Mendobrak Tempurung Ala Ben Anderson

Benedict Anderson adalah satu nama yang tidak boleh dilewatkan dalam peta sejarah dan kebudayaan Indonesia, khususnya bagi mereka yang menempuh studi tentang ilmu sosial Indonesia. Karya-karyanya mustahil dilewatkan oleh para Indonesianis sebagai sumber bahan dan referensi primer. Salah satu buku yang ia tulis, Imagined Communities (1983), adalah buku fenomenal yang menjadi kajian baru tentang nasionalisme yang sampai sekarang masih merupakan bacaan wajib mahasiswa universitas di seluruh dunia[1], pula mengantarkannya sebagai salah satu peneliti kajian Asia Tenggara termasyhur dunia.

13 Desember 2015, Om Ben, sapaan akrabnya, meninggal dunia dalam usia 80 tahun. Ia menghembuskan nafas di negeri yang ia cintai, Indonesia, tepatnya di Batu, Malang, Jawa Timur. Beruntung enam tahun sebelumnya, memoar ini sudah diterbitkan terlebih dahulu dalam bahasa Jepang, karena memang awalnya ide menerbitkan buku ini datang dari orang Jepang yang bernama Endo Chiho, seorang editor di penerbit NTT, Jepang, dan ditujukan kepada mahasiswa-mahasiswa Jepang untuk mengetahui bagaiamana seorang peneliti Barat bekerja. Bersama mahasiswa Jepang bimbingan Om Ben sendiri, Kato Tsuyoshi, kemudian ia mengerjakan penulisan memoar ini dalam jangka waktu yang cukup panjang. Adiknya, Perry Anderson aka Rorry kemudian membujuknya untuk menerbitkan buku ini dalam bahasa Inggris melalui penerbit yang ia pimpin, Verso.  Sebuah keberuntungan barangkali, buku ini kemudian juga terbit dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan oleh Ronny Agustinus melalui penerbit Marjin Kiri. Buku ini merupakan otobiografi dari seorang peneliti besar, satu sumbangsih bagi dunia akademisi dan intelektual dunia tentang sehimpun kisah hidup seorang peneliti mengerjakan kerja lapangannya. Buku ini terdiri dari enam bab.

Dibuka dengan kisah kelahirannya di Kunming, Tiongkok, 26 Agustus 1936, Benedict Richard O’Gorman Anderson, nama lengkapnya, lahir di tengah peristiwa politik besar yang melanda dunia – pada malam invasi Jepang atas Tiongkok Utara dan tiga tahun sebelum Perang Dunia II pecah, yang mau tidak mau membuat ayahnya berpikir untuk membawa keluarganya hijrah ke Irlandia yang netral melalui Amerika Serikat. Om Ben sempat tinggal di Amerika Serikat, tumbuh dan  besar di Irlandia, sekolah di Inggris, mengajar di Amerika Setrikat, dan menggarap penelitian di Indonesia, Siam (Thailand) dan Filipina, lahir dari pasangan orang tua yang mampu memberikan akses perpustakaan dengan koleksi buku yang lintas budaya, bahasa dan sejarah. Tale of Genji dan The Pillow Book of Sei Shonagon karya terjemahan Arthur Waley habis dibaca saat usia 14 tahun. Ibunya, Veronica Bigham, membuatnya mengakrabi bahasa Latin. Keputusan tersebut diamini Ben kecil, yang memang memiliki ikatan kuat dengan bahasa. Kelak ia bekerja dengan berbagai macam lintas bahasa. Selain bahasa, sastra, teater dan film juga membuat ia dengan mudah terikat kepada berbagai tempat. Dari hal tesebut pula kesadaran politis dan sikap egaliternya terbentuk. Pengalaman intoleransi Agama, perjuangan kelas, diskriminasi rasial, dan pergolakan politik saat itu, turut pula membentuk sikap kekiriannya, menjadi seorang anarkis, anti-imperalisme dan kolonialisme, serta menjunjung tinggi persamaan kelas.

