Mendobrak Tempurung Ala Ben Anderson

Benedict Anderson adalah satu nama yang tidak boleh dilewatkan dalam peta sejarah dan kebudayaan Indonesia, khususnya bagi mereka yang menempuh studi tentang ilmu sosial Indonesia. Karya-karyanya mustahil dilewatkan oleh para Indonesianis sebagai sumber bahan dan referensi primer. Salah satu buku yang ia tulis, Imagined Communities (1983), adalah buku fenomenal yang menjadi kajian baru tentang nasionalisme yang sampai sekarang masih merupakan bacaan wajib mahasiswa universitas di seluruh dunia[1], pula mengantarkannya sebagai salah satu peneliti kajian Asia Tenggara termasyhur dunia.

13 Desember 2015, Om Ben, sapaan akrabnya, meninggal dunia dalam usia 80 tahun. Ia menghembuskan nafas di negeri yang ia cintai, Indonesia, tepatnya di Batu, Malang, Jawa Timur. Beruntung enam tahun sebelumnya, memoar ini sudah diterbitkan terlebih dahulu dalam bahasa Jepang, karena memang awalnya ide menerbitkan buku ini datang dari orang Jepang yang bernama Endo Chiho, seorang editor di penerbit NTT, Jepang, dan ditujukan kepada mahasiswa-mahasiswa Jepang untuk mengetahui bagaiamana seorang peneliti Barat bekerja. Bersama mahasiswa Jepang bimbingan Om Ben sendiri, Kato Tsuyoshi, kemudian ia mengerjakan penulisan memoar ini dalam jangka waktu yang cukup panjang. Adiknya, Perry Anderson aka Rorry kemudian membujuknya untuk menerbitkan buku ini dalam bahasa Inggris melalui penerbit yang ia pimpin, Verso.  Sebuah keberuntungan barangkali, buku ini kemudian juga terbit dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan oleh Ronny Agustinus melalui penerbit Marjin Kiri. Buku ini merupakan otobiografi dari seorang peneliti besar, satu sumbangsih bagi dunia akademisi dan intelektual dunia tentang sehimpun kisah hidup seorang peneliti mengerjakan kerja lapangannya. Buku ini terdiri dari enam bab.

Dibuka dengan kisah kelahirannya di Kunming, Tiongkok, 26 Agustus 1936, Benedict Richard O’Gorman Anderson, nama lengkapnya, lahir di tengah peristiwa politik besar yang melanda dunia – pada malam invasi Jepang atas Tiongkok Utara dan tiga tahun sebelum Perang Dunia II pecah, yang mau tidak mau membuat ayahnya berpikir untuk membawa keluarganya hijrah ke Irlandia yang netral melalui Amerika Serikat. Om Ben sempat tinggal di Amerika Serikat, tumbuh dan  besar di Irlandia, sekolah di Inggris, mengajar di Amerika Setrikat, dan menggarap penelitian di Indonesia, Siam (Thailand) dan Filipina, lahir dari pasangan orang tua yang mampu memberikan akses perpustakaan dengan koleksi buku yang lintas budaya, bahasa dan sejarah. Tale of Genji dan The Pillow Book of Sei Shonagon karya terjemahan Arthur Waley habis dibaca saat usia 14 tahun. Ibunya, Veronica Bigham, membuatnya mengakrabi bahasa Latin. Keputusan tersebut diamini Ben kecil, yang memang memiliki ikatan kuat dengan bahasa. Kelak ia bekerja dengan berbagai macam lintas bahasa. Selain bahasa, sastra, teater dan film juga membuat ia dengan mudah terikat kepada berbagai tempat. Dari hal tesebut pula kesadaran politis dan sikap egaliternya terbentuk. Pengalaman intoleransi Agama, perjuangan kelas, diskriminasi rasial, dan pergolakan politik saat itu, turut pula membentuk sikap kekiriannya, menjadi seorang anarkis, anti-imperalisme dan kolonialisme, serta menjunjung tinggi persamaan kelas.

Om Ben bersekolah di Eton dengan sistem kurikulum yang ketat, dan bagaimana ia berkesempatan bertemu kaisar Akihito di sana, kemudian berhasil mendapat beasiswa masuk Unversitas Cambridge sebagai mahasiswa studi klasik, dan lulus sebagai sarjana terbaik yang menurutnya tak berguna, sampai akhirnya ia terdampar di Unversitas Cornell berkat andil salah satu temannya di Eton. Di Cornell lah, tempat yang kemudian menjadi tempat yang mengubah hidupnya.

Tidak berisi peristiwa-peristiwa nostalgia belaka, lepas bab pertama, kita akan diantarkan dengan perkenalan Om Ben dengan orang-orang yang kelak akan berpengaruh bagi perkembangan karir intelektualnya, seperti George Kahin, John Echols, Claire Holt, Harry Benda, Ruth McVey, Herbert Feith, Dan Lev, dll. Terutama Kahin, seseorang yang menurut Om Ben memiliki pemikiran dan sikap politik yang progresif, berkomitmen terhadap keadilan, dan bertenggang rasa terhadap perbedaan, kelak sangat memperangaruhi dirinya dalam memutuskan apa yang hendak diperbuatnya dalam hidup: menjadi profesor, menggarap riset, menulis dan mengajar, dan menhgikuti jejak Kahin dalam orientasi akademik maupun politik (hal.31). Bersama dengan orang-orang tersebut, Ben merinitis studi, yang  mana di Amerika Serikat disebut kajian wilayah, khusunya tentang Asia Tenggara. Universitas Cornell, tempat di mana ia mengajar, merupakan satu dari dua universitas yang ditunjuk untuk merintis program tersebut, selain Universitas Yale.

Kajian wilayah bukanlah program yang diperhatikan sebelum Perang Dunia II meletus, Amerika Serikat hanya terbatas mempelajari negara-negara Eropa karena dianggap sebagai kiblat ilmu pengetahuan, mempelajari Uni Soviet karena lawan ideologi mereka, Jepang karena kekuatan militernya, dan hanya sedikit dari mereka yang mempelajari daerah lain, seperti India, Indonesia dll. Dan bagaimana Amerika Serikat pada saat itu, hanya mengurusi “halaman belakannya sendiri”. Kemenangan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kajian wilayah, dikarenakan minimnya pengetahuan Amerika tetang negara-negaa tersebut – khsususnya negara-negara Asia Tenggara. Sementara secara politik, Amerika Serikat didaulat mempunyai peran kunci. Di sisi lain, kajian-kajian tentang Asia  Tenggara terbaik yang pernah ada adalah hasil para birokrat-birokrat kolonial yang masih banyak kekurangan di dalamnya, semisal tak mencakup sekian wilayah koloni yang ada, juga kurang mendalamnya kajian seputar politik dan ekonomi. Om Ben bersama para peneliti yang lain, mesti memulai kerja mereka dengan membaca teks-teks yang berbahasa asli bangsa kolonial tersebut, misal Belanda dan Prancis. Oleh kaenanya, mulai saat itu negara mulai mencurahkan banyak sumber dana bagi program-program kajian wilayah. Yayasan swasta raksasa, seperti Rockefeller dan Ford, pun turut mengucurkan dana untuk program tersebut.

Masuk bab ketiga, Om Ben bercerita tentang pekerjaan lapangannya yang meliputi tiga negara: Indonesia, Siam dan Filipina. Bab ini jelas menjadi bab paling menarik bagi saya, dan saya pikir akan menjadi favorit juga bagi kebanyakan pembaca buku ini. Bagaimana ia langsung banyak mengalami gegar budaya dalam hari pertamanya di Jakarta (hal. 64-66). Om Ben bercengkerama dan melakukan wawancara dengan beragama orang dari yang paling kiri sampai yang paling kanan, ia akrabi, guna menggarap data untuk risetnya. Om Ben juga memandang Indonesia sebagai sebuah negara yang egaliter, di mana masyarakat Indonesia bisa berkumpul dalam satu tempat tanpa mempermasalahkan latar belakangnya. Sesuatau yang tidak ia temukan ketika hidup di Irlandia, Inggrsi dan Amerika Serikat yang rentan dengan diskriminasi ras.

