Bahasa Inggris & Jepang pt.2

Kemampuan Bahasa Inggris Masyarakat Jepang

Polemik bahasa Inggris bagi masyarakat Jepang bukan isapan jempol belaka, sulit tidak percaya dan menampik kenyataan bahwa orang sekelas profesor sekalipun tidak mempunyai kemampuan bahasa Inggris sama sekali. Dalam buku Mengenal Jepang yang ditulis oleh bekas Mantan Wakil Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Yusuke Shindo, terdapat cerita menarik tentang salah seorang temannya ketika mengambil tes untuk masuk pascasarjana Universitas Tokyo. Ketika diperintahkan mengubah kalimat bahasa Jepang ke dalam bahasa Inggris, ia mendapati kata burung, seberapapun ia berpikir bahasa Inggrisnya burung, ia tetap tak bisa menuliskannya dengan kata bird, melainkan dengan flying animal.

Dalam  sebuah bangumi berjudul Nihon no Eigo Kyouiku yang disiarkan salah satu stasiun televisi Jepang pada tanggal 14 Februari 2015, dikemukakan bahwa peringkat kemampuan bahasa Inggris Jepang berdasarkan TOEFL pada tahun 2011, Jepang menempati peringkat ke-137 dari 163 negara di dunia. Jauh berada di bawa Korea Selatan yang terpaut 67 peringkat di urutan ke-70 dan juga di bawah Cina pada urutan ke-102. Sementara itu, peringkat pertama diduduki oleh Belanda, dikuti oleh Singapura dan Belgia berturut-turut di urutan ke-2 dan ke-3. Kalau dipersempit lagi, Jepang menduduki peringkat ke-28 dari 30 negara Asia dalam kategori yang sama. Bahkan berada di bawah negara-negara berkembang seperti Myanmar, Mongolia dan pula Indonesia.

Dalam bangumi tersebut juga diadakan survei  langsung kepada masyarakat Jepang di jalanan yang sedang beraktifitas, mereka ditanya dengan beberapa pertanyaan bahasa Inggris yang mudah oleh seorang penanya asing, hampir setiap orang yag ditanya menjawab dengan jawaban “no”, bahkan “wakaranai”.

Hal menarik lainnya terkait polemik ini adalah tentang salah seorang penerima penghargaan Nobel bidang fisika pada tahun 2008,  Toishida Masukawa, yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Bahkan kehadirannya di Stockholm saat itu merupakan perjalanan pertamanya ke luar negeri dalam sepanjang hidupnya. Ketika ia membacakan speech-nya di hadapan banyak orang yang menghadiri acara penganugerahan penghargaan tersebut, ia mengawalinya dengan kalimat “I am sorry, I can not speak English”, dan melanjutkan pidatonya tersebut denga menggunakan bahasa Jepang. Saat hendak pulang dari acara tersebut, “shimasen! koukou no  toki kara no kesshin” begitu jawaban yang ia lontarkan demi memenuhi pertanyaan yang disodorkan salah seorang wartawan. Sebuah keputusan yang ia tetapkan saat SMA untuk tidak mempelajari bahasa Inggris.

Pendidikan Bahasa Inggris di Jepang

Pendidikan bahasa Inggris di Jepang pada umumnya dimulai saat masuk SMP, selama 3 tahun dan akan terus berlanjut sampai universitas tingkat 2. Sebagian besar universitas menyertakan bahasa Inggris dalam ujian masuk universitas mereka. Bagi mereka yang mengambil jurusan non-english pun diwajibkan mengikuti kelas bahasa Inggris selama 2 tahun pertama. Lamanya pembelajaran bahasa Inggris di kelas secara bertahap menurun sejak era Meiji, dari 6 kelas menjadi 3 kelas dengan durasi 50 menit dalam seminggu per kelas. Dengan demikian dalam setahun ada105 kelas, berdasarkan data tersebut, ada 305 kelas dalam 3 tahun, yang jika dikalikan dengan 50 menit adalah 262,5 jam pengajaran bahasa Inggris pada saat mereka lulus dari SMP. Dalam kurikulum sekolah menengah umum, ada empat program (Komunikasi Aural / Oral I & II, English I & II, Reading, dan Writing), dan total waktu kelas selama tiga tahun adalah 735 kelas atau 612,5 jam instruksi. Penurunan jam belajar bahasa Inggris tersebut dimaksudkan untuk menjaga pentingnya peningkatan bahasa ibu, yaitu bahasa Jepang.

Pada April 2011, terjadi inovasi dalam kurikulum pendidikan bahasa Inggris di Jepang. Bahasa Inggris mulai diperkenalkan pada siswa kelas 5 sekolah dasar sebagai mata pelajaran resmi, program tersebut disebut Gaikokugo Katsudou. Tetapi pada kenyataannya kegiatan tersebut menitikberatkan pada bahasa Inggris. Sekolah akan diminta untuk memberikan kelas bahasa Inggris seminggu sekali selama 35 minggu dalam satu tahun ajaran. Kelas tersebut lebih menekankan pengajaran bahasa Inggris berdasarka pengalaman-pengalaman, bukan pada hafalan yang berhubungan dengan linguistik. Penerapan inovasi ini baru dilakukan sejak usulan tersebut ada sejak tahun 1991. Boleh dikatakan Jepang terlambat dari negara-negara lain seperti Thailand, Korea Selatan, dan China yang sudah mengadakan kelas bahasa Inggris sebagai pengajaran bahasa wajib di sekolah dasar pada tahun 1996, 1997, dan 2001.

Fakta di atas merupakan hal yang paradoks dengan sistem pendidikan di Jepang secara umum, yang banyak diakui sebagai negara yang mempunyai sistem pendidikan terbaik di dunia.

Polemik Bahasa Inggris di Jepang

Yusuke Shindo berpendapat bahwa, salah satu hal yang menyebabkan orang Jepang memiliki kemampuan yang rendah dalam bidang bahasa Inggris adalah karena minimnya buku yang ditulis dalam teks bahasa Inggris. Di Jepang, pada umumnya buku yang dipakai di sekolah-sekolah dan universitas dicetak dengan menggunakan bahasa Jepang sendiri, seperti buku fisika, kimia, dan teknik. Hal tersebut dikarenakan mereka yang menulis buku tersebut adalah guru yang berkebangsaan Jepang, yang mana mereka mempunyai level keilmuan yang berkembang, disamping banyaknya jumlah guru orang Jepang.

Salah satu haafu yang berprofesi sebagai produser acara televisi Jepang, Dave Spector, mengemukakan kalau satu di antara banyaknya sebab orang Jepang lemah dalam bahasa Inggris adalah karena pengucapan bahasa Inggris orang Jepang yang berdasarkan pelafalan katakana semenjak kecil. Sehingga ketika dewasa, kebiasaan tersebut sulit diubah, dan menyebabkan pelafalan bahasa Inggris yang aneh.

Pakar linguistik Jepang, Takao Suzuki, berpendapat mengenai pendidikan bahasa Inggris di Jepang, menurutnya, sistem yang ada sekarang ini tidak mempunyai tujuan spesifik yang jelas. Ia mengajukan tiga tipe tujuan pembelajaran bahasa berdasarkan tiga tujuan tersebut. Pertama, language as an end, yaitu pembelajaran bahasa untuk diri sendiri. Misalnya, mempelajari suatu bahasa hanya karena merasa tertarik kepada bahasa tersebut dan budayanya. Kedua, language as means, yaitu belajar bahasa hanya sebatas untuk mengerti teks yang berdasarkan bahasa yang dipelajari. Misalnya, mempelajari bahasa Jerman untuk mengerti filsafat Jerman. Terakhir, language for communication, yaitu pembelajaran bahasa yang dimaksudkan untuk komunikasi secara internasional. Bahasa Inggris merupakan bahasa yang memiliki kedudukan tinggi dalam skala internasional, Takao Suzuki menekankan seharusnya pendidikan bahasa Inggris di Jepang berdasarkan tipe pembelajaran yang ketiga, language for communication. Idenya tersebut sangat penting bagi perkembangan pendidikan bahasa Inggris di Jepang yang selalu berubah sesuai perkembangan jaman.

Penyebab lain yang dianggap menghambat pendidikan bahasa Inggris di Jepang adalah kualitas buku yang dipakai, kualitas guru pengajar, sistem pembelajaran di kelas, dan termasuk faktor grammar bahasa Inggris. Selain itu, faktor penghambat yang dilihat dari segi budaya adalah kecenderungan orang Jepang untuk diam dan tidak mudah berkomunikasi serta kesulitan untuk mengekspresikan perasaan mereka. Hal tersebut menyebabkan tidak adanya kemungkinan yang efektif untuk mereka mempraktikan bahasa Inggris yang sudah dipelajari ke dalam kehidupan sehari-hari.

Kesadaran pentingnya bahasa Inggris dalam kehidupan masyarakat Jepang juga masih jauh untuk bisa dikatakan tinggi, sehingga berdampak terhadap kebutuhan untuk menggunakan bahasa Inggris dalam berbagai hal sangat minim. Hal tersebut bisa dilihat dari acara-acara televisi yang dominan menggunakan bahasa Jepang, dan hampir dipastikan akan sulit menemukan orang-orang memakai bahasa Inggris, baik verbal maupun teks. Bahkan film Barat yang ditayangkan di televisi pun di-dubbing dengan bahasa Jepang, serta subtitle yang bertuliskan huruf kana dan kanji.

Olimpiade Tokyo 2020

Menyongsong Olimpiade 2020 yang akan diadakan di Tokyo, pemerintah Jepang mulai merencanakan untuk memasukan peljaran bahasa Inggris di kelas 3 sekolah dasar, serta melalui program Japanese English Teacher (JET), pemerintah berkomitmen untuk memperluas program yang sudah ada sejak dekade 80-an tersebut dengan menambah jumlah pengajar native bahasa Inggris.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s