Om Ben bersekolah di Eton dengan sistem kurikulum yang ketat, dan bagaimana ia berkesempatan bertemu kaisar Akihito di sana, kemudian berhasil mendapat beasiswa masuk Unversitas Cambridge sebagai mahasiswa studi klasik, dan lulus sebagai sarjana terbaik yang menurutnya tak berguna, sampai akhirnya ia terdampar di Unversitas Cornell berkat andil salah satu temannya di Eton. Di Cornell lah, tempat yang kemudian menjadi tempat yang mengubah hidupnya.

Tidak berisi peristiwa-peristiwa nostalgia belaka, lepas bab pertama, kita akan diantarkan dengan perkenalan Om Ben dengan orang-orang yang kelak akan berpengaruh bagi perkembangan karir intelektualnya, seperti George Kahin, John Echols, Claire Holt, Harry Benda, Ruth McVey, Herbert Feith, Dan Lev, dll. Terutama Kahin, seseorang yang menurut Om Ben memiliki pemikiran dan sikap politik yang progresif, berkomitmen terhadap keadilan, dan bertenggang rasa terhadap perbedaan, kelak sangat memperangaruhi dirinya dalam memutuskan apa yang hendak diperbuatnya dalam hidup: menjadi profesor, menggarap riset, menulis dan mengajar, dan menhgikuti jejak Kahin dalam orientasi akademik maupun politik (hal.31). Bersama dengan orang-orang tersebut, Ben merinitis studi, yang  mana di Amerika Serikat disebut kajian wilayah, khusunya tentang Asia Tenggara. Universitas Cornell, tempat di mana ia mengajar, merupakan satu dari dua universitas yang ditunjuk untuk merintis program tersebut, selain Universitas Yale.

Kajian wilayah bukanlah program yang diperhatikan sebelum Perang Dunia II meletus, Amerika Serikat hanya terbatas mempelajari negara-negara Eropa karena dianggap sebagai kiblat ilmu pengetahuan, mempelajari Uni Soviet karena lawan ideologi mereka, Jepang karena kekuatan militernya, dan hanya sedikit dari mereka yang mempelajari daerah lain, seperti India, Indonesia dll. Dan bagaimana Amerika Serikat pada saat itu, hanya mengurusi “halaman belakannya sendiri”. Kemenangan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kajian wilayah, dikarenakan minimnya pengetahuan Amerika tetang negara-negaa tersebut – khsususnya negara-negara Asia Tenggara. Sementara secara politik, Amerika Serikat didaulat mempunyai peran kunci. Di sisi lain, kajian-kajian tentang Asia  Tenggara terbaik yang pernah ada adalah hasil para birokrat-birokrat kolonial yang masih banyak kekurangan di dalamnya, semisal tak mencakup sekian wilayah koloni yang ada, juga kurang mendalamnya kajian seputar politik dan ekonomi. Om Ben bersama para peneliti yang lain, mesti memulai kerja mereka dengan membaca teks-teks yang berbahasa asli bangsa kolonial tersebut, misal Belanda dan Prancis. Oleh kaenanya, mulai saat itu negara mulai mencurahkan banyak sumber dana bagi program-program kajian wilayah. Yayasan swasta raksasa, seperti Rockefeller dan Ford, pun turut mengucurkan dana untuk program tersebut.

Masuk bab ketiga, Om Ben bercerita tentang pekerjaan lapangannya yang meliputi tiga negara: Indonesia, Siam dan Filipina. Bab ini jelas menjadi bab paling menarik bagi saya, dan saya pikir akan menjadi favorit juga bagi kebanyakan pembaca buku ini. Bagaimana ia langsung banyak mengalami gegar budaya dalam hari pertamanya di Jakarta (hal. 64-66). Om Ben bercengkerama dan melakukan wawancara dengan beragama orang dari yang paling kiri sampai yang paling kanan, ia akrabi, guna menggarap data untuk risetnya. Om Ben juga memandang Indonesia sebagai sebuah negara yang egaliter, di mana masyarakat Indonesia bisa berkumpul dalam satu tempat tanpa mempermasalahkan latar belakangnya. Sesuatau yang tidak ia temukan ketika hidup di Irlandia, Inggrsi dan Amerika Serikat yang rentan dengan diskriminasi ras.