Sebelum geger persitiwa 65 merebak, Om Ben sudah kembali ke Amerika Serikat pada tahun 1964. Peristiwa tersebut memantiknya untuk menulis tesis tentang peristwa naas itu bersama temannya. Ia pula termasuk orang pertama kali yang menuding militer terlibat dalam peristiwa kelam tersebut. Di kemudian hari, tesis yang berjudul “Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia” tersebut bocor, oleh sebab itu terhitung tahun 1972, ia dilarang masuk Soeharto sampai “diktator” tersebut lengser pada tahun 1998. Namun, berkat pelarangan tersebut, ia bisa mengenal Siam dan Filipina sebagai daerah kajiannya yang lain. Beruntung, jauh sebelumnya, ia pernah mewawancarai Laksamana Maeda di Hotel Des Indes, Indonesia, pada tahun 1962. Orang Jepang pertama yang ia ajak bicara dan wawancara, sekaligus orang yang punya sumbangsih terhadap kemerdekaan Indonesia. Betapa senangnya ia. Bagaimana korespondensinya dengan lima orang Indonesia – Ben Abel, Benny, Yudi, Komang, dan Pipit, yang memberikan Om Ben akses untuk tetap terikat dengan Indonesia dan mengikuti perkembangan Indonesia, walaupun masih dicekal masuk oleh rezim Soeharto. Terutama ceritanya dengan Pipit sungguh sangat menarik, sedikit ngeri, lucu, juga membuat “ngakak”. Pipit inilah yang kemudian berjasa membuat Om Ben mendapat semacam ilmu baru untuk gaya tulisannya. Dari pengauh Pipit juga ia kemudian banyak menulis satir dengan menggunakan gaya bahasa campuran yang “nyelekit”. Ingatan saya langsung tertuju dengan catatan Eka Kurniawan di salah satu blognya, bahwa tidak seharusnya kata-kata dibunuh[2], dan Om Ben tidak melakukan hal demikian ketika menulis “ngaceng” untuk Jenderal Benny Moerdani (hal.104). Hubungannya dengan orang-orang tersebut menjadi satu dari banyak alasan membuat Om Ben tetap mempunyai ikatan istimewa dengan Indonesia. Kelak di kemudian hari, saat ia menerima penghargaan seumur hidup dari American Association of Asian Studies pada tahun 1998, dalam pidatonya ia turut memboyong kedua anak angkatnya,  Benny dan Yudi, ke atas panggung dan berdiri di sampingnya sembari berkata kepada para hadirin, bahwa  yang membedakan spesialis kajian wilayah dari ilmuwan-ilmuwan di disiplin kajian wilayah adalah ikatan emosional yang dirasakan pada tempat-tempat dan orang-orang yang dipelajari. Perkataan sentimental tersebut tak pelak diganjar tepuk tangan penuh simpati oleh para hadirin (hal.162).

Meremas otak, tentu saja hal tersebut bukanlah sesuatu hal yang berlebihan jika selesai membaca bab empat dan lima. Om Ben menjelaskan tentang mekanisme komparasi dalam penelitiannya beserta kerangka ilmiahnya. Penilaiannya terhadap nasionalisme Amerika yang eksepsionalis dan secara sarkas ia menyebut Amerika dengan mentalitas “katak di bawah tempurung” – yang membuatnya jarang menemukan mahasiswa Amerika bisa menyebutkan entah nama Presiden Meksiko atau Perdana Menteri Kanada (hal.108), juga pengalamannya mengajar selama tiga puluh lima tahun di Cornell di bawah dunia akademis AS, di tambah kekeselannya terhadap para pejabat Amerika yang sok memandang rendah orang Indonesia, turut mengilhami pemikirannya untuk melakukan perbandingan dengan menyelami berbagai macam disiplin di luar disiplin keilmuannya; sejarah, politik dan ekonomi. Hal tersebut pula yang kelak melatarbelakangi karya pertamanya yang bersifat komparatif, sebuah artikel berjudul “The Idea of Power in Javanese Culture”, dan tentu magnum-opus-nya, Imagined Communities. Mulainya kapitalisme industri banyak memberikan perubahan besar,I lmu pengetahuan dan  pendidikan pun menjadi wilayah yang terkena dampaknya. Industrialisasi tersebut membuat negara bertanggung jawab terhadap pendidikan bagi masyarakat untuk yang pertama kalinya dalam sejarah (hal.133). Pengaruh globalisasi yang membuat semakin banyaknya mahasiswa asing yang datang ke Amerika Serikat, juga tentang Imagined Communities yang mendapat respon berbeda di Amerika Serikat dan Inggris. Dua bab ini akan memaksa kita mencerna bagaimana kajian wilayah digeluti, tetapi di sisi lain, akan turut merentangkan wawasan kita tentang kerangka perbandingan dan interdisipliner yang dibahas oleh Om Ben melalui dua bab tersebut.

Memasuki bab terakhir, Om Ben menulis tentang masa-masa pensiunnya. Bagaimana ia kembali menilik cita-cita masa mudanya untuk menjadi seorang novelis, tetapi merasa minder akan kemampuannya di ranah tersebut, dan justru malah membawanya menghasilkan satu buku yang berjudul Under Three Flags: Anarchism and The Anticolonial Imagination pada tahun 2005. Buku tersebut sudah terbit juga melalui Marjin Kiri dan diterjemhakan oleh penerjemah yang sama: Ronny Agustinus. Mendapat penghaagaan Fukuoka Prize, dan oleh karenanya bisa menghabiskan waktu bersama Pramoedya Ananta Toer yang juga diganjar penghargaan puncak anugerah tersebut (hal.162). Hal menarik lainnya adalah ketika  ia kembali meneruskan pelacakan informasi buku yang pernah ia temukan dulu dari toko buku loak di Jakarta, berjudul Indonesia Dalem Api dan Bara yang ditulis oleh seseorang dengan nama pena Tjamboek Berdoeri, yang sempat terhenti karena pencekalannya. Perlu digaris bawahi, bagi Om Ben buku tersebut adalah buku terbaik Indonesia yang ditulis tentang tahun terakhir kependudukan Belanda, tiga setengah tahun pendudukan Jepang dan dua tahun pertama Revolusi Bersenjata. Hingga pada akhirnya atas bantuan seorang kawan, buku tersbut bisa kembali diterbitkan pada tahun 2010 (hal.169-175). Juga pertemuannya dengan Eka Kurniawan dan penilaiannya terhadap penulis tersebut, dan bagaimana ia menjadi satu dari beberapa orang yang memaksa  dan membantu Eka menerjemahkan karya-karyanya (hal.1979). Nantinya dari tulisan Eka, diketahui bahwa cerpen Eka yang berjudul Corat-coret di Toilet, pernah diterjemahkan oleh Om Ben sendiri[3].

Tidak ada hal yang paling pantas untuk menjadi sebuah renungan kalau membaca bab penutup ini. Om Ben membandingkan zaman di mana perpustakaan menjadi tempat ekplorasi yang memberi pengalaman unik dalam proses studi seseorang, mulai dari proses mencari, mengumpulkan, menata, menyimpan, dan mengolah informasi yang semua dilakukan manual, dengan zaman sekarang yang mana semua orang nyaris menjadikan Google sebagai Agama baru. “Apa guna mengingat, menghafal dan sejenisnya? Kan tinggal dicari!” sebuah refleksi menohok yang pantas untuk dikontemplasikan.

Bukan Om Ben kalau dalam tulisannya tak didapati hal-hal konyol nan menarik. Seperti kebiasannya memasukan anekdot-anekdot, lanturan-lanturan, sarkasme, atau gurauan-gurauan dalam setiap tulisannya. Gaya kepenulisannya yang demikianlah itu yang membuat buku ini tidak hanya sebagai otobiografi yang kaku dan berat, tetapi juga menarik serta menghibur. Zen RS benar tentang pendapatnya tentang Om Ben di salah satu esainya, bahwa Om Ben, melalui kutipan-kutipan novel mampu menulis sejarah dengan tidak membosankan, tidak hanya berisi nama-nama tokoh pahlawan dan tanggal-tanggal peristiwa melulu[4], dan Om Ben pun berhasil berbuat demikian untuk buku ini. Selain itu, kisah-kisah kecil menarik hidupnya seperti bagaimana ia dipukuli setelah mewek berlinang air mata menonton Tokyo Story nya Ozu (hal.20), digelandang Guardia Civil – Polisi Spanyol – saat melancong dan berenang di pesisir pantai utara  Spanyol (hal.21), sumbangsihnya terhadap bahasa Indonesia melalui kata “bule” (hal.76 & 77), atau fakta menarik tentang orang pertama yang menyusun kamus Indonesia-Inggris (hal.39) menggenapkan buku ini sebagai buku yang sayang untuk dilewatkan.

Seperti apa yang Endo Chiho katakan, bahwa sangat perlu kisah hidup seorang peneliti untuk diketahui oleh calon para peneliti muda Jepang, sekiranya hal tersebut perlu juga untuk diamini oleh para calon peneliti di Indonesia, bahkan dunia. Membaca buku ini, minimalnya saya sendiri, membentuk kesadaran akan pentingnya bahasa dan terjemahan. Hanya saja buku ini tidak dilengkapi dengan footnote yang memadai untuk memudahkan pembaca awam. Mengingat banyak sekali nama tokoh-tokoh dan judul buku yang dikutip Om Ben di sini. Tetapi buku ini tetap layak untuk dibaca, tidak lain karena akan banyak menemukan beragam referensi yang sayang sekali untuk tidak dicari tahu. Bagi yang awam terhadap Om Ben, tentu buku ini adalah medium perkenalan yang bagus. Bagi mereka yang sudah mengenal lama Om Ben, sudah pasti akan lebih akrab dengan “sardjana ngawur” ini.

Terakhir, buku bagus ini tidak akan seru dan renyah dibaca tanpa penerjemahan yang bagus pula oleh Ronny Agustinus. Hal tersebut sudah dapat didapati semenjak awal buku ini dibuka,  bagaimana Ronny memakai diksi “bokap” dan “nyokap”. Sungguh sebuah usaha yang menarik yang patut ditiru oleh para penerjemah lain. Catatan ini ada baiknya ditutup dengan slogan yang bagus nan sedikit menggelitik: Katak-katak dalam perjuangan mereka untuk emansipasi hanya akan kalah dengan mendekam dalam tempurungnya yang suram. Katak sedunia, bersatulah!

 

[1] John Roosa, “Obituari: Benedict Anderson (1936-2015)” diterjemahkan oleh M. Zaki Hussein dari judul asli “Benedict Anderson (1936-2015)”, diaskes dari https://indoprogress.com/2016/08/obituari-benedict-anderson-1936-2015/, pada tanggal 3 Juli 2017 pukul 20.00.

