Yasunari Kawabata pt.2

Penghargaan Nobel Prize

Dalam pidato yang ia bacakan ketika mendaptakan Nobel Prize 1968, ia dengan rinci menjelaskan akar referensi yang ia dapat untuk kemudian nantinya mempengaruhi gaya kepenulisannya. Judul pidato tersebut adalah Japan, The Beautiful, and My Self.

Beberapa hal yang dianggap dari para pembacanya tentang karya-karyanya ia paparkan. Misalnya, banyak orang yang merasa bahwa upacara teh yang menjadi tema pada novel Senbanzuru merupakan sebuah pengenangan akan keindahan formal dan spiritual upacara minum teh. Ia menampik hal tersebut dan menegaskan bahwa karya tersebut merupakan karya yang negatif yang mengekspresikan keraguan tentang dan peringatan terhadap kenyataan memudarnya penjiwaan minum teh.

Dalam pidatonya berkali-kali ia mengutip sajak-sajak penyair Jepang abad pertengahan. Ryokan, Dogen, Ikkyu, Saigyo, bahkan Ryunusuke Kutagawa pun ia hadirkan sebagai satu penjelasan yang bahu membahu merepresentasikan Jepang dan dinamika kesusastraannya yang sudah berlangsung lama. Hal tersebut menunjukan luasnya pengetahuan dan referensi sastra klasik Jepang yang ia ambil untuk dijadikannya sandaran dalam karya-karyanya. Kebanyakan penyair yang ia kutip adalah seorang pendeta, khususnya mereka yag memeluk Buddha sekte Zen, sebagaimana ia sendiri. Seperti teori Watsuro Tetsuji tentang Fudo, keindahan alam Jepang yang timbul akibat perubahan ke empat musimnya menempati posisi strategis bagi Kawabata.

Satu hal yang menarik adalah, ketika Kawabata mengakui bahwa karya sastra klasik terbesar Jepang, Genji Monogatari, merupakan bacaan favoritnya semenjak remaja. Ia berpendapat bahwa karya sastra yang ditulis oleh Murasaki Shikibu tersebut memiliki pesona tinggi, sehingga banyak yang kemudian meniru dan menulis ulang karya serupa sebagai penghormatan. Karya tersebut juga merupakan sumber yang luas dan dalam bagi banyak sekali sajak, karya seni, kerajinan tangan, bahkan lanskap pertamanan, tambahnya.

Pada akhir pidatonya, ia menegaskan bahwa potret kehampaan yang ia hasilkan merupakan hal yang berdasarkan pada konsep Timur yang dilandasi oleh landasan spiritual yang sungguh berbeda dengan di Barat.

 Kematian Yasunari Kawabata dan Hal yang Tersisa

Hal yang termasuk dikutip dalam pidato Nobelnya adalah catatan Ryunosuke Akutagawa sebelum ia melakukan bunuh diri.

“Aku hidup dalam sebuah dunia dengan tekanan jiwa yang mengerikan, jernih dan dingin seperti es. Aku tak tahu kapan akan datang panggilan untuk bunuh diri. Tetapi alam bagiku lebih indah dibanding sebelumnya. Aku tak ragu bahwa kau akan tertawa melihat kontradiksi ini, karena aku mencintai alam bahkan ketika aku merenungkan tindakan bunuh diri. Tapi akan nampak indah karena sebenarnya ia datang untuk memasuki mataku pada saat-saat sekarat.”

Untuk catatan tersebut Kawabata memberi sebuah komentar dalam essai-nya yang berjudul “Pandangan Mata Saat Sekarat”.

“Betapa pun seorang teralienasi dari dunia, tetapi bunuh diri tetaplah bukan bentuk pencerahan. Betapa pun mengagumkan, tetapi orang yang memutuskan bunuh diri tetaplah jauh dari dunia orang suci.”

Kemudian ia melanjutkan komentarnya dengan sebuah pertanyaan, “Di antara mereka yang menggunakan otaknya untuk berpikir, adakah orang yang tak pernah memikirkan bunuh diri?”