Sebelum geger persitiwa 65 merebak, Om Ben sudah kembali ke Amerika Serikat pada tahun 1964. Peristiwa tersebut memantiknya untuk menulis tesis tentang peristwa naas itu bersama temannya. Ia pula termasuk orang pertama kali yang menuding militer terlibat dalam peristiwa kelam tersebut. Di kemudian hari, tesis yang berjudul “Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia” tersebut bocor, oleh sebab itu terhitung tahun 1972, ia dilarang masuk Soeharto sampai “diktator” tersebut lengser pada tahun 1998. Namun, berkat pelarangan tersebut, ia bisa mengenal Siam dan Filipina sebagai daerah kajiannya yang lain. Beruntung, jauh sebelumnya, ia pernah mewawancarai Laksamana Maeda di Hotel Des Indes, Indonesia, pada tahun 1962. Orang Jepang pertama yang ia ajak bicara dan wawancara, sekaligus orang yang punya sumbangsih terhadap kemerdekaan Indonesia. Betapa senangnya ia. Bagaimana korespondensinya dengan lima orang Indonesia – Ben Abel, Benny, Yudi, Komang, dan Pipit, yang memberikan Om Ben akses untuk tetap terikat dengan Indonesia dan mengikuti perkembangan Indonesia, walaupun masih dicekal masuk oleh rezim Soeharto. Terutama ceritanya dengan Pipit sungguh sangat menarik, sedikit ngeri, lucu, juga membuat “ngakak”. Pipit inilah yang kemudian berjasa membuat Om Ben mendapat semacam ilmu baru untuk gaya tulisannya. Dari pengauh Pipit juga ia kemudian banyak menulis satir dengan menggunakan gaya bahasa campuran yang “nyelekit”. Ingatan saya langsung tertuju dengan catatan Eka Kurniawan di salah satu blognya, bahwa tidak seharusnya kata-kata dibunuh[2], dan Om Ben tidak melakukan hal demikian ketika menulis “ngaceng” untuk Jenderal Benny Moerdani (hal.104). Hubungannya dengan orang-orang tersebut menjadi satu dari banyak alasan membuat Om Ben tetap mempunyai ikatan istimewa dengan Indonesia. Kelak di kemudian hari, saat ia menerima penghargaan seumur hidup dari American Association of Asian Studies pada tahun 1998, dalam pidatonya ia turut memboyong kedua anak angkatnya,  Benny dan Yudi, ke atas panggung dan berdiri di sampingnya sembari berkata kepada para hadirin, bahwa  yang membedakan spesialis kajian wilayah dari ilmuwan-ilmuwan di disiplin kajian wilayah adalah ikatan emosional yang dirasakan pada tempat-tempat dan orang-orang yang dipelajari. Perkataan sentimental tersebut tak pelak diganjar tepuk tangan penuh simpati oleh para hadirin (hal.162).

Meremas otak, tentu saja hal tersebut bukanlah sesuatu hal yang berlebihan jika selesai membaca bab empat dan lima. Om Ben menjelaskan tentang mekanisme komparasi dalam penelitiannya beserta kerangka ilmiahnya. Penilaiannya terhadap nasionalisme Amerika yang eksepsionalis dan secara sarkas ia menyebut Amerika dengan mentalitas “katak di bawah tempurung” – yang membuatnya jarang menemukan mahasiswa Amerika bisa menyebutkan entah nama Presiden Meksiko atau Perdana Menteri Kanada (hal.108), juga pengalamannya mengajar selama tiga puluh lima tahun di Cornell di bawah dunia akademis AS, di tambah kekeselannya terhadap para pejabat Amerika yang sok memandang rendah orang Indonesia, turut mengilhami pemikirannya untuk melakukan perbandingan dengan menyelami berbagai macam disiplin di luar disiplin keilmuannya; sejarah, politik dan ekonomi. Hal tersebut pula yang kelak melatarbelakangi karya pertamanya yang bersifat komparatif, sebuah artikel berjudul “The Idea of Power in Javanese Culture”, dan tentu magnum-opus-nya, Imagined Communities. Mulainya kapitalisme industri banyak memberikan perubahan besar,I lmu pengetahuan dan  pendidikan pun menjadi wilayah yang terkena dampaknya. Industrialisasi tersebut membuat negara bertanggung jawab terhadap pendidikan bagi masyarakat untuk yang pertama kalinya dalam sejarah (hal.133). Pengaruh globalisasi yang membuat semakin banyaknya mahasiswa asing yang datang ke Amerika Serikat, juga tentang Imagined Communities yang mendapat respon berbeda di Amerika Serikat dan Inggris. Dua bab ini akan memaksa kita mencerna bagaimana kajian wilayah digeluti, tetapi di sisi lain, akan turut merentangkan wawasan kita tentang kerangka perbandingan dan interdisipliner yang dibahas oleh Om Ben melalui dua bab tersebut.

Memasuki bab terakhir, Om Ben menulis tentang masa-masa pensiunnya. Bagaimana ia kembali menilik cita-cita masa mudanya untuk menjadi seorang novelis, tetapi merasa minder akan kemampuannya di ranah tersebut, dan justru malah membawanya menghasilkan satu buku yang berjudul Under Three Flags: Anarchism and The Anticolonial Imagination pada tahun 2005. Buku tersebut sudah terbit juga melalui Marjin Kiri dan diterjemhakan oleh penerjemah yang sama: Ronny Agustinus. Mendapat penghaagaan Fukuoka Prize, dan oleh karenanya bisa menghabiskan waktu bersama Pramoedya Ananta Toer yang juga diganjar penghargaan puncak anugerah tersebut (hal.162). Hal menarik lainnya adalah ketika  ia kembali meneruskan pelacakan informasi buku yang pernah ia temukan dulu dari toko buku loak di Jakarta, berjudul Indonesia Dalem Api dan Bara yang ditulis oleh seseorang dengan nama pena Tjamboek Berdoeri, yang sempat terhenti karena pencekalannya. Perlu digaris bawahi, bagi Om Ben buku tersebut adalah buku terbaik Indonesia yang ditulis tentang tahun terakhir kependudukan Belanda, tiga setengah tahun pendudukan Jepang dan dua tahun pertama Revolusi Bersenjata. Hingga pada akhirnya atas bantuan seorang kawan, buku tersbut bisa kembali diterbitkan pada tahun 2010 (hal.169-175). Juga pertemuannya dengan Eka Kurniawan dan penilaiannya terhadap penulis tersebut, dan bagaimana ia menjadi satu dari beberapa orang yang memaksa  dan membantu Eka menerjemahkan karya-karyanya (hal.1979). Nantinya dari tulisan Eka, diketahui bahwa cerpen Eka yang berjudul Corat-coret di Toilet, pernah diterjemahkan oleh Om Ben sendiri[3].

Tidak ada hal yang paling pantas untuk menjadi sebuah renungan kalau membaca bab penutup ini. Om Ben membandingkan zaman di mana perpustakaan menjadi tempat ekplorasi yang memberi pengalaman unik dalam proses studi seseorang, mulai dari proses mencari, mengumpulkan, menata, menyimpan, dan mengolah informasi yang semua dilakukan manual, dengan zaman sekarang yang mana semua orang nyaris menjadikan Google sebagai Agama baru. “Apa guna mengingat, menghafal dan sejenisnya? Kan tinggal dicari!” sebuah refleksi menohok yang pantas untuk dikontemplasikan.

Bukan Om Ben kalau dalam tulisannya tak didapati hal-hal konyol nan menarik. Seperti kebiasannya memasukan anekdot-anekdot, lanturan-lanturan, sarkasme, atau gurauan-gurauan dalam setiap tulisannya. Gaya kepenulisannya yang demikianlah itu yang membuat buku ini tidak hanya sebagai otobiografi yang kaku dan berat, tetapi juga menarik serta menghibur. Zen RS benar tentang pendapatnya tentang Om Ben di salah satu esainya, bahwa Om Ben, melalui kutipan-kutipan novel mampu menulis sejarah dengan tidak membosankan, tidak hanya berisi nama-nama tokoh pahlawan dan tanggal-tanggal peristiwa melulu[4], dan Om Ben pun berhasil berbuat demikian untuk buku ini. Selain itu, kisah-kisah kecil menarik hidupnya seperti bagaimana ia dipukuli setelah mewek berlinang air mata menonton Tokyo Story nya Ozu (hal.20), digelandang Guardia Civil – Polisi Spanyol – saat melancong dan berenang di pesisir pantai utara  Spanyol (hal.21), sumbangsihnya terhadap bahasa Indonesia melalui kata “bule” (hal.76 & 77), atau fakta menarik tentang orang pertama yang menyusun kamus Indonesia-Inggris (hal.39) menggenapkan buku ini sebagai buku yang sayang untuk dilewatkan.

Seperti apa yang Endo Chiho katakan, bahwa sangat perlu kisah hidup seorang peneliti untuk diketahui oleh calon para peneliti muda Jepang, sekiranya hal tersebut perlu juga untuk diamini oleh para calon peneliti di Indonesia, bahkan dunia. Membaca buku ini, minimalnya saya sendiri, membentuk kesadaran akan pentingnya bahasa dan terjemahan. Hanya saja buku ini tidak dilengkapi dengan footnote yang memadai untuk memudahkan pembaca awam. Mengingat banyak sekali nama tokoh-tokoh dan judul buku yang dikutip Om Ben di sini. Tetapi buku ini tetap layak untuk dibaca, tidak lain karena akan banyak menemukan beragam referensi yang sayang sekali untuk tidak dicari tahu. Bagi yang awam terhadap Om Ben, tentu buku ini adalah medium perkenalan yang bagus. Bagi mereka yang sudah mengenal lama Om Ben, sudah pasti akan lebih akrab dengan “sardjana ngawur” ini.

Terakhir, buku bagus ini tidak akan seru dan renyah dibaca tanpa penerjemahan yang bagus pula oleh Ronny Agustinus. Hal tersebut sudah dapat didapati semenjak awal buku ini dibuka,  bagaimana Ronny memakai diksi “bokap” dan “nyokap”. Sungguh sebuah usaha yang menarik yang patut ditiru oleh para penerjemah lain. Catatan ini ada baiknya ditutup dengan slogan yang bagus nan sedikit menggelitik: Katak-katak dalam perjuangan mereka untuk emansipasi hanya akan kalah dengan mendekam dalam tempurungnya yang suram. Katak sedunia, bersatulah!

 

[1] John Roosa, “Obituari: Benedict Anderson (1936-2015)” diterjemahkan oleh M. Zaki Hussein dari judul asli “Benedict Anderson (1936-2015)”, diaskes dari https://indoprogress.com/2016/08/obituari-benedict-anderson-1936-2015/, pada tanggal 3 Juli 2017 pukul 20.00.

[2] Eka Kurniawan, “Kata-kata yang Dibunuh”, diakses dari http://ekakurniawan.com/journal/kata-kata-yang-dibunuh-5045.php, pada 3 Juli pukul 21.20.

[3] Eka Kurniawan, “Obituari: Benedict Anderson (1936-2015)”, diakses dari https://ekakurniawan.com/tag/benedict-anderson, pada pukul 7 juli 2017 pukul 20.20.

[4] Zen RS, “Beta dan Om Ben Anderson”, diakses dari http://kurangpiknik.tumblr.com/post/135104050692/beta-dan-om-ben-anderson, pada 4 Juli pukul 10.00.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s