[2] Eka Kurniawan, “Kata-kata yang Dibunuh”, diakses dari http://ekakurniawan.com/journal/kata-kata-yang-dibunuh-5045.php, pada 3 Juli pukul 21.20.

[3] Eka Kurniawan, “Obituari: Benedict Anderson (1936-2015)”, diakses dari https://ekakurniawan.com/tag/benedict-anderson, pada pukul 7 juli 2017 pukul 20.20.

[4] Zen RS, “Beta dan Om Ben Anderson”, diakses dari http://kurangpiknik.tumblr.com/post/135104050692/beta-dan-om-ben-anderson, pada 4 Juli pukul 10.00.

Tontonlah Bangumi Jepang!

Namanya adalah Rina, ia berusia 12 tahun dan hendak pergi ke Iran mengunjungi kakeknya. Kakek yang sedari ia lahir, tumbuh, dan besar di Jepang belum pernah sekalipun ditemuinya. Kepergiannya tak ditemani oleh adiknya yang  usianya terpaut 4 tahun, karena pada hari H sang adik mendadak sakit.

Singkat cerita, kepergiannya ke Iran sempat dilarang oleh ayahnya. Hal tersebut dikarenakan sang anak bermaksud menemui sang kakek yang ternyata memiliki konflik masa lalu dengan sang ayah, yang membuat sang ayah pergi dan menetap di Jepang. Kejadiannya terjadi 20 tahun lalu, dan selama itu pula sang kakek dan sang ayah tidak pernah berkomunikasi. Rina yang berkeinginan ingin merukunkan keduanya, pergi ke Iran sembari membawa seperangkat dudukan toilet ala Jepang sebagai hadiah untuk sang kakek yang diketahui sering mengalami sakit pinggang ketika “berkesenian.” Itu dikarenakan toilet di Iran adalah toilet jongkok, sama dengan toilet saya di rumah.

Cerita tersebut adalah satu dari program televisi Jepang yang dikenal dengan istilah bangumi, berjudul Nihon O Hokori Ni Omoeru. Bangumi tersebut memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk menghadiahkan produk-produk made in Japan kepada orang terdekat yang dinyana tidak ada di negara lain, dibarengi dengan latar belakang cerita menarik atau permasalahan sosial yang melibatkan sekelingkup orang-orang tersebut. Drama? Tentu bukan, ini kisah yang nyata.

***

Beberapa hari lalu, dalam salah satu tayangan televisi “berkualitas” di salah satu acara stasiun televisi swasta, terjadi konflik yang melibatkan dua pedangdut kontemporer panutan masyarakat Indonesia. Keduanya saling beradumulut tentang hal yang kalau ditimbang dengan seksama, hanya persoalan remeh-temeh yang pernah sama-sama kita pernah alami di Taman Kanak-kanak dahulu kala. Cekcok tersebut berujung pada makian dan umpatan dengan kata-kata yang seharusnya tidak muncul di layar kaca. Menggelikan? Ya. Saya sendiri tak habis pikir, kenapa mereka kok bisa berkata sedemikian “sopan” di layar kaca. Terlebih  lagi satu diantaranya mengeluarkan kata-kata binatang. “Ini bagaimana kalau anak-anak kecil maniak dangdut menonton?” pikirku.

Semenjak tayangan televisi Indonesia hanya diisi sinetron melulu, hasrat untuk memiliki televisi flat 33 inch barangkali tak lebih hanyalah olok-olok belaka. Kalau dikualifikasikan dengan skala prioritas, hal tersebut bahkan tidak masuk dalam skala tersier, mungkin sepuluh level lebih  rendah dari itu, sebut saja “mermier (?).”

Sebagai anak sastra Jepang, bangumi Jepang sangat efektif bagi saya dalam belajar bahasa Jepang, juga sangat memberikan pengaruh signifikan bagi perkembangan skill bahasa Jepang saya. Hal itu karena pada bangumi tersebut terdapat jimakusubtitle dalam huruf kana dan kanji – yang muncul di layar sesuai dengan apa yang dibicarakan talent tersebut.

Bukan hanya itu, yang menarik dari bangumi Jepang adalah sajian pembahasannya yang menarik. Mereka bisa saja mengangkat isu sosial, seperti tentang pendidikan, budaya, teknologi dll, atau mengulas habis-tuntas hal-hal sepele yang sangat tidak mungkin sekali dihadirkan di program televisi Indonesia. Acara-acara kebanyakan dibuat dengan format talk-show, jadi talent yang tampil di acara tersebut saling berbincang dan berbalas berpendapat. Salah satu yang paling sering hadir adalah Dewi Fujin, istri almarhum Presiden Soekarno.

Misalnya, dalam acara You Wa Nani O Shi Ni Nippon E, acara yang mewawancarai para turis tentang alasan kedatangan mereka ke Jepang. Saya mendapat banyak sekali sudut pandang orang-orang mancanegara tentang Jepang, pun sebaliknya. Bagaimana orang-orang tersebut hanya punya alasan sederhana untuk mendatangi negara yang budayanya mereka cintai. Ada yang hanya untuk sekadar berwisata, ada yang datang untuk kuliah, bahkan ada yang datang hanya untuk berkunjung ke tempa-tempat kecil yang sama sekali tidak dikenal masyarakat luas.

Satu episode pernah menayangkan dua orang backpacker asal Norwegia yang hanya memiliki budget terbatas, ingin menjelajahi Jepang dari ujung Hokkaidou sampai Okinawa. Anehnya mereka hanya datang dan tidak tahu harus pergi ke mana, atau tempat seperti apa yang ingin dikunjungi. Pada akhirnya, buku panduan yang mereka bawalah yang diajadikan acuan, mereka membuka halaman secara acak dan pergi ke tempat yang ada di halaman tersebut.

Episode lain menayangkan tentang seorang pemuda asal Inggris yang berencana melakukan perjalanan dari Kagoshima sampai Tokyo hanya dengan berjalan kaki. Dengan jarak sejauh itu, mungkin akan selesai ditempuh dengan waktu hampir enam bulan. Walaupun pada akhirnya perjalanan sang turis hanya bertahan dalam waktu seminggu, karena setelahnya ia menghilang tanpa pamit. Kegagalan misinya tersebut adalah kali ke-2, setelah tahun sebelumnya juga gagal. Bagi saya itu sangat luar biasa, bahwa ada dan masih banyak orang datang dari berbagai negara ke Jepang tidak hanya berkeinginan untuk berpose di Asakusa, Tokyo Tower, dan Sky Tree, atau berwisata menikmati gunung Fuji, sakura, salju, dan bahkan Tokyo Dome belaka.

Acara lain yang juga menarik adalah Nihon E Ikitai Hito Ouendan, yaitu acara yang memberikan kesempatan bagi mereka warga mancanegara untuk datang ke Jepang. Pihak bangumi ini pergi ke berbagai negara dan mencari orang yang sangat ingin sekali datang ke Jepang dan mengundangnya untuk datang ke Jepang, gratis! Sebuah apresiasi yang sangat mengharukan kepada orang-orang yang mencintai Jepang. Hal ini tentu mustahil dilakukan oleh stasiun televisi kita. Saya pun berandai-andai didatangi oleh pihak bangumi tersebut, semoga.

Tidak hanya acara yang mengekspos orang mancanegara yang datang ke Jepang, ada acara yang justru mengekspos orang Jepang di luar negeri. Pergi ke berbagai macam negara dan mencari orang Jepang yang tinggal di negara tersebut. Seperti Sekai Naze Soko Ni Nihonjin dan Sekai No Nihonjinzuma Wa Mita, yang saya sebut terakhir adalah acara yang mengulas tentang perempuan yang menjadi istri orang asing di mancanegara.

Suatu ketika ada tayangan tentang perempuan yang menjadi istri dari orang Korea Selatan yang karena urusan pekerjaan menetap di satu negara kecil, Malta. Pada saat itu, mereka sedang membangun sebuah rumah, sang istri langsung turun tangan membantu pembangunan rumahnya, turut dibantu juga oleh para tetangga sekitar. Dari episode ini saya menjadi tahu, bahwa di Malta, membantu tetangga membangun rumah tanpa dibayar adalah sebuah budaya turun temurun dan sudah menjadi kebiasaan, bahkan kewajiban. Ada satu kebanggan bisa mengetahui kesamaan budaya yang positif dengan bangsa lain. Sama halnya dengan Indonesia, khususnya di tempat kelahiran saya kurang lebih demikian.

Yang menjadi pertanyaan adalah si suami tidak berada di sana ikut membangun rumah mereka. Ternyata sang suami sedang bekerja di negara asalnya, Korea Selatan, dan hanya sebulan sekali mengunjungi mereka di Malta. Itu karena project yang ia kerjakan di negara tersebut mangkrak akibat dana pembangunannya dikorupsi oleh pejabat setempat, yang mengakibatkan demo besar-besaran di Malta, juga menyebabkan ia kehilangan pekerjan dan terpaksa bekerja di luar. Pilihan pulang ke kampung halaman pun tidak bisa, sebab rumah yang mereka bangun belum rampung. Alhasil mereka bertahan hidup di sana dengan hutang yang cukup besar atas pinjaman dari bank saat pertama kali membangun rumah.

