini kepada anak-anak. Ironi adanya ketika anak-anak akhirzaman sekarang lebih mahfum tentang tokoh-tokoh sinetron medioker dari tayangan-tayangan televisi medioker yang disiarkan oleh televisi yang medioker pula. Boy dan Reva atau Tristan dan Nayla, 4 figur yang menjadi kiblat ke-musykil-an tersebut. Sudah terlalu lama kita melupakan Budi nya Alm. Siti Rahmani Rauf, atau mungkin kita sama-sama benar tidak tahu siapa Ken Arok dan siapa Ken Dedes, dan siapa pula Tunggul Ametung yang ada di antara keduanya. Dalam potret anak-anak, sudah jelaslah mereka kehilangan marwah bacaan berkualitas sebagai hak istimewa masa kanak-kanak. Kapitalisme memberangus hak mereka tersebut dengan tontonan-tontonan yang “Haram”. Kaitannya dengan kita sebagai mahasiswa, untuk mereka dan juga untuk kita sendiri adalah bagaimana kita meyakini kalau mematikan televisi pada tayangan menjijikannya dengan atau tanpa remot, dan bermigrasi ke buku adalah “Akhlak Terpuji” yang pantas jadi diskursus dalam pelajaran PAI.

 

Lantas buku seperti apa yang harus kita baca? Saya tidak mempercayai adanya buku bagus, sekalipun itu adalah perkataan orang alim nan berkompeten. Bagaimana mungkin kita percaya isapan jempol belaka tersebut, sementara kita tidak pernah tahu isinya karena belum pernah membacanya. Bacalah apa yang membuatmu penasaran ; bacalah apa yang kau suka ; bacalah apa yang menjadi kebutuhanmu ; dan bacalah apa yang kau ingin baca. Boleh jadi, atas alasan suatu buku sudah dibaca oleh orang yang kita suka, atas alasan itu pula kita memaksa diri untuk membaca buku tersebut. Salah? Tidak! Zaman akhirzaman selalu memberikan ruang untuk kita berkonyolria, sekalipun dalam menentukan alasan membaca buku. Sesederhana itu.

 

Buku adalah jendela dunia, seperti kata banyak orang, dengan segala yang ada padanya, kepercayaan bahwa benda tersebut dapat meniadakan prasangka adalah tepat. Banyak dari kita selalu merasa paling tahu tentang apa saja tanpa memiliki landasan yang kuat. Buku memberikan fasilitas tersebut. Dalam berbeda pendapat pun demikian adanya, kita sudah dibuat baper hanya karena melihat sampulnya. Padahal dawuh Don’t Judge a Book by Cover juga benar adannya. “Pelajari sesuatu yang tidak kamu setujui untuk membuka cakrawala baru pengetahuan” kata Nurcholis Madjid. Jane Marais menambahakan, “Jangan menjadi hakim atas apa yang kita tidak ketahui”, kedua petuah tersebut memberikan indikasi bahwa ketidaktahuan dan prasangka adalah atas apa yang kita tidak ketahui, kita tidak mau ketahui, dan kita pura-pura tahu akan hal itu. Membaca buku, wasilah untuk menghilangkan prasangka dan ketidaktahuan kita dalam keadaan kosongnya akal. Juga hati.

 

Aan Mansyur menegaskan “Kita berpikir bahwa kartu kredit lebih penting daripada kartu perpustakaan. Karena kita hidup di kota yang jumlah mall dan ATM-nya jauh lebih banyak daripada perpustakaan”. Menurut hemat saya,  zaman akhirzaman hanya mampu menciptakan masyarakatnya menghamba pada lembaran uang yang menjadikannya lebih binatang dari binatang, sementara ia belum terlalu mampu membuat masyarakat yang terlihat lebih manusiawi dengan cara mencintai buku. Seperti yang ditulis di atas, membaca buku adalah upaya untuk menjadi lebih manusiawi, kesiapan kita akan hal itu adalah sejauh mana kita mampu meninggalkan berhala-berhala modern dan mematikan televisi terlebih dahulu. Dengan atau tanpa remot.

 

Fernando Baez dalam bukunya, Penghancuran  Buku dari Masa ke Masa menyebut mereka yang membakar buku dengan istilah “Biblioklas”. Sementara tanpa menyemai api,  kita lebih biadab dari mereka yang disebut biblioklas, karena hanya membiarkan buku-buku tertutup rapat tak terjamah di antara benda-benda using lainnya.

 

Pramoedya Ananta Toer, kalau buku yang ditulisnya bisa menentukan nasib hidupnya, walaupun pahit. Semoga dengan apa yang kita baca dari buku, bisa merubah hal-hal tentang apa saja menjadi lebih baik. Semoga mampu membuat kita menjadi orang yang menggerakan perubahan kearah yang lebih bermanfaat bagi semesta.

 

Satu hal yang patut diwaspadai, buku juga bak pedang, bisa menikam dari segala arah, oleh kita atupun oleh orang lain, untuk kita ataupun terhadap orang lain. Hanya karena buku, jangan sampai kita lupa atau pura-pura lupa bahwasannya kita masih hidup secara wajar sebagai makhluk sosial di zaman akhirzaman ini.

 

Bacalah buku, sekalipun hanya Dilan dan buku-buku sejenisnya. Jadi, kapan terakhir kali membaca buku? Kalau jawabanmu tadi malam tentang buku pelajaran, simpan saja jawaban tersebut samapai zaman akhirzaman ini menuntaskan harinya sebagai hari pembalasan.

 

Kata demi kata menghantarkan fantasi, habis sudah … habis sudah …

Bait demi bait memicu anestesi, hangus sudah … hangus sudah …

 

Tulisan ini dibuat sembari mendengarkan berulang-ulang lagu urutan ke-9 dari satu album yang dirilis oleh Aksrara Record (RIP) tahun 2009 silam, Kamar Gelap.

 

Tahniah atas Hari Buku Nasional, Tabik!

 

Anggi Prahesta

Sastra Jepang 2015

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s