How Amazing Japan: Kata Mereka Itu Bukan Jepang!

Beberapa hari lalu, setelah kali terakhir di Februari 2016, saya kembali ke Stasiun Pasar Senen. Ada yang tampak beda, berdiri sebongkah mesin penjual minuman otomatis. Sontak saja ingatan tertuju ke medio pertengahan Desember 2010, tepat saat pertama kali saya memijakan kaki di negara matahari terbit, Jepang. Kala itu juga pertama kalinya melihat dan merasakan manfaat mesin penjual minuman otomatis, jidouhanbaiki.
Namun, ada perbedaan mencolok tentang jidouhanbaiki di Jepang dan Indonesia. Jidouhanbaiki di Jepang sudah ada sejak tahun 60-an, pun jenisnya beragam, tak hanya sebatas menjual minuman belaka, benda lain pun dijual, seperti payung, rokok, makanan, bahkan celana dalam, dan lain-lain. Mesin tersebut bisa melayani dan memenuhi kebutuhan secara urgent bak robot yang pintar nan jenius. Bahkan ada yang ketika hendak didekati saja, si mesin mengucapkan salam dengan bahasa yang santun, sungguh sangat praktis! Berbeda dengan mesin yang ada di Indonesia, yang dijaga oleh seorang penjual di samping mesin tersebut. Walaupun saat kita dekati sama-sama bersuara, tentu suara tersebut datangnya berasal dari sang penjual yang akan melayani dan menanyakan kita hendak membeli apa.

Perbedaan tersebut membuat saya menaruh kagum terhadap Jepang, bukan karena perbedaan kecanggihan mesinnya, tetapi lebih kepada hal, pada aspek tertentu, ternyata kejujuran orang Jepang sudah sampai pada level yang jauh dari orang Indonesia. Bayangkan kalau di Indonesia seperti itu, mungkin yang akan hilang bukan hanya saja minuman-minuman yang berderet menghiasi mesin tersebut, tetapi uang dan mesinnya pun bisa raib dicuri masyarakat kita.

Dalam kasus lain yang kurang lebih serupa, suatu kali saya melewati jalanan berkendara dengan mobil. Orang Jepang yang pergi bebarengan dengan saya seketika berhenti dan turun dari mobil untuk menghampiri sebuah tempat penjualan. Saat itu ia hendak membeli lobak, dengan hanya mengambil lobak dan menaruh uang begitu saja, ia kembali ke dalam mobil. Kejadian tersebut sungguh membuat saya tidak habis pikir, bisa-bisanya orang Jepang menjual dagangan mereka hanya dengan menaruh, menulis harga dan kemudian meninggalkannya tanpa seorang pun penjaga di jalanan umum.
Dua peristiwa kecil tesebut adalah hal yang pertama kali mengenalkan Jepang secara langsug dan membuat kagum saya terhadap Jepang dari segi budaya masayarakatnya.

Saya bukan orang yang menyukai tentang kejepangan, tetapi satu dan beberapa hal membuat saya bisa bersinggungan dengan Jepang. Semua berawal ketika saya diterima sebagai pemagang untuk bekerja di Jepang. Semua bayangan indah tentang Jepang semacam menjalar-akut di otak, dengan sedikit tertawa jahat “kemenangan gue raih, dibanding lo yang dari dulu ngidamin Jepang, akhirnya gue bisa pergi ke Jepang” ejek saya ke salah satu teman dekat yang benar-benar mencintai Jepang. Saat itu pula saya mulai belajar bahasa Jepang. Tetapi saat bersamaan, pegumuman SNMPTN menyatakan bahwa saya diterima di salah satu PTN di Jawa Tengah. Mau tidak mau saya harus memilih salah satu dan menanggalkan opsi lainnya. Akhirnya kesempatan pergi ke Jepang lah yang dipilih, dan dengan berat hati “membakar” bangku kursi kuliah yang sudah didambakan sejak dulu.

Berbicara tentang Jepang, tentunya akan identik dengan Tokyo, Kyoto, sakura, shinkansen, Gunung Fuji, Disney Land, Disney Sea, Universal Studio, samurai, anime, manga, sushi, dan jenis budaya populer lainnya. Saya sendiri langsung teringat dengan produk transportasi cepat mereka, yaitu shinkansen, pernah sejak kecil punya impian suatu saat akan menaiki kereta cepat tersebut. Tetapi apa yang saya dapat dari Jepang adalah bertolak belakang dari apa yang digambarkan masyarakat umum tentang negara tersebut.

Saya bekerja di sebuah kapal perikanan di salah satu tempat yang bernama Omaezaki. Aktivitas pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga tidak memungkinkan bagi saya dan teman lainnya untuk “sekadar” melakukan wisata ke tempat-tempat terkenal di Jepang. Alih-alih untuk berwisata mengisi waktu liburan, untuk mengistirahatkan badan pun sulit. Dalam setahun, 10 bulan mengarungi laut, walaupun sering ke darat, tapi tidak lebih hanya untuk menjual dan membongkar hasil tangkapan. Sementara 2 bulan lainnya dihabiskan di daratan, itu pun dibebankan dengan pekerjaan lain, seperti mengecat kapal, membereskan gudang kapal, dan lain-lain.

Gunung Fuji adalah sedikit hal yang bisa menolong, karena letaknya yang berada di Prefektur yang saya tinggali, Pref.Shizuoka. Setiap hari andaikata kebetulan sedang berada di Omaezaki, keindahan gunung tersebut selalu tampak dan bisa dinikmati dari pelabuhan. Sampai sekarang pun saya masih menganggap bahwa gunung tersebut adalah yang terindah yang pernah saya lihat. Hal lain yang juga sedikit mejadi pelipur lara adalah ketika pertama kali merasakan hanami –menikmati sakura yang bermekaran– saat datangnya musim semi di salah satu daerah pesisir pantai di Hamaoka untuk pertama dan terakhir kalinya. Sebab di musim semi tahun berikutnya dan berikutnya adalah periode di mana kapal sedang mendapat hasil tangkapan melimpah dengan daerah penangkapan yang jauh, sehingga sangat mustahil untuk libur dan menikmati keindahan sakura yang sangat singkat itu. Pengalaman tersebut sangat gamblang menggambarkan filosofis bunga sakura sebagai mono no aware, yang berarti perlambangan tentang kesedihan. Saya sedih hanya sesingkat itu bisa memegang dan menikmati sakura dalam waktu tiga tahun.

942151_417783058331266_70983594_n
Kapal Dai 10 Jintoku Maru, Arsip pribadi

Masih ingat dengan tsunami 11 Maret 2011 yang melanda daerah Tohoku? Tsunami yang dianggap sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Jepang. Dua hari sebelum terjadi tsunami dahsyat tersebut, saya naik kapal untuk pertama kali. Saat kejadian, saya tengah berada di tengah laut, menerima kabar tersebut dari informasi radio yang diterima oleh juru komunikasi kapal. Betapa kaget dan shock-nya waktu itu, perasaan pasrah sudah memenuhi isi hati dan pikiran. Baru dua bulan di Jepang dan baru saja naik kapal untuk kali pertama sudah dihadapkan dengan hal yang sungguh di luar kehendak manusia. Pikiran saya tertuju kepada keluarga, yang jelas mereka pasti menganggap saya tersapu tsunami, atau minimal tewas dengan mayat yang bertumpukan dengan mayat lain. Enam hari setelah tsunami tersebut, trip pertama berhasil dituntaskan dan akhirnya bisa masuk ke pelabuhan. Ibu yang sesegera mungkin saya telpon, larut dalam isak tangis yang meluluhlantak. Saat itu hanya bisa bertanya pada diri sendiri, apakah saya benar-benar sedang di Jepang?

September 2011, enam bulan setelah bencana tersebut, kapal saya masuk ke pelabuhan Kesennuma, satu dari sekian banyak tempat yang diterjang tsunami. Hal tersebut merupakan hal lazim, karena terhitung dari september sampai november setiap tahunnya, mengikuti pergerakan dan musim ikan yang semakin naik ke daerah perairan atas mengikuti perubahan musim, kapal-kapal penangkap ikan cakalang sering menjual dan melelang ikan tangkapannya di pelabuhan tersebut. Kondisi Kesennuma yang saya lihat via YouTube enam bulan sebelumnya dengan apa yang saya lihat langsung saat pertama kali masuk ke pelabuhan tersebut sangat berbeda. Mobil-mobil bekas yang hancur tersusun dengan rapih secara menumpuk di suatu tempat pembuangan, di beberpa tempat terlihat sedang digalakan reinfrastructure, menunjukan bahwa progress penanganan bencana  di Jepang itu sangat cepat. Saya masih ingat kapal besar jenis purse sein yang sampai terhempas ke daratan selama berbulan-bulan pada akhirnya dipotong dan bongkahannya dipindahkan entah kemana. Satu pengalaman yang membuat saya juga kagum terhadap Jepang. Tak diragukan.

images
sumber: http://www.takebeyoshinobu.com/?cat=19&paged=4

***

Setiap hari menjalani rutinitas pekerjaan sebagai kewajiban di tengah laut, patut diakui membuat jenuh. Terlebih lagi melihat postingan teman-teman yang bekerja di darat, selalu memposting foto-foto jalan-jalan mereka di media sosial. Seorang teman memposting foto-foto mereka di Tokyo Tower, ada yang sedang selfie di patung gundam di Odaiba, ada yang sedang bermain ski di atas es yang licin, ada yang juga sedang berkunjung ke festival Gion yang terkenal dari Kyoto itu, da nada pula yang tempat tinggalnya dihujani salju dan beberapa mereka memamerkannya dengan penuh suka cita. Untuk yang terakhir saya tuliskan, lagi-lagi hanya sebuah impian belaka, kalimat “Akhirnya saya punya kesempatan memegang dan menjilat salju!” yang sudah jauh-jauh hari ingin diucapkan dan sudah terbayangkan semenjak berada di Indonesia tidak pernah terucapkan, karena kebetulan Omaezaki adalah tempat yang tidak disinggahi salju.

Sebagai orang yang bekerja di laut, bukan berarti saya juga tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, walkhusus tentang suatu tempat, mungkin banyak teman-teman atau masyarakat umum lainnya tidak bisa mengunjungi tempat yang saya bisa kunjungi.. Misal, Hachijou-jima, pulau yang membentang luas yang di dalamnya terdapat sebuah bandara. Pulau ini termasuk ke daerah teritorial ibu kota Tokyo. Saya selalu suka dengan dengan pulau ini karena ketika malam datang, pulau ini berwarna dengan beragam warna lampu. Pulau ini juga sering dijadikan patokan perkiraan waktu tiba ke pelabuhan. Kalau sudah kelihatan pulau ini, otomatis waktu tiba ke pelabuhan tak lama lagi. Saat itu saya selalu senang, karena akhirnya saya masuk darat setelah bekerja penuh peluh di lautan. Perasaan tersebut selalu berulang sama.

Kalau berlayar lebih ke arah utara lagi, kita akan menemukan Aoga-shima, yaitu sebuah pulau yang berbentuk seperti gunung merapi, karena terdapat lembah di dalamnya. Sama halnya dengan Hachijou-jima, pulau ini juga berpenghuni dan merupakan wilayah teritorial ibu kota Tokyo. Sekeliling pulau tersebut sering dijadikan daerah penangkapan.

Selain dua pulau di atas, pemadangan indah nan bagus juga akan kita dapati di sebuah gugusan karang yang menjulang tinggi nan megah, Shofu,  juga di Tori-shima. Khusus untuk Tori-shima, tampak seperti bukit landai yang tandus. Konon di pulau tersebut juga pernah dijadikan sebagai markas militer tentara Amerika Serikat.

arsip pribadi
Aoga-shima, arsip pribadi
img_1759
Aoga-shima, arsip pribadi

Bukan hanya tempat-tempat yang diceritakan di atas yang bisa saya pamerkan, tetapi  kebanggaan lain yang saya jadikan sebagai tandingan atas euforia foto-foto wisata teman-teman adalah kemampuan saya memotong ikan dan meyajikannya sebagai sashimi. Sudah merupakan hal yang sangat lumrah bagi orang yang bekerja dengan ikan sebagai objek utama, untuk bisa memotong ikan. Berbagai macam ikan dengan tingkat kesulitan yang berbeda sedikit demi sedikit bisa saya potong dengan cara potong ala Jepang. Mulai dari cakalang sampai lemadang.

Berkenaan dengan pernah berpartisipasi dengan Jakarta Osoji Club –sebuah kolektif yang menjadi volunteer kebersihan sampah di Jakarta– Jepang dan sampah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bukan berarti Jepang adalah negara yang penuh dengan sampah, tentu saja di setiap negara mengahsilkan sampah. Namun, penanganan sampah di Jepang sangatlah terorganisir. Walaupun sedikit merepotkan, tetapi lagi-lagi tidak mengurangi rasa kagum saya terhadap negeri ini.

Dalam satu produk, bisa terurai menjadi bagian-nagian sampah yang tidak boleh dibuang pada satu tempat. Misal, pack-bentou, akan terurai menjadi namagomi atau moerugomi (sampah basah) dan pura (sampah plastik). Jadwal membuangnya pun tidak sembarangan, tapi sesuai jadwal yang sudah ditentukan di daerah tersebut. Misal, hari ini kita bisa membuang namagomi, tapi besok tidak bisa. Satu hal yang cukup menggelikan bagi saya adalah, untuk membuang sampah pun kita harus merogoh kocek untuk membeli plastik sampah yang dijual di convenience store dan supermarket. Plastik-plastik tersebut pun dibedakan engan beragam warna sesuai jenis sampahnya. Ribet?

Suatu kali saya berkesempatan pergi ke tempat pembuangan sampah akhir di Omaezaki, kesempatan ini saya gunakan untuk mengambil foto-foto proses sortir dan pembuangan sampah di tempat tersebut. Sama halnya dengan perlunya membeli plastik sampah, ketika hendak membuang sampah di sini pun dikenakan biaya sesuai dengan jumlah berat sampah yang ingin kita buang.

arsip pribadi

***

Sedikit telat mengetahui informasi lomba blog ini, tapi tak menyurutkan saya untuk berpartisipasi. Tiga tahun tinggal di Jepang, cerita di atas sedikit atau banyak adalah pengalaman yang saya dapatkan. Suatu kisah yang tentunya kalau saya ceritakan kepada orang lain, akan tampak bahwa saya tidak pernah pergi ke Jepang sekalipun, karena tidak bersinggungan dengan tempat-tempat dan bayangan orang secara umum terhadap Jepang. Bahkan teman saya pernah berkata “Kalau belum ke Tokyo, foto di Sky Tree dan Tokyo Tower, terus maen ke Arashiyama atau mendaki gunung Fuji, terus pulangnya naik shinkansen, lalu singgah buat main ski di atas salju, sama aja belum pernah ke Jepang kali.” Saya pernah ke Tokyo, sekedar lewat menuju Narita, ketika hendak mau pulang ke Indonesia. Waktu itu pembangunan Sky Tree belum rampung. Hanya sebatas itu.
Saya tidak bisa menghindari anggapan semacam itu, tapi dengan adanya kesempatan ini semoga His Travel Indonesiasalah satu agen travel di Indonesiabisa mengkomplitkan perjalanan Jepang saya sehingga bisa dianggap “mabrur.” Saya tidak terlalu tahu dengan His Travel Indonesia, tetapi setelah mencoba menghimpun informasi, penawaran-penawaran paket wisatanya menarik. Mereka mengemasnya dengan poster dan visual yang menggoda, setidaknya saya sebagai penikmat seni visual merasa hal tersebut perlu, bahkan sangat perlu.

Kalaupun pada kesempatan kali ini saya gagal, saya percaya masih ada kesempatan lain yang akan membawa saya ke Jepang (lagi) dan mengunjungi deretan tempat yang orang lain juga ingin kunjungi dari negara ini. Sebagai mahasiswa sastra Jepang mungkin saya punya banyak kesempatan pergi ke Jepang sebagai apapun, tetapi tentunya saya juga ingin membagi keindahan Jepang dan pergi Wisata ke Jepang bersama keluarga. Kelak jika saya sudah bekerja dan memiliki penghasilan, memakai layanan HAnavi bukanlah hal yang mustahil. HAnavi memungkinkan kita berwisata dengan mekanisme yang mudah dan harga yang lebih murah. Bagi teman-teman yang memiliki keinginan yang sama dengan saya, silakan cek langsung ke web HIS Travel Indonesia.
“Itu mah sama aja kamu gak pernah ke Jepang,” ejek tambahan teman saya dibarengi dengan ketawa yang sedikit jahat.

Ayok!

HIS Amazing Sakura - Blogger Competition

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s