Kali ini dari Indonesia, bagaimana cerita perempuan Jepang bisa menikahi pemuda Indonesia di Bali. Bermula saat sang perempuan memutuskan untuk pergi ke Indonesia dan jatuh cinta terhadap budaya Indonesia, khususnya Bali. Sehingga membuat ia berpikir untuk membuka bisnis di Bali. Namun, usaha tersebut tidak langsung berjalan mulus, karena justru ia ditipu oleh rekan bisnisnya dari Indonesia saat membangun sebuh cafe. Semua jerih payah dan uang yang ia kumpulkan saat itu ludes, apalagi dalam waktu yang berdekatan, ayahnya di Jepang dikabarkan meninggal, hingga membuatnya berpikir untuk bunuh diri. Saat-saat seperti itu datanglah seorang pemuda slengean nan riang kepadanya. Pemuda tersebut membantunya dari segala kesusahan yang ia dapatkan saat itu, sampai akhirnya ia menikah dengan pemuda tersebut dan membangun keluarga sederhana di Bali sampai sekarang.

Dalam hal lain, saya mendapatkan pelajaran tentang mengakui kesalahn dan maaf maemaafkan dari sebuah bangumi reality show yang menayangkan game untuk bertahan hidup di sebuah pulau kosong selama satu bulan tanpa peralatan yang memadai. Ada adegan saat keduanya seharian tidak mendapatkan makanan yang cukup, dan mereka hanya mendapatkan jeruk yang harus dibagi rata dan dimakan secara terbatas untuk beberpa hari, salah seorang di antara mereka malah diam-diam mengambil jeruk tersebut untuk di makan sendiri pada malam hari saat yang lain tengah tertidur lelap. Kejadian tersebut tidak terungkap sampai game tersebut selesai. Namun, akhirnya sang pelaku mengakui perbuatannya kepada temannya tersebut saat berbicara di sesi kesan-kesan mereka terhadap game tersebut. Air mata bercucur deras mengalir dari sang pelaku saat meminta maaf, ia sangat merasa bersalah.

Masih banyak bangumi Jepang yang mempertontonkan sisi-sisi kecil dari belahan dunia atau budaya Jepang itu sendiri. Bagi saya, mengetahui dan melihat hal tersebut adalah suatu keberuntungan. Sangat edukatif secara wawasan dan emosi. Pengemasan acara-acara tersebut bagi saya sangat menarik. Mungkin memang adanya bangumi-bangumi tersebut merupakan salah satu reward orang Jepang terhadap orang-orang yang mencintai budaya negaranya, di samping kepentingan komersil.

***

Setelah mengetahui cerita dari versi kakeknya, dan membandingkannya dengan cerita yang selama ini ia dengar dari ayahnya, Rina menyimpulkan bahwa hal tersebut hanyalah kesalahpahaman belaka. Kejadian yang mengejutkan adalah ketika pada akhirnya sang ayah juga datang ke Iran setelah 20 tahun berselang, dan bertemu dengan ayah yang selama 20 tahun tak pernag bertemu dan bersua. Walalupun sempat terjadi perdebatan sengit, tetapi akhirnya mereka saling memaafkan atas kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu. Rina pun turut menangis, impiannya tercapai.

Satu hal yang menarik dari perjalanan Rina ke Iran adalah saat ia membeli jus buah di siang yang terik dan bermaksud memberikan apresiasi atas jus yang dinyana segar nan enak yang ia minum dengan cara mengangkat tangan dan memberikan jempol kepada sang penjual, tapi apa yang Rina dapatkan? justru yang ia dapat adalah sebuah bentakan dari sang penjual. Selidik punya selidik, ternyata di Iran, jika ada yang mengakat jempol, merupakan sebuah hal yang tak sopan, bahkan berarti sebuah penghinaan.

Jadi, kalau Dewi Persik tempo hari mengumpat “Anjing” kepada Nassar, para talent bangumi mah tidak bakalan pernah mengumpat “Inu!” ke talent lain. Ada juga mereka bilang “Asu”, tetapi itu pun berarti besok, bukan “Anjing”. Asu!

How Amazing Japan: Kata Mereka Itu Bukan Jepang!

Beberapa hari lalu, setelah kali terakhir di Februari 2016, saya kembali ke Stasiun Pasar Senen. Ada yang tampak beda, berdiri sebongkah mesin penjual minuman otomatis. Sontak saja ingatan tertuju ke medio pertengahan Desember 2010, tepat saat pertama kali saya memijakan kaki di negara matahari terbit, Jepang. Kala itu juga pertama kalinya melihat dan merasakan manfaat mesin penjual minuman otomatis, jidouhanbaiki.
Namun, ada perbedaan mencolok tentang jidouhanbaiki di Jepang dan Indonesia. Jidouhanbaiki di Jepang sudah ada sejak tahun 60-an, pun jenisnya beragam, tak hanya sebatas menjual minuman belaka, benda lain pun dijual, seperti payung, rokok, makanan, bahkan celana dalam, dan lain-lain. Mesin tersebut bisa melayani dan memenuhi kebutuhan secara urgent bak robot yang pintar nan jenius. Bahkan ada yang ketika hendak didekati saja, si mesin mengucapkan salam dengan bahasa yang santun, sungguh sangat praktis! Berbeda dengan mesin yang ada di Indonesia, yang dijaga oleh seorang penjual di samping mesin tersebut. Walaupun saat kita dekati sama-sama bersuara, tentu suara tersebut datangnya berasal dari sang penjual yang akan melayani dan menanyakan kita hendak membeli apa.

Perbedaan tersebut membuat saya menaruh kagum terhadap Jepang, bukan karena perbedaan kecanggihan mesinnya, tetapi lebih kepada hal, pada aspek tertentu, ternyata kejujuran orang Jepang sudah sampai pada level yang jauh dari orang Indonesia. Bayangkan kalau di Indonesia seperti itu, mungkin yang akan hilang bukan hanya saja minuman-minuman yang berderet menghiasi mesin tersebut, tetapi uang dan mesinnya pun bisa raib dicuri masyarakat kita.

Dalam kasus lain yang kurang lebih serupa, suatu kali saya melewati jalanan berkendara dengan mobil. Orang Jepang yang pergi bebarengan dengan saya seketika berhenti dan turun dari mobil untuk menghampiri sebuah tempat penjualan. Saat itu ia hendak membeli lobak, dengan hanya mengambil lobak dan menaruh uang begitu saja, ia kembali ke dalam mobil. Kejadian tersebut sungguh membuat saya tidak habis pikir, bisa-bisanya orang Jepang menjual dagangan mereka hanya dengan menaruh, menulis harga dan kemudian meninggalkannya tanpa seorang pun penjaga di jalanan umum.
Dua peristiwa kecil tesebut adalah hal yang pertama kali mengenalkan Jepang secara langsug dan membuat kagum saya terhadap Jepang dari segi budaya masayarakatnya.

Saya bukan orang yang menyukai tentang kejepangan, tetapi satu dan beberapa hal membuat saya bisa bersinggungan dengan Jepang. Semua berawal ketika saya diterima sebagai pemagang untuk bekerja di Jepang. Semua bayangan indah tentang Jepang semacam menjalar-akut di otak, dengan sedikit tertawa jahat “kemenangan gue raih, dibanding lo yang dari dulu ngidamin Jepang, akhirnya gue bisa pergi ke Jepang” ejek saya ke salah satu teman dekat yang benar-benar mencintai Jepang. Saat itu pula saya mulai belajar bahasa Jepang. Tetapi saat bersamaan, pegumuman SNMPTN menyatakan bahwa saya diterima di salah satu PTN di Jawa Tengah. Mau tidak mau saya harus memilih salah satu dan menanggalkan opsi lainnya. Akhirnya kesempatan pergi ke Jepang lah yang dipilih, dan dengan berat hati “membakar” bangku kursi kuliah yang sudah didambakan sejak dulu.

Berbicara tentang Jepang, tentunya akan identik dengan Tokyo, Kyoto, sakura, shinkansen, Gunung Fuji, Disney Land, Disney Sea, Universal Studio, samurai, anime, manga, sushi, dan jenis budaya populer lainnya. Saya sendiri langsung teringat dengan produk transportasi cepat mereka, yaitu shinkansen, pernah sejak kecil punya impian suatu saat akan menaiki kereta cepat tersebut. Tetapi apa yang saya dapat dari Jepang adalah bertolak belakang dari apa yang digambarkan masyarakat umum tentang negara tersebut.

Saya bekerja di sebuah kapal perikanan di salah satu tempat yang bernama Omaezaki. Aktivitas pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga tidak memungkinkan bagi saya dan teman lainnya untuk “sekadar” melakukan wisata ke tempat-tempat terkenal di Jepang. Alih-alih untuk berwisata mengisi waktu liburan, untuk mengistirahatkan badan pun sulit. Dalam setahun, 10 bulan mengarungi laut, walaupun sering ke darat, tapi tidak lebih hanya untuk menjual dan membongkar hasil tangkapan. Sementara 2 bulan lainnya dihabiskan di daratan, itu pun dibebankan dengan pekerjaan lain, seperti mengecat kapal, membereskan gudang kapal, dan lain-lain.

Gunung Fuji adalah sedikit hal yang bisa menolong, karena letaknya yang berada di Prefektur yang saya tinggali, Pref.Shizuoka. Setiap hari andaikata kebetulan sedang berada di Omaezaki, keindahan gunung tersebut selalu tampak dan bisa dinikmati dari pelabuhan. Sampai sekarang pun saya masih menganggap bahwa gunung tersebut adalah yang terindah yang pernah saya lihat. Hal lain yang juga sedikit mejadi pelipur lara adalah ketika pertama kali merasakan hanami –menikmati sakura yang bermekaran– saat datangnya musim semi di salah satu daerah pesisir pantai di Hamaoka untuk pertama dan terakhir kalinya. Sebab di musim semi tahun berikutnya dan berikutnya adalah periode di mana kapal sedang mendapat hasil tangkapan melimpah dengan daerah penangkapan yang jauh, sehingga sangat mustahil untuk libur dan menikmati keindahan sakura yang sangat singkat itu. Pengalaman tersebut sangat gamblang menggambarkan filosofis bunga sakura sebagai mono no aware, yang berarti perlambangan tentang kesedihan. Saya sedih hanya sesingkat itu bisa memegang dan menikmati sakura dalam waktu tiga tahun.

942151_417783058331266_70983594_n
Kapal Dai 10 Jintoku Maru, Arsip pribadi

Masih ingat dengan tsunami 11 Maret 2011 yang melanda daerah Tohoku? Tsunami yang dianggap sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Jepang. Dua hari sebelum terjadi tsunami dahsyat tersebut, saya naik kapal untuk pertama kali. Saat kejadian, saya tengah berada di tengah laut, menerima kabar tersebut dari informasi radio yang diterima oleh juru komunikasi kapal. Betapa kaget dan shock-nya waktu itu, perasaan pasrah sudah memenuhi isi hati dan pikiran. Baru dua bulan di Jepang dan baru saja naik kapal untuk kali pertama sudah dihadapkan dengan hal yang sungguh di luar kehendak manusia. Pikiran saya tertuju kepada keluarga, yang jelas mereka pasti menganggap saya tersapu tsunami, atau minimal tewas dengan mayat yang bertumpukan dengan mayat lain. Enam hari setelah tsunami tersebut, trip pertama berhasil dituntaskan dan akhirnya bisa masuk ke pelabuhan. Ibu yang sesegera mungkin saya telpon, larut dalam isak tangis yang meluluhlantak. Saat itu hanya bisa bertanya pada diri sendiri, apakah saya benar-benar sedang di Jepang?

September 2011, enam bulan setelah bencana tersebut, kapal saya masuk ke pelabuhan Kesennuma, satu dari sekian banyak tempat yang diterjang tsunami. Hal tersebut merupakan hal lazim, karena terhitung dari september sampai november setiap tahunnya, mengikuti pergerakan dan musim ikan yang semakin naik ke daerah perairan atas mengikuti perubahan musim, kapal-kapal penangkap ikan cakalang sering menjual dan melelang ikan tangkapannya di pelabuhan tersebut. Kondisi Kesennuma yang saya lihat via YouTube enam bulan sebelumnya dengan apa yang saya lihat langsung saat pertama kali masuk ke pelabuhan tersebut sangat berbeda. Mobil-mobil bekas yang hancur tersusun dengan rapih secara menumpuk di suatu tempat pembuangan, di beberpa tempat terlihat sedang digalakan reinfrastructure, menunjukan bahwa progress penanganan bencana  di Jepang itu sangat cepat. Saya masih ingat kapal besar jenis purse sein yang sampai terhempas ke daratan selama berbulan-bulan pada akhirnya dipotong dan bongkahannya dipindahkan entah kemana. Satu pengalaman yang membuat saya juga kagum terhadap Jepang. Tak diragukan.

images
sumber: http://www.takebeyoshinobu.com/?cat=19&paged=4

***

Setiap hari menjalani rutinitas pekerjaan sebagai kewajiban di tengah laut, patut diakui membuat jenuh. Terlebih lagi melihat postingan teman-teman yang bekerja di darat, selalu memposting foto-foto jalan-jalan mereka di media sosial. Seorang teman memposting foto-foto mereka di Tokyo Tower, ada yang sedang selfie di patung gundam di Odaiba, ada yang sedang bermain ski di atas es yang licin, ada yang juga sedang berkunjung ke festival Gion yang terkenal dari Kyoto itu, da nada pula yang tempat tinggalnya dihujani salju dan beberapa mereka memamerkannya dengan penuh suka cita. Untuk yang terakhir saya tuliskan, lagi-lagi hanya sebuah impian belaka, kalimat “Akhirnya saya punya kesempatan memegang dan menjilat salju!” yang sudah jauh-jauh hari ingin diucapkan dan sudah terbayangkan semenjak berada di Indonesia tidak pernah terucapkan, karena kebetulan Omaezaki adalah tempat yang tidak disinggahi salju.

Sebagai orang yang bekerja di laut, bukan berarti saya juga tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, walkhusus tentang suatu tempat, mungkin banyak teman-teman atau masyarakat umum lainnya tidak bisa mengunjungi tempat yang saya bisa kunjungi.. Misal, Hachijou-jima, pulau yang membentang luas yang di dalamnya terdapat sebuah bandara. Pulau ini termasuk ke daerah teritorial ibu kota Tokyo. Saya selalu suka dengan dengan pulau ini karena ketika malam datang, pulau ini berwarna dengan beragam warna lampu. Pulau ini juga sering dijadikan patokan perkiraan waktu tiba ke pelabuhan. Kalau sudah kelihatan pulau ini, otomatis waktu tiba ke pelabuhan tak lama lagi. Saat itu saya selalu senang, karena akhirnya saya masuk darat setelah bekerja penuh peluh di lautan. Perasaan tersebut selalu berulang sama.

Kalau berlayar lebih ke arah utara lagi, kita akan menemukan Aoga-shima, yaitu sebuah pulau yang berbentuk seperti gunung merapi, karena terdapat lembah di dalamnya. Sama halnya dengan Hachijou-jima, pulau ini juga berpenghuni dan merupakan wilayah teritorial ibu kota Tokyo. Sekeliling pulau tersebut sering dijadikan daerah penangkapan.

Selain dua pulau di atas, pemadangan indah nan bagus juga akan kita dapati di sebuah gugusan karang yang menjulang tinggi nan megah, Shofu,  juga di Tori-shima. Khusus untuk Tori-shima, tampak seperti bukit landai yang tandus. Konon di pulau tersebut juga pernah dijadikan sebagai markas militer tentara Amerika Serikat.

arsip pribadi
Aoga-shima, arsip pribadi
img_1759
Aoga-shima, arsip pribadi

Bukan hanya tempat-tempat yang diceritakan di atas yang bisa saya pamerkan, tetapi  kebanggaan lain yang saya jadikan sebagai tandingan atas euforia foto-foto wisata teman-teman adalah kemampuan saya memotong ikan dan meyajikannya sebagai sashimi. Sudah merupakan hal yang sangat lumrah bagi orang yang bekerja dengan ikan sebagai objek utama, untuk bisa memotong ikan. Berbagai macam ikan dengan tingkat kesulitan yang berbeda sedikit demi sedikit bisa saya potong dengan cara potong ala Jepang. Mulai dari cakalang sampai lemadang.

Berkenaan dengan pernah berpartisipasi dengan Jakarta Osoji Club –sebuah kolektif yang menjadi volunteer kebersihan sampah di Jakarta– Jepang dan sampah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bukan berarti Jepang adalah negara yang penuh dengan sampah, tentu saja di setiap negara mengahsilkan sampah. Namun, penanganan sampah di Jepang sangatlah terorganisir. Walaupun sedikit merepotkan, tetapi lagi-lagi tidak mengurangi rasa kagum saya terhadap negeri ini.

Dalam satu produk, bisa terurai menjadi bagian-nagian sampah yang tidak boleh dibuang pada satu tempat. Misal, pack-bentou, akan terurai menjadi namagomi atau moerugomi (sampah basah) dan pura (sampah plastik). Jadwal membuangnya pun tidak sembarangan, tapi sesuai jadwal yang sudah ditentukan di daerah tersebut. Misal, hari ini kita bisa membuang namagomi, tapi besok tidak bisa. Satu hal yang cukup menggelikan bagi saya adalah, untuk membuang sampah pun kita harus merogoh kocek untuk membeli plastik sampah yang dijual di convenience store dan supermarket. Plastik-plastik tersebut pun dibedakan engan beragam warna sesuai jenis sampahnya. Ribet?

Suatu kali saya berkesempatan pergi ke tempat pembuangan sampah akhir di Omaezaki, kesempatan ini saya gunakan untuk mengambil foto-foto proses sortir dan pembuangan sampah di tempat tersebut. Sama halnya dengan perlunya membeli plastik sampah, ketika hendak membuang sampah di sini pun dikenakan biaya sesuai dengan jumlah berat sampah yang ingin kita buang.

arsip pribadi

***

Sedikit telat mengetahui informasi lomba blog ini, tapi tak menyurutkan saya untuk berpartisipasi. Tiga tahun tinggal di Jepang, cerita di atas sedikit atau banyak adalah pengalaman yang saya dapatkan. Suatu kisah yang tentunya kalau saya ceritakan kepada orang lain, akan tampak bahwa saya tidak pernah pergi ke Jepang sekalipun, karena tidak bersinggungan dengan tempat-tempat dan bayangan orang secara umum terhadap Jepang. Bahkan teman saya pernah berkata “Kalau belum ke Tokyo, foto di Sky Tree dan Tokyo Tower, terus maen ke Arashiyama atau mendaki gunung Fuji, terus pulangnya naik shinkansen, lalu singgah buat main ski di atas salju, sama aja belum pernah ke Jepang kali.” Saya pernah ke Tokyo, sekedar lewat menuju Narita, ketika hendak mau pulang ke Indonesia. Waktu itu pembangunan Sky Tree belum rampung. Hanya sebatas itu.
Saya tidak bisa menghindari anggapan semacam itu, tapi dengan adanya kesempatan ini semoga His Travel Indonesiasalah satu agen travel di Indonesiabisa mengkomplitkan perjalanan Jepang saya sehingga bisa dianggap “mabrur.” Saya tidak terlalu tahu dengan His Travel Indonesia, tetapi setelah mencoba menghimpun informasi, penawaran-penawaran paket wisatanya menarik. Mereka mengemasnya dengan poster dan visual yang menggoda, setidaknya saya sebagai penikmat seni visual merasa hal tersebut perlu, bahkan sangat perlu.

Kalaupun pada kesempatan kali ini saya gagal, saya percaya masih ada kesempatan lain yang akan membawa saya ke Jepang (lagi) dan mengunjungi deretan tempat yang orang lain juga ingin kunjungi dari negara ini. Sebagai mahasiswa sastra Jepang mungkin saya punya banyak kesempatan pergi ke Jepang sebagai apapun, tetapi tentunya saya juga ingin membagi keindahan Jepang dan pergi Wisata ke Jepang bersama keluarga. Kelak jika saya sudah bekerja dan memiliki penghasilan, memakai layanan HAnavi bukanlah hal yang mustahil. HAnavi memungkinkan kita berwisata dengan mekanisme yang mudah dan harga yang lebih murah. Bagi teman-teman yang memiliki keinginan yang sama dengan saya, silakan cek langsung ke web HIS Travel Indonesia.
“Itu mah sama aja kamu gak pernah ke Jepang,” ejek tambahan teman saya dibarengi dengan ketawa yang sedikit jahat.

Ayok!

HIS Amazing Sakura - Blogger Competition

Yasunari Kawabata pt.2

Penghargaan Nobel Prize

Dalam pidato yang ia bacakan ketika mendaptakan Nobel Prize 1968, ia dengan rinci menjelaskan akar referensi yang ia dapat untuk kemudian nantinya mempengaruhi gaya kepenulisannya. Judul pidato tersebut adalah Japan, The Beautiful, and My Self.

Beberapa hal yang dianggap dari para pembacanya tentang karya-karyanya ia paparkan. Misalnya, banyak orang yang merasa bahwa upacara teh yang menjadi tema pada novel Senbanzuru merupakan sebuah pengenangan akan keindahan formal dan spiritual upacara minum teh. Ia menampik hal tersebut dan menegaskan bahwa karya tersebut merupakan karya yang negatif yang mengekspresikan keraguan tentang dan peringatan terhadap kenyataan memudarnya penjiwaan minum teh.

Dalam pidatonya berkali-kali ia mengutip sajak-sajak penyair Jepang abad pertengahan. Ryokan, Dogen, Ikkyu, Saigyo, bahkan Ryunusuke Kutagawa pun ia hadirkan sebagai satu penjelasan yang bahu membahu merepresentasikan Jepang dan dinamika kesusastraannya yang sudah berlangsung lama. Hal tersebut menunjukan luasnya pengetahuan dan referensi sastra klasik Jepang yang ia ambil untuk dijadikannya sandaran dalam karya-karyanya. Kebanyakan penyair yang ia kutip adalah seorang pendeta, khususnya mereka yag memeluk Buddha sekte Zen, sebagaimana ia sendiri. Seperti teori Watsuro Tetsuji tentang Fudo, keindahan alam Jepang yang timbul akibat perubahan ke empat musimnya menempati posisi strategis bagi Kawabata.

Satu hal yang menarik adalah, ketika Kawabata mengakui bahwa karya sastra klasik terbesar Jepang, Genji Monogatari, merupakan bacaan favoritnya semenjak remaja. Ia berpendapat bahwa karya sastra yang ditulis oleh Murasaki Shikibu tersebut memiliki pesona tinggi, sehingga banyak yang kemudian meniru dan menulis ulang karya serupa sebagai penghormatan. Karya tersebut juga merupakan sumber yang luas dan dalam bagi banyak sekali sajak, karya seni, kerajinan tangan, bahkan lanskap pertamanan, tambahnya.

Pada akhir pidatonya, ia menegaskan bahwa potret kehampaan yang ia hasilkan merupakan hal yang berdasarkan pada konsep Timur yang dilandasi oleh landasan spiritual yang sungguh berbeda dengan di Barat.

 Kematian Yasunari Kawabata dan Hal yang Tersisa

Hal yang termasuk dikutip dalam pidato Nobelnya adalah catatan Ryunosuke Akutagawa sebelum ia melakukan bunuh diri.

“Aku hidup dalam sebuah dunia dengan tekanan jiwa yang mengerikan, jernih dan dingin seperti es. Aku tak tahu kapan akan datang panggilan untuk bunuh diri. Tetapi alam bagiku lebih indah dibanding sebelumnya. Aku tak ragu bahwa kau akan tertawa melihat kontradiksi ini, karena aku mencintai alam bahkan ketika aku merenungkan tindakan bunuh diri. Tapi akan nampak indah karena sebenarnya ia datang untuk memasuki mataku pada saat-saat sekarat.”

Untuk catatan tersebut Kawabata memberi sebuah komentar dalam essai-nya yang berjudul “Pandangan Mata Saat Sekarat”.

“Betapa pun seorang teralienasi dari dunia, tetapi bunuh diri tetaplah bukan bentuk pencerahan. Betapa pun mengagumkan, tetapi orang yang memutuskan bunuh diri tetaplah jauh dari dunia orang suci.”

Kemudian ia melanjutkan komentarnya dengan sebuah pertanyaan, “Di antara mereka yang menggunakan otaknya untuk berpikir, adakah orang yang tak pernah memikirkan bunuh diri?”

Kawabata dianggap bunuh diri akibat kesedihan dan kehampaan yang dialaminya pasca kematian salah satu sahabat dekatnya, Yukio Mishima, yang juga salah satu sastrawan Jepang. Yukio Mishima mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri pada tahun 1970. Butuh waktu dua tahun untuk Kawabata mengikuti jejak temannya tersebut melalui ritual bunuh diri. Keluarga membantah Kawabata mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, mereka mengklarifikasi bahwa kematian Kawabata adalah karena ia tak sengaja menghirup gas beracun saat hendak mandi.

Pada Juli 2014, media The Japan Times menurunkan artikel tentang penemuan surat cinta Kawabata yang tak sempat terkirim kepada seorang perempuan yang bernama Hatsuyo Ito. Perempuan tersebut diyakini menjadi pengaruh Kawabata dalam menuliskan karya-karya awalanya, seperti Hijo dan Izu no Odoriko.

Napak Tilas Yasunari Kawabata

Footstep of Yasunari Kawabata adalah sebuah program yang diadakan untuk mengunjungi tempat-tempat penting yang berkaitan dengan perjalanan hidup Kawabata.

Napak tilas ini dimulai dari tempat kelahiran Kawabat di Osaka, tepatnya di sebuah rumah yang terletak di sebelah timur gerbang depan kuil Tenmangu. Sebuah monumen yang terbuat dari batu dibangun di dekat pintu masuk, sebagai tanda tempat kelahiran penulis tersebut. Tempat berikutnya berlanjut ke Pref. Ibaraki, tempat di mana Kawabata tumbuh dan besar. Perjalanan menggunakan Hankyu Railway yang kurang lebih memakan waktu sekitar 20 menit.

Setibanya di Ibaraki, tempat pertama yang dikunjungi adalah kuburan Kawabata. Tidak jauh dari tempat tersebut, sekitar satu menit berjalan kaki, ada sebuah toko buku yang bernama Toratani Seseido, yang merupakan tempat Kawabata dan teman-temannya membaca dan membeli buku-buku. Tempat selanjutnya adalah SMA di mana Kawabat lulus pada tahun 1917. Di tempat tersebut dibangun sebuah monumen yang disebut monumen sastra. Kata-kata yang tertulis di monumen tersebut merupakan kata-kata yang dicetuskan Kawabata.

The Ibaraki Municipal Kawabata Literature Memorial Hall, merupakam tujuan berikutnya. Sebuah tempat yang bisa dibilang merupakan museum Kawabata. Banyak benda-benda yang berkenaan dengan dirinya disimpan di tempat ini. Perjalanan dilanjutkan ke rumah tempat Kawabata tinggal di kota ini dan diakhiri di salah satu tempat yang disukai Kawabata, jembatan Sumiyossan. Wisata tersebut bisa diikuti dengan membayar biaya sebesar ¥ 2.600.

Filmografi

Pada tahun 1926, Kawabata menulis skenario untuk sebuah film bisu besutan sutradara Teinosuke Kinugasa. Film tersebut hilang dalam waktu yang lama, sampai akhirnya ditemukan di gudang rumah Kinugasa pada tahun 1971. Film tersebut berjudul Kurutta Ichipeiji, yang dibuat oleh kolektif seniman avant-garde Jepang, Shinkankakuha, untuk merepresentasikan seni naturalisme. Ia juga menulis skenario untuk beberapa film lainnya.

Selain itu, banyak karyanya juga  yang diangkat ke dalam sebuah film dan seni peran lainnya. Beberapa novel dan cerpennya diangkat ke layar lebar oleh sutradara yang berbeda. Twin Sister of Tokyo (Koto) adalah salah satu film yang diproduksi berdasarkan cerita novel Koto. Film tersebut dirilis pada tahun 1963 dan disutradarai oleh Noboru Nakamura. Academy Award memasukan film tersebut sebagai nominasi dalam kategori The Best Foreign Language.

Bahkan dalam serial televisi Tamayura, tercatat juga Yasunari Kawabata telibat sebagai pemain.  Karya-karya Kawabata lainnya, baik novel, cerpen, atau skenario yang ia tulis, berulang kali didaur ulang menjadi film, serial televisi, dan seni peran lainnya.

Daftar karya tulis Yasunari Kawabata:

  1. Diary of a Sixteen-years-old,
  2. Izu no Odoriko (The Dancing Girl of Izu),
  3. Asakusa Kurenainda (The Scarlet Gang of Asakusa), 1930.
  4. Yukiguni (Snow Country),
  5. Senbazuru (Thousand Cranes),
  6. Meijin (The Master of Go), 1954.
  7. Yama no Oto (The Sound of Mountain),
  8. Mizuumi (The Lake),
  9. Nemureru Bijo (The House of The Sleeping Beauties),
  10. Koto (The Old Capital),
  11. Utsukushisa to Kanashimi to (Beauty and Sadness),
  12. Kataude (One Arm),
  13. Tenohira no Shosetsu (Palm of The Hand Stories),

Daftar film diadaptasi dari karya-karya Yasunari Kawabata:

  1. Kurutta Ichipeiji (1926), sutradara Teinosuke Kinugasa.
  2. Asakusa Kurenaidan (1930), sutradara Sadae Takami.
  3. Koi no Hana Saku: Izu no Odoriko (1933), sutradara Henosuke Gosho.
  4. Otomoe-gokoro – Sannin-shimai (1935), sutradara Mikio Naruse.
  5. Mihime no Koyomi (1935), sutradara Yasushi Sasaki.
  6. Arigatou-san (1936), sutaradara Hiroshi Shimizu.
  7. Meshi (1951), sutradara Mikio Naruse.
  8. Maihime (1951), sutradara Mikio Naruse.
  9. Asakusa Kurenaidan (1952), sutradara Seiji Hisamatsu.
  10. Senbazuru (1953), sutradara Kozaburo Yoshimura.
  11. Yama no Oto (1954), sutaradara Mikio Naruse.
  12. Izu no Odoriko (1954), sutaradara Yoshitaro Nomura.
  13. Kawa no Aru Shitamachi no Hanashi (1955), sutradara Teinosuke Kinugasa.
  14. Niji Ikutabi (1956), sutradara Koji Shima.
  15. Tokyo no Hito (1956), sutradara Katsumi Nishikawa.
  16. Yukiguni (1957), sutradara Shiro Yoyoda.
  17. Kaze no Aru Michi (1959), sutradara Katsumi Nishikawa.
  18. Izu no Odoriko (1960), sutradara Yoshiro Kawazu.
  19. Izu no Odoriko (1963), sutradara Katsumi Nishikawa.
  20. Twin Sisters of Kyoto (Koto) (1963), sutradara Noboru Nakamura.
  21. Izu no Odoriko (1964), sutradara Hideo Onchi.
  22. Utsukushisa to Kanashimi (1965), sutradara Masahiro Shinoda.
  23. Onna no Mizuumi (1966), sutradara Yoshishige Yoshida.
  24. Nemureru Bijo (1967), sutradara Kozaburo Yoshimura.
  25. Yukiguni (1969), sutradara Hideo Oba.
  26. Senbazuru (1969), sutradara Yasuzo Masumura.
  27. Hi mo Tsuki mo (1969), sutradara Noburo Nakamura.
  28. Izu no Odoriko (1974), sutaradara Katsumi Nishikawa.
  29. Tristesse Et Beaute (1985), sutradara Joy Fleury.
  30. Twin Sisters of Kyoto (Koto) (1980), sutradara Kon Ichikawa.
  31. Nemureru Bijo (1995), sutradara Hiroto Yokoyama.
  32. Sleeping Beauties (2001), sutradara Eloy Lezano.
  33. House of The Sleeping Beauties (2006), sutradara Vadim Glowna.
  34. Yubae Shojo (2008), sutradara Shinju Funabiki dan Natsuki Seta.
  35. Xin (2009), sutradara Edmund Yeo.
  36. Kingyo (2009), sutradara Edmund Yeo.
  37. Tenohira no Shosetsu (2009), sutradara Tsukasa Kishimoto dan Nobuyuki Miyake.
  38. Red Dance (2010), sutradara Nguyun Thi Nam Phuong (animasi).
  39. The Old Capital (Koto) (2016), sutradara Yuki Saito.

Program televisi:

  1. Izu no Odoriko, NHK (1961).
  2. Tamayura, TV series (1965-1966).
  3. Yukiguni (1970).
  4. Izu no Odoriko, KTV (1967).
  5. Izu no Odoriko, Terebi Tokyo (1993).
  6. Ayahiki Bungo Kaidan, TV Series (2010).

Yasunari Kawabata pt.1

Yasunari Kawabata, Penulis, dan Sastra Indonesia

“Karya sastra Jepang yang pernah saya baca, novel karya Yasunari Kawabata dan Yukio Mishima”, itu jawaban dari Alm. Gus Dur saat menjawab pertanyaan Daisaku Ikeda, Presiden ke-3 Soka Gakkai, ketika ia ditanyai tentang karya sastra Jepang yang pernah dibacanya. Percakapan tersebut dikutip dari buku Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian. Menurut Gus Dur, yang membuat karya Yasunari Kawabata menarik adalah karena ia mengekspresikan keindahan modern Jepang dengan tetap mempertahankan tradisi dan nilai kebudayaan tradisional Jepang. Momen tersebut merupakan satu dari beberapa momen yang mengenalkan Yasunari Kawabata kepada penulis, selain karena antologi cerpennya yang berjudul Daun-Daun Bambu.

Karya-karya Yasunari Kawabata bisa dikatakan menempati tempat yang strategis bagi para penikmat sastra Indonesia, karena karya-karyanyalah yang paling sering dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia di antara penulis-penulis Jepang lainnya. Anton Kurnia, salah satu pegiat literasi Indonesia mencatat bahwa dalam rentang waktu 1972 – 2003, terdapat sembilan judul terjemahan karya Kawabata dalam bahasa Indonesia yag sudah diterjemahkan. Judul-judul tersebut mencakup terjemahan karya yang sama oleh penerjemah yang berbeda dengan pilihan judul yang berbeda pula. Baik karya yang sama yang ditulis oleh orang yang sama, maupun oleh orang yang berbeda. Sembilan judul tersebut belum termasuk karya-karyanya yang kembali diterjemahkan dan dipublikasikan ulang oleh penerjemah yang berbeda, dari 2003 sampai sekarang kurang lebih bertambah tujuh terjemahan baru. Penari-Penari Jepang mungkin yang paling familiar, antologi cerpen-cerpen Kawabata tersebut dialihbahasakan oleh sastrawan senior Indonesia dari tanah sunda, Ajip Rosidi, yang dibantu oleh Matsuoka Kunio dari judul The Dancer of Izu & The Other Stories pada tahun 1985. Termasuk satu dari tiga magnum-opus-nya, yaitu Yukiguni, dialihbahasakan oleh sastrawan kawakan A.S. Laksana dengan judul Daerah Salju.

Eka Kurniawan, penulis pertama Indonesia yang mendapat nominasi Man Booker Prize, berpendapat:

“Di novel-novel Kawabata, selain menemukan tokoh-tokoh yang diliputi hasrat seksual, kita juga menemukan benda-benda dan momen-momen: motif burung bangau di kain, upacara minum teh, dan lain-lain. Benda-benda dan momen-momen itu merupakan wilayah tafsir di mana kita bisa masuk ke kejiawaan tokoh (atau bahkan masyarakat, generasi, peradaban).”

 

Penyair M. Aan Mansyur menyebut Kawabata sebagai seorang penulis yang menyembunyikan keistimewaan melalui cerita yang biasa. Penulis Indonesia muda lain, Bernard Batubara memberikan apresiasi yang menyerupai seniornya, Eka Kurniawan, di atas, ia menganggap Kawabata secara sepintas tampak sederhana, sering kali hanya menceritakan satu kejadian kecil dengan kalimat dan paragraf pendek-pendek. Namun, di baliknya ada kualitas imaji dan asosiatif yang sangat dalam, mengantarkan kita ke arah tafsir yang amat beragam.

Testimoni-testimoni tentang Yasunari Kawabata yang penulis paparkan di atas merupakan sebuah ajuan bukti terhadap apa yang ditulis oleh kolumnis senior Kompas, Jacob Soemardjo, bahwa Kawabata menempati tempat spesial diantara pembaca sastra Indonesia. Karyanya dibaca oleh beragam generasi, dari Gus Dur sampai penulis-penulis muda Indonesia kontemporer, seperti Eka Kurniawan, M. Aan Mansyur dan Bernard Batubara.

Profil Yasunari Kawabata

Yasunari Kawabata lahir di Osaka pada 14 Juli 1899 dan meninggal di Zushi, Kanagawa, 16 April 1972 pada uia 72 tahun. Ia dilahirkan di Osaka dalam keluarga yang berkecukupan. Ia tinggal dengan berbagai macam orang pada masa kecilnya, sebab kedua orang tuanya meninggal pada saat ia berusia dini. Ayahnya yang seorang dokter meninggal saat ia berusia tiga tahun, diikuti oleh ibunya di tahun berikutnya. Kemudian ia tinggal bersama kakek dan neneknya. Pada saat usianya menginjak delapan tahun. Neneknya juga kemudian meninggal dunia, tepatnya September 1906. Sehingga ia tinggal hanya dengan kakeknya.

Pada Juli 1909 saat ia berusia sepuluh tahun, ia bertemu dengan kakak perempuannya yang diasuh oleh bibinya. Pertemuannya dengan kakak perempuannya itu untuk pertama kali dan terakhir kalinya, karena di tahun berikutnya kakak perempuannya tersebut juga meninggal dunia. Duka yang dijalani Kawabata belum berakhir, saat usianya menginjak 15 tahun, tepatnya Mei 1914, kakeknya juga meninggal dunia. Rentetan pengalaman hidup ditinggalkan kematian oleh keluarganya dan kesepian yang dialaminya tersebut, kelak akan mempengaruhi gaya kepenulisannya di masa akhir produktivitasnya sebagai seorang novelis.

Catatan hariannya yang berjudul Diary of a Sixteen-years-old, sebenarnya ditulis pada malam kematian kakeknya. Namun, buku tersebut dipublikasikan pada tahun 1925. Dalam buku tersebut, Yasunari Kawabata mencurahkan emosinya tentang kegelisahan dan kepahitan hidup di awal-awal hidupnya.

Setelah kematian kakeknya, ia tinggal bersama keluarga ibunya. Selama menempuh sekolah dasar, ia tergerak untuk menjadi seorang pelukis, dan tentu saja ia menikmati kegiatan tersebut. Pada Mei 1917, ia masuk ke sekolah menengah Dai Ichi Koutou Gakkou, sekolah menengah yang berada langsung di bawah Universitas Kekaisaran Tokyo, di Tokyo. Setahun sebelumnya ia keluar dari rumah dan pindah ke asrama SMP sampai ia masuk ke sekolah menengah atas. Selulusnya ia dari sekolah menengah atas pada tahun 1920, ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke tingkat universitas di Universitas Kekaisaran Tokyo dan masuk ke Fakultas Sastra Inggris.

Pada saat menempuh pendidikan di Tokyo inilah, ia memutuskan untuk menjadi seorang novelis. Hal tersebut ditandai dengan seringnya ia menulis essay dan artikel untuk penerbit majalah kecil dan beberapa koran lokal. Kikuchi Kan, seorang sastrawan Jepang saat itu, tertarik dengan karya-karya Yasunari Kawabata yang dikirmikan ke majalah sastra yang ia dirikan, Bungei Shunju. Sehingga pada tahun 1923, ia bergabung dengan majalah tersebut. Selain menulis fiksi, ia juga bekerja sebagai wartawan untuk beberapa majalah, salah satunya untuk Mainichi Shinbun di Osaka dan Tokyo.

Selama menjadi mahasiswa, ia menghidupkan kembali majalah Shin-shichou yang sudah vakum selam kurang lebih empat tahun. Pada majalah ini pula lah, cerpen pertamanya yang berjudul Shokonkai Ikkei (Suasana pada Suatu Pemanggilan Arwah) diterbitkan. Karya tersebut hingga kini masih diakui nilai sastranya. Namun, kemudian ia pindah ke Sastra Jepang dan menuntaskan pendidikannya di universitas dengan skripsi yang diberi judul Sejarah Singkat Novel-Novel Jepang.

Setelah lulus dari universitas pada tahun 1924, ia bersama teman-temannya menerbitkan jurnal sastra, Bungei Jidai. Jurnal tersebut merupakan titik awal dari sebuah gerakan kepenulisan baru yang bereaksi menentang naturalisme populer dan gerakan sastra proletariat yang berafiliasi dengan sosialime-komunisme. Gerakan seni yang diadopsi mereka adalah “seni untuk seni” yang dipengaruhi oleh kubisme Eropa, ekspresionisme, dadaisme, dan gaya modernisme lainnya. Kemudian Kawabata pindah dari Asakusa ke Kamakura, Prefektur Kanagawa pada tahun 1934. Pada awalnya ia menikmati kehidupan sosial yang aktif bersama para sastrawan dan penulis lainnya di Asakusa, Tokyo, semasa berlangsungnya Perang Dunia II dan beberapa lama sesudahnya. Namu, pada tahun-tahun berikutnya, Kawabata menjadi sangat menutup diri.

Pada tahun 1948, ia ditunjuk sebagai ketua dalam pertemuan Japanese PEN Club. Kemudian pada tahun 1954, ia juga terpilih menjadi salah satu anggota dari Japanese Academy of The Arts. Pada tahun 1968, ia mendapat penghargaan Nobel Prize di bidang sastra. Penghargaan tersebut menjadikannya sebagai penulis Jpenag pertama yang mendapatkan penghargaan prestisius tersebut.

Bahasa Inggris & Jepang pt.2

Kemampuan Bahasa Inggris Masyarakat Jepang

Polemik bahasa Inggris bagi masyarakat Jepang bukan isapan jempol belaka, sulit tidak percaya dan menampik kenyataan bahwa orang sekelas profesor sekalipun tidak mempunyai kemampuan bahasa Inggris sama sekali. Dalam buku Mengenal Jepang yang ditulis oleh bekas Mantan Wakil Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Yusuke Shindo, terdapat cerita menarik tentang salah seorang temannya ketika mengambil tes untuk masuk pascasarjana Universitas Tokyo. Ketika diperintahkan mengubah kalimat bahasa Jepang ke dalam bahasa Inggris, ia mendapati kata burung, seberapapun ia berpikir bahasa Inggrisnya burung, ia tetap tak bisa menuliskannya dengan kata bird, melainkan dengan flying animal.

Dalam  sebuah bangumi berjudul Nihon no Eigo Kyouiku yang disiarkan salah satu stasiun televisi Jepang pada tanggal 14 Februari 2015, dikemukakan bahwa peringkat kemampuan bahasa Inggris Jepang berdasarkan TOEFL pada tahun 2011, Jepang menempati peringkat ke-137 dari 163 negara di dunia. Jauh berada di bawa Korea Selatan yang terpaut 67 peringkat di urutan ke-70 dan juga di bawah Cina pada urutan ke-102. Sementara itu, peringkat pertama diduduki oleh Belanda, dikuti oleh Singapura dan Belgia berturut-turut di urutan ke-2 dan ke-3. Kalau dipersempit lagi, Jepang menduduki peringkat ke-28 dari 30 negara Asia dalam kategori yang sama. Bahkan berada di bawah negara-negara berkembang seperti Myanmar, Mongolia dan pula Indonesia.

Dalam bangumi tersebut juga diadakan survei  langsung kepada masyarakat Jepang di jalanan yang sedang beraktifitas, mereka ditanya dengan beberapa pertanyaan bahasa Inggris yang mudah oleh seorang penanya asing, hampir setiap orang yag ditanya menjawab dengan jawaban “no”, bahkan “wakaranai”.

Hal menarik lainnya terkait polemik ini adalah tentang salah seorang penerima penghargaan Nobel bidang fisika pada tahun 2008,  Toishida Masukawa, yang sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Bahkan kehadirannya di Stockholm saat itu merupakan perjalanan pertamanya ke luar negeri dalam sepanjang hidupnya. Ketika ia membacakan speech-nya di hadapan banyak orang yang menghadiri acara penganugerahan penghargaan tersebut, ia mengawalinya dengan kalimat “I am sorry, I can not speak English”, dan melanjutkan pidatonya tersebut denga menggunakan bahasa Jepang. Saat hendak pulang dari acara tersebut, “shimasen! koukou no  toki kara no kesshin” begitu jawaban yang ia lontarkan demi memenuhi pertanyaan yang disodorkan salah seorang wartawan. Sebuah keputusan yang ia tetapkan saat SMA untuk tidak mempelajari bahasa Inggris.

Pendidikan Bahasa Inggris di Jepang

Pendidikan bahasa Inggris di Jepang pada umumnya dimulai saat masuk SMP, selama 3 tahun dan akan terus berlanjut sampai universitas tingkat 2. Sebagian besar universitas menyertakan bahasa Inggris dalam ujian masuk universitas mereka. Bagi mereka yang mengambil jurusan non-english pun diwajibkan mengikuti kelas bahasa Inggris selama 2 tahun pertama. Lamanya pembelajaran bahasa Inggris di kelas secara bertahap menurun sejak era Meiji, dari 6 kelas menjadi 3 kelas dengan durasi 50 menit dalam seminggu per kelas. Dengan demikian dalam setahun ada105 kelas, berdasarkan data tersebut, ada 305 kelas dalam 3 tahun, yang jika dikalikan dengan 50 menit adalah 262,5 jam pengajaran bahasa Inggris pada saat mereka lulus dari SMP. Dalam kurikulum sekolah menengah umum, ada empat program (Komunikasi Aural / Oral I & II, English I & II, Reading, dan Writing), dan total waktu kelas selama tiga tahun adalah 735 kelas atau 612,5 jam instruksi. Penurunan jam belajar bahasa Inggris tersebut dimaksudkan untuk menjaga pentingnya peningkatan bahasa ibu, yaitu bahasa Jepang.

Pada April 2011, terjadi inovasi dalam kurikulum pendidikan bahasa Inggris di Jepang. Bahasa Inggris mulai diperkenalkan pada siswa kelas 5 sekolah dasar sebagