Yasunari Kawabata pt.1

Yasunari Kawabata, Penulis, dan Sastra Indonesia

“Karya sastra Jepang yang pernah saya baca, novel karya Yasunari Kawabata dan Yukio Mishima”, itu jawaban dari Alm. Gus Dur saat menjawab pertanyaan Daisaku Ikeda, Presiden ke-3 Soka Gakkai, ketika ia ditanyai tentang karya sastra Jepang yang pernah dibacanya. Percakapan tersebut dikutip dari buku Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian. Menurut Gus Dur, yang membuat karya Yasunari Kawabata menarik adalah karena ia mengekspresikan keindahan modern Jepang dengan tetap mempertahankan tradisi dan nilai kebudayaan tradisional Jepang. Momen tersebut merupakan satu dari beberapa momen yang mengenalkan Yasunari Kawabata kepada penulis, selain karena antologi cerpennya yang berjudul Daun-Daun Bambu.

Karya-karya Yasunari Kawabata bisa dikatakan menempati tempat yang strategis bagi para penikmat sastra Indonesia, karena karya-karyanyalah yang paling sering dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia di antara penulis-penulis Jepang lainnya. Anton Kurnia, salah satu pegiat literasi Indonesia mencatat bahwa dalam rentang waktu 1972 – 2003, terdapat sembilan judul terjemahan karya Kawabata dalam bahasa Indonesia yag sudah diterjemahkan. Judul-judul tersebut mencakup terjemahan karya yang sama oleh penerjemah yang berbeda dengan pilihan judul yang berbeda pula. Baik karya yang sama yang ditulis oleh orang yang sama, maupun oleh orang yang berbeda. Sembilan judul tersebut belum termasuk karya-karyanya yang kembali diterjemahkan dan dipublikasikan ulang oleh penerjemah yang berbeda, dari 2003 sampai sekarang kurang lebih bertambah tujuh terjemahan baru. Penari-Penari Jepang mungkin yang paling familiar, antologi cerpen-cerpen Kawabata tersebut dialihbahasakan oleh sastrawan senior Indonesia dari tanah sunda, Ajip Rosidi, yang dibantu oleh Matsuoka Kunio dari judul The Dancer of Izu & The Other Stories pada tahun 1985. Termasuk satu dari tiga magnum-opus-nya, yaitu Yukiguni, dialihbahasakan oleh sastrawan kawakan A.S. Laksana dengan judul Daerah Salju.

Eka Kurniawan, penulis pertama Indonesia yang mendapat nominasi Man Booker Prize, berpendapat:

“Di novel-novel Kawabata, selain menemukan tokoh-tokoh yang diliputi hasrat seksual, kita juga menemukan benda-benda dan momen-momen: motif burung bangau di kain, upacara minum teh, dan lain-lain. Benda-benda dan momen-momen itu merupakan wilayah tafsir di mana kita bisa masuk ke kejiawaan tokoh (atau bahkan masyarakat, generasi, peradaban).”

 

Penyair M. Aan Mansyur menyebut Kawabata sebagai seorang penulis yang menyembunyikan keistimewaan melalui cerita yang biasa. Penulis Indonesia muda lain, Bernard Batubara memberikan apresiasi yang menyerupai seniornya, Eka Kurniawan, di atas, ia menganggap Kawabata secara sepintas tampak sederhana, sering kali hanya menceritakan satu kejadian kecil dengan kalimat dan paragraf pendek-pendek. Namun, di baliknya ada kualitas imaji dan asosiatif yang sangat dalam, mengantarkan kita ke arah tafsir yang amat beragam.

Testimoni-testimoni tentang Yasunari Kawabata yang penulis paparkan di atas merupakan sebuah ajuan bukti terhadap apa yang ditulis oleh kolumnis senior Kompas, Jacob Soemardjo, bahwa Kawabata menempati tempat spesial diantara pembaca sastra Indonesia. Karyanya dibaca oleh beragam generasi, dari Gus Dur sampai penulis-penulis muda Indonesia kontemporer, seperti Eka Kurniawan, M. Aan Mansyur dan Bernard Batubara.

Profil Yasunari Kawabata

Yasunari Kawabata lahir di Osaka pada 14 Juli 1899 dan meninggal di Zushi, Kanagawa, 16 April 1972 pada uia 72 tahun. Ia dilahirkan di Osaka dalam keluarga yang berkecukupan. Ia tinggal dengan berbagai macam orang pada masa kecilnya, sebab kedua orang tuanya meninggal pada saat ia berusia dini. Ayahnya yang seorang dokter meninggal saat ia berusia tiga tahun, diikuti oleh ibunya di tahun berikutnya. Kemudian ia tinggal bersama kakek dan neneknya. Pada saat usianya menginjak delapan tahun. Neneknya juga kemudian meninggal dunia, tepatnya September 1906. Sehingga ia tinggal hanya dengan kakeknya.

Pada Juli 1909 saat ia berusia sepuluh tahun, ia bertemu dengan kakak perempuannya yang diasuh oleh bibinya. Pertemuannya dengan kakak perempuannya itu untuk pertama kali dan terakhir kalinya, karena di tahun berikutnya kakak perempuannya tersebut juga meninggal dunia. Duka yang dijalani Kawabata belum berakhir, saat usianya menginjak 15 tahun, tepatnya Mei 1914, kakeknya juga meninggal dunia. Rentetan pengalaman hidup ditinggalkan kematian oleh keluarganya dan kesepian yang dialaminya tersebut, kelak akan mempengaruhi gaya kepenulisannya di masa akhir produktivitasnya sebagai seorang novelis.

Catatan hariannya yang berjudul Diary of a Sixteen-years-old, sebenarnya ditulis pada malam kematian kakeknya. Namun, buku tersebut dipublikasikan pada tahun 1925. Dalam buku tersebut, Yasunari Kawabata mencurahkan emosinya tentang kegelisahan dan kepahitan hidup di awal-awal hidupnya.

Setelah kematian kakeknya, ia tinggal bersama keluarga ibunya. Selama menempuh sekolah dasar, ia tergerak untuk menjadi seorang pelukis, dan tentu saja ia menikmati kegiatan tersebut. Pada Mei 1917, ia masuk ke sekolah menengah Dai Ichi Koutou Gakkou, sekolah menengah yang berada langsung di bawah Universitas Kekaisaran Tokyo, di Tokyo. Setahun sebelumnya ia keluar dari rumah dan pindah ke asrama SMP sampai ia masuk ke sekolah menengah atas. Selulusnya ia dari sekolah menengah atas pada tahun 1920, ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke tingkat universitas di Universitas Kekaisaran Tokyo dan masuk ke Fakultas Sastra Inggris.

Pada saat menempuh pendidikan di Tokyo inilah, ia memutuskan untuk menjadi seorang novelis. Hal tersebut ditandai dengan seringnya ia menulis essay dan artikel untuk penerbit majalah kecil dan beberapa koran lokal. Kikuchi Kan, seorang sastrawan Jepang saat itu, tertarik dengan karya-karya Yasunari Kawabata yang dikirmikan ke majalah sastra yang ia dirikan, Bungei Shunju. Sehingga pada tahun 1923, ia bergabung dengan majalah tersebut. Selain menulis fiksi, ia juga bekerja sebagai wartawan untuk beberapa majalah, salah satunya untuk Mainichi Shinbun di Osaka dan Tokyo.

Selama menjadi mahasiswa, ia menghidupkan kembali majalah Shin-shichou yang sudah vakum selam kurang lebih empat tahun. Pada majalah ini pula lah, cerpen pertamanya yang berjudul Shokonkai Ikkei (Suasana pada Suatu Pemanggilan Arwah) diterbitkan. Karya tersebut hingga kini masih diakui nilai sastranya. Namun, kemudian ia pindah ke Sastra Jepang dan menuntaskan pendidikannya di universitas dengan skripsi yang diberi judul Sejarah Singkat Novel-Novel Jepang.

Setelah lulus dari universitas pada tahun 1924, ia bersama teman-temannya menerbitkan jurnal sastra, Bungei Jidai. Jurnal tersebut merupakan titik awal dari sebuah gerakan kepenulisan baru yang bereaksi menentang naturalisme populer dan gerakan sastra proletariat yang berafiliasi dengan sosialime-komunisme. Gerakan seni yang diadopsi mereka adalah “seni untuk seni” yang dipengaruhi oleh kubisme Eropa, ekspresionisme, dadaisme, dan gaya modernisme lainnya. Kemudian Kawabata pindah dari Asakusa ke Kamakura, Prefektur Kanagawa pada tahun 1934. Pada awalnya ia menikmati kehidupan sosial yang aktif bersama para sastrawan dan penulis lainnya di Asakusa, Tokyo, semasa berlangsungnya Perang Dunia II dan beberapa lama sesudahnya. Namu, pada tahun-tahun berikutnya, Kawabata menjadi sangat menutup diri.

Pada tahun 1948, ia ditunjuk sebagai ketua dalam pertemuan Japanese PEN Club. Kemudian pada tahun 1954, ia juga terpilih menjadi salah satu anggota dari Japanese Academy of The Arts. Pada tahun 1968, ia mendapat penghargaan Nobel Prize di bidang sastra. Penghargaan tersebut menjadikannya sebagai penulis Jpenag pertama yang mendapatkan penghargaan prestisius tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s