Tontonlah Bangumi Jepang!

Namanya adalah Rina, ia berusia 12 tahun dan hendak pergi ke Iran mengunjungi kakeknya. Kakek yang sedari ia lahir, tumbuh, dan besar di Jepang belum pernah sekalipun ditemuinya. Kepergiannya tak ditemani oleh adiknya yang  usianya terpaut 4 tahun, karena pada hari H sang adik mendadak sakit.

Singkat cerita, kepergiannya ke Iran sempat dilarang oleh ayahnya. Hal tersebut dikarenakan sang anak bermaksud menemui sang kakek yang ternyata memiliki konflik masa lalu dengan sang ayah, yang membuat sang ayah pergi dan menetap di Jepang. Kejadiannya terjadi 20 tahun lalu, dan selama itu pula sang kakek dan sang ayah tidak pernah berkomunikasi. Rina yang berkeinginan ingin merukunkan keduanya, pergi ke Iran sembari membawa seperangkat dudukan toilet ala Jepang sebagai hadiah untuk sang kakek yang diketahui sering mengalami sakit pinggang ketika “berkesenian.” Itu dikarenakan toilet di Iran adalah toilet jongkok, sama dengan toilet saya di rumah.

Cerita tersebut adalah satu dari program televisi Jepang yang dikenal dengan istilah bangumi, berjudul Nihon O Hokori Ni Omoeru. Bangumi tersebut memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk menghadiahkan produk-produk made in Japan kepada orang terdekat yang dinyana tidak ada di negara lain, dibarengi dengan latar belakang cerita menarik atau permasalahan sosial yang melibatkan sekelingkup orang-orang tersebut. Drama? Tentu bukan, ini kisah yang nyata.

***

Beberapa hari lalu, dalam salah satu tayangan televisi “berkualitas” di salah satu acara stasiun televisi swasta, terjadi konflik yang melibatkan dua pedangdut kontemporer panutan masyarakat Indonesia. Keduanya saling beradumulut tentang hal yang kalau ditimbang dengan seksama, hanya persoalan remeh-temeh yang pernah sama-sama kita pernah alami di Taman Kanak-kanak dahulu kala. Cekcok tersebut berujung pada makian dan umpatan dengan kata-kata yang seharusnya tidak muncul di layar kaca. Menggelikan? Ya. Saya sendiri tak habis pikir, kenapa mereka kok bisa berkata sedemikian “sopan” di layar kaca. Terlebih  lagi satu diantaranya mengeluarkan kata-kata binatang. “Ini bagaimana kalau anak-anak kecil maniak dangdut menonton?” pikirku.

Semenjak tayangan televisi Indonesia hanya diisi sinetron melulu, hasrat untuk memiliki televisi flat 33 inch barangkali tak lebih hanyalah olok-olok belaka. Kalau dikualifikasikan dengan skala prioritas, hal tersebut bahkan tidak masuk dalam skala tersier, mungkin sepuluh level lebih  rendah dari itu, sebut saja “mermier (?).”

Sebagai anak sastra Jepang, bangumi Jepang sangat efektif bagi saya dalam belajar bahasa Jepang, juga sangat memberikan pengaruh signifikan bagi perkembangan skill bahasa Jepang saya. Hal itu karena pada bangumi tersebut terdapat jimakusubtitle dalam huruf kana dan kanji – yang muncul di layar sesuai dengan apa yang dibicarakan talent tersebut.

Bukan hanya itu, yang menarik dari bangumi Jepang adalah sajian pembahasannya yang menarik. Mereka bisa saja mengangkat isu sosial, seperti tentang pendidikan, budaya, teknologi dll, atau mengulas habis-tuntas hal-hal sepele yang sangat tidak mungkin sekali dihadirkan di program televisi Indonesia. Acara-acara kebanyakan dibuat dengan format talk-show, jadi talent yang tampil di acara tersebut saling berbincang dan berbalas berpendapat. Salah satu yang paling sering hadir adalah Dewi Fujin, istri almarhum Presiden Soekarno.

Misalnya, dalam acara You Wa Nani O Shi Ni Nippon E, acara yang mewawancarai para turis tentang alasan kedatangan mereka ke Jepang. Saya mendapat banyak sekali sudut pandang orang-orang mancanegara tentang Jepang, pun sebaliknya. Bagaimana orang-orang tersebut hanya punya alasan sederhana untuk mendatangi negara yang budayanya mereka cintai. Ada yang hanya untuk sekadar berwisata, ada yang datang untuk kuliah, bahkan ada yang datang hanya untuk berkunjung ke tempa-tempat kecil yang sama sekali tidak dikenal masyarakat luas.

Satu episode pernah menayangkan dua orang backpacker asal Norwegia yang hanya memiliki budget terbatas, ingin menjelajahi Jepang dari ujung Hokkaidou sampai Okinawa. Anehnya mereka hanya datang dan tidak tahu harus pergi ke mana, atau tempat seperti apa yang ingin dikunjungi. Pada akhirnya, buku panduan yang mereka bawalah yang diajadikan acuan, mereka membuka halaman secara acak dan pergi ke tempat yang ada di halaman tersebut.

Episode lain menayangkan tentang seorang pemuda asal Inggris yang berencana melakukan perjalanan dari Kagoshima sampai Tokyo hanya dengan berjalan kaki. Dengan jarak sejauh itu, mungkin akan selesai ditempuh dengan waktu hampir enam bulan. Walaupun pada akhirnya perjalanan sang turis hanya bertahan dalam waktu seminggu, karena setelahnya ia menghilang tanpa pamit. Kegagalan misinya tersebut adalah kali ke-2, setelah tahun sebelumnya juga gagal. Bagi saya itu sangat luar biasa, bahwa ada dan masih banyak orang datang dari berbagai negara ke Jepang tidak hanya berkeinginan untuk berpose di Asakusa, Tokyo Tower, dan Sky Tree, atau berwisata menikmati gunung Fuji, sakura, salju, dan bahkan Tokyo Dome belaka.

Acara lain yang juga menarik adalah Nihon E Ikitai Hito Ouendan, yaitu acara yang memberikan kesempatan bagi mereka warga mancanegara untuk datang ke Jepang. Pihak bangumi ini pergi ke berbagai negara dan mencari orang yang sangat ingin sekali datang ke Jepang dan mengundangnya untuk datang ke Jepang, gratis! Sebuah apresiasi yang sangat mengharukan kepada orang-orang yang mencintai Jepang. Hal ini tentu mustahil dilakukan oleh stasiun televisi kita. Saya pun berandai-andai didatangi oleh pihak bangumi tersebut, semoga.

Tidak hanya acara yang mengekspos orang mancanegara yang datang ke Jepang, ada acara yang justru mengekspos orang Jepang di luar negeri. Pergi ke berbagai macam negara dan mencari orang Jepang yang tinggal di negara tersebut. Seperti Sekai Naze Soko Ni Nihonjin dan Sekai No Nihonjinzuma Wa Mita, yang saya sebut terakhir adalah acara yang mengulas tentang perempuan yang menjadi istri orang asing di mancanegara.

Suatu ketika ada tayangan tentang perempuan yang menjadi istri dari orang Korea Selatan yang karena urusan pekerjaan menetap di satu negara kecil, Malta. Pada saat itu, mereka sedang membangun sebuah rumah, sang istri langsung turun tangan membantu pembangunan rumahnya, turut dibantu juga oleh para tetangga sekitar. Dari episode ini saya menjadi tahu, bahwa di Malta, membantu tetangga membangun rumah tanpa dibayar adalah sebuah budaya turun temurun dan sudah menjadi kebiasaan, bahkan kewajiban. Ada satu kebanggan bisa mengetahui kesamaan budaya yang positif dengan bangsa lain. Sama halnya dengan Indonesia, khususnya di tempat kelahiran saya kurang lebih demikian.

Yang menjadi pertanyaan adalah si suami tidak berada di sana ikut membangun rumah mereka. Ternyata sang suami sedang bekerja di negara asalnya, Korea Selatan, dan hanya sebulan sekali mengunjungi mereka di Malta. Itu karena project yang ia kerjakan di negara tersebut mangkrak akibat dana pembangunannya dikorupsi oleh pejabat setempat, yang mengakibatkan demo besar-besaran di Malta, juga menyebabkan ia kehilangan pekerjan dan terpaksa bekerja di luar. Pilihan pulang ke kampung halaman pun tidak bisa, sebab rumah yang mereka bangun belum rampung. Alhasil mereka bertahan hidup di sana dengan hutang yang cukup besar atas pinjaman dari bank saat pertama kali membangun rumah.

Kali ini dari Indonesia, bagaimana cerita perempuan Jepang bisa menikahi pemuda Indonesia di Bali. Bermula saat sang perempuan memutuskan untuk pergi ke Indonesia dan jatuh cinta terhadap budaya Indonesia, khususnya Bali. Sehingga membuat ia berpikir untuk membuka bisnis di Bali. Namun, usaha tersebut tidak langsung berjalan mulus, karena justru ia ditipu oleh rekan bisnisnya dari Indonesia saat membangun sebuh cafe. Semua jerih payah dan uang yang ia kumpulkan saat itu ludes, apalagi dalam waktu yang berdekatan, ayahnya di Jepang dikabarkan meninggal, hingga membuatnya berpikir untuk bunuh diri. Saat-saat seperti itu datanglah seorang pemuda slengean nan riang kepadanya. Pemuda tersebut membantunya dari segala kesusahan yang ia dapatkan saat itu, sampai akhirnya ia menikah dengan pemuda tersebut dan membangun keluarga sederhana di Bali sampai sekarang.

Dalam hal lain, saya mendapatkan pelajaran tentang mengakui kesalahn dan maaf maemaafkan dari sebuah bangumi reality show yang menayangkan game untuk bertahan hidup di sebuah pulau kosong selama satu bulan tanpa peralatan yang memadai. Ada adegan saat keduanya seharian tidak mendapatkan makanan yang cukup, dan mereka hanya mendapatkan jeruk yang harus dibagi rata dan dimakan secara terbatas untuk beberpa hari, salah seorang di antara mereka malah diam-diam mengambil jeruk tersebut untuk di makan sendiri pada malam hari saat yang lain tengah tertidur lelap. Kejadian tersebut tidak terungkap sampai game tersebut selesai. Namun, akhirnya sang pelaku mengakui perbuatannya kepada temannya tersebut saat berbicara di sesi kesan-kesan mereka terhadap game tersebut. Air mata bercucur deras mengalir dari sang pelaku saat meminta maaf, ia sangat merasa bersalah.

Masih banyak bangumi Jepang yang mempertontonkan sisi-sisi kecil dari belahan dunia atau budaya Jepang itu sendiri. Bagi saya, mengetahui dan melihat hal tersebut adalah suatu keberuntungan. Sangat edukatif secara wawasan dan emosi. Pengemasan acara-acara tersebut bagi saya sangat menarik. Mungkin memang adanya bangumi-bangumi tersebut merupakan salah satu reward orang Jepang terhadap orang-orang yang mencintai budaya negaranya, di samping kepentingan komersil.

***

Setelah mengetahui cerita dari versi kakeknya, dan membandingkannya dengan cerita yang selama ini ia dengar dari ayahnya, Rina menyimpulkan bahwa hal tersebut hanyalah kesalahpahaman belaka. Kejadian yang mengejutkan adalah ketika pada akhirnya sang ayah juga datang ke Iran setelah 20 tahun berselang, dan bertemu dengan ayah yang selama 20 tahun tak pernag bertemu dan bersua. Walalupun sempat terjadi perdebatan sengit, tetapi akhirnya mereka saling memaafkan atas kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu. Rina pun turut menangis, impiannya tercapai.

Satu hal yang menarik dari perjalanan Rina ke Iran adalah saat ia membeli jus buah di siang yang terik dan bermaksud memberikan apresiasi atas jus yang dinyana segar nan enak yang ia minum dengan cara mengangkat tangan dan memberikan jempol kepada sang penjual, tapi apa yang Rina dapatkan? justru yang ia dapat adalah sebuah bentakan dari sang penjual. Selidik punya selidik, ternyata di Iran, jika ada yang mengakat jempol, merupakan sebuah hal yang tak sopan, bahkan berarti sebuah penghinaan.

Jadi, kalau Dewi Persik tempo hari mengumpat “Anjing” kepada Nassar, para talent bangumi mah tidak bakalan pernah mengumpat “Inu!” ke talent lain. Ada juga mereka bilang “Asu”, tetapi itu pun berarti besok, bukan “Anjing”. Asu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s