Kawabata dianggap bunuh diri akibat kesedihan dan kehampaan yang dialaminya pasca kematian salah satu sahabat dekatnya, Yukio Mishima, yang juga salah satu sastrawan Jepang. Yukio Mishima mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri pada tahun 1970. Butuh waktu dua tahun untuk Kawabata mengikuti jejak temannya tersebut melalui ritual bunuh diri. Keluarga membantah Kawabata mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, mereka mengklarifikasi bahwa kematian Kawabata adalah karena ia tak sengaja menghirup gas beracun saat hendak mandi.

Pada Juli 2014, media The Japan Times menurunkan artikel tentang penemuan surat cinta Kawabata yang tak sempat terkirim kepada seorang perempuan yang bernama Hatsuyo Ito. Perempuan tersebut diyakini menjadi pengaruh Kawabata dalam menuliskan karya-karya awalanya, seperti Hijo dan Izu no Odoriko.

Napak Tilas Yasunari Kawabata

Footstep of Yasunari Kawabata adalah sebuah program yang diadakan untuk mengunjungi tempat-tempat penting yang berkaitan dengan perjalanan hidup Kawabata.

Napak tilas ini dimulai dari tempat kelahiran Kawabat di Osaka, tepatnya di sebuah rumah yang terletak di sebelah timur gerbang depan kuil Tenmangu. Sebuah monumen yang terbuat dari batu dibangun di dekat pintu masuk, sebagai tanda tempat kelahiran penulis tersebut. Tempat berikutnya berlanjut ke Pref. Ibaraki, tempat di mana Kawabata tumbuh dan besar. Perjalanan menggunakan Hankyu Railway yang kurang lebih memakan waktu sekitar 20 menit.

Setibanya di Ibaraki, tempat pertama yang dikunjungi adalah kuburan Kawabata. Tidak jauh dari tempat tersebut, sekitar satu menit berjalan kaki, ada sebuah toko buku yang bernama Toratani Seseido, yang merupakan tempat Kawabata dan teman-temannya membaca dan membeli buku-buku. Tempat selanjutnya adalah SMA di mana Kawabat lulus pada tahun 1917. Di tempat tersebut dibangun sebuah monumen yang disebut monumen sastra. Kata-kata yang tertulis di monumen tersebut merupakan kata-kata yang dicetuskan Kawabata.

The Ibaraki Municipal Kawabata Literature Memorial Hall, merupakam tujuan berikutnya. Sebuah tempat yang bisa dibilang merupakan museum Kawabata. Banyak benda-benda yang berkenaan dengan dirinya disimpan di tempat ini. Perjalanan dilanjutkan ke rumah tempat Kawabata tinggal di kota ini dan diakhiri di salah satu tempat yang disukai Kawabata, jembatan Sumiyossan. Wisata tersebut bisa diikuti dengan membayar biaya sebesar ¥ 2.600.

Filmografi

Pada tahun 1926, Kawabata menulis skenario untuk sebuah film bisu besutan sutradara Teinosuke Kinugasa. Film tersebut hilang dalam waktu yang lama, sampai akhirnya ditemukan di gudang rumah Kinugasa pada tahun 1971. Film tersebut berjudul Kurutta Ichipeiji, yang dibuat oleh kolektif seniman avant-garde Jepang, Shinkankakuha, untuk merepresentasikan seni naturalisme. Ia juga menulis skenario untuk beberapa film lainnya.

Selain itu, banyak karyanya juga  yang diangkat ke dalam sebuah film dan seni peran lainnya. Beberapa novel dan cerpennya diangkat ke layar lebar oleh sutradara yang berbeda. Twin Sister of Tokyo (Koto) adalah salah satu film yang diproduksi berdasarkan cerita novel Koto. Film tersebut dirilis pada tahun 1963 dan disutradarai oleh Noboru Nakamura. Academy Award memasukan film tersebut sebagai nominasi dalam kategori The Best Foreign Language.

Bahkan dalam serial televisi Tamayura, tercatat juga Yasunari Kawabata telibat sebagai pemain.  Karya-karya Kawabata lainnya, baik novel, cerpen, atau skenario yang ia tulis, berulang kali didaur ulang menjadi film, serial televisi, dan seni peran lainnya.

Daftar karya tulis Yasunari Kawabata:

  1. Diary of a Sixteen-years-old,
  2. Izu no Odoriko (The Dancing Girl of Izu),
  3. Asakusa Kurenainda (The Scarlet Gang of Asakusa), 1930.
  4. Yukiguni (Snow Country),
  5. Senbazuru (Thousand Cranes),
  6. Meijin (The Master of Go), 1954.
  7. Yama no Oto (The Sound of Mountain),
  8. Mizuumi (The Lake),
  9. Nemureru Bijo (The House of The Sleeping Beauties),
  10. Koto (The Old Capital),
  11. Utsukushisa to Kanashimi to (Beauty and Sadness),
  12. Kataude (One Arm),
  13. Tenohira no Shosetsu (Palm of The Hand Stories),

Daftar film diadaptasi dari karya-karya Yasunari Kawabata:

  1. Kurutta Ichipeiji (1926), sutradara Teinosuke Kinugasa.
  2. Asakusa Kurenaidan (1930), sutradara Sadae Takami.
  3. Koi no Hana Saku: Izu no Odoriko (1933), sutradara Henosuke Gosho.
  4. Otomoe-gokoro – Sannin-shimai (1935), sutradara Mikio Naruse.
  5. Mihime no Koyomi (1935), sutradara Yasushi Sasaki.
  6. Arigatou-san (1936), sutaradara Hiroshi Shimizu.
  7. Meshi (1951), sutradara Mikio Naruse.
  8. Maihime (1951), sutradara Mikio Naruse.
  9. Asakusa Kurenaidan (1952), sutradara Seiji Hisamatsu.
  10. Senbazuru (1953), sutradara Kozaburo Yoshimura.
  11. Yama no Oto (1954), sutaradara Mikio Naruse.
  12. Izu no Odoriko (1954), sutaradara Yoshitaro Nomura.
  13. Kawa no Aru Shitamachi no Hanashi (1955), sutradara Teinosuke Kinugasa.
  14. Niji Ikutabi (1956), sutradara Koji Shima.
  15. Tokyo no Hito (1956), sutradara Katsumi Nishikawa.
  16. Yukiguni (1957), sutradara Shiro Yoyoda.
  17. Kaze no Aru Michi (1959), sutradara Katsumi Nishikawa.
  18. Izu no Odoriko (1960), sutradara Yoshiro Kawazu.
  19. Izu no Odoriko (1963), sutradara Katsumi Nishikawa.
  20. Twin Sisters of Kyoto (Koto) (1963), sutradara Noboru Nakamura.
  21. Izu no Odoriko (1964), sutradara Hideo Onchi.
  22. Utsukushisa to Kanashimi (1965), sutradara Masahiro Shinoda.
  23. Onna no Mizuumi (1966), sutradara Yoshishige Yoshida.
  24. Nemureru Bijo (1967), sutradara Kozaburo Yoshimura.
  25. Yukiguni (1969), sutradara Hideo Oba.
  26. Senbazuru (1969), sutradara Yasuzo Masumura.
  27. Hi mo Tsuki mo (1969), sutradara Noburo Nakamura.
  28. Izu no Odoriko (1974), sutaradara Katsumi Nishikawa.
  29. Tristesse Et Beaute (1985), sutradara Joy Fleury.
  30. Twin Sisters of Kyoto (Koto) (1980), sutradara Kon Ichikawa.
  31. Nemureru Bijo (1995), sutradara Hiroto Yokoyama.
  32. Sleeping Beauties (2001), sutradara Eloy Lezano.
  33. House of The Sleeping Beauties (2006), sutradara Vadim Glowna.
  34. Yubae Shojo (2008), sutradara Shinju Funabiki dan Natsuki Seta.
  35. Xin (2009), sutradara Edmund Yeo.
  36. Kingyo (2009), sutradara Edmund Yeo.
  37. Tenohira no Shosetsu (2009), sutradara Tsukasa Kishimoto dan Nobuyuki Miyake.
  38. Red Dance (2010), sutradara Nguyun Thi Nam Phuong (animasi).
  39. The Old Capital (Koto) (2016), sutradara Yuki Saito.

Program televisi:

  1. Izu no Odoriko, NHK (1961).
  2. Tamayura, TV series (1965-1966).
  3. Yukiguni (1970).
  4. Izu no Odoriko, KTV (1967).
  5. Izu no Odoriko, Terebi Tokyo (1993).
  6. Ayahiki Bungo Kaidan, TV Series (2010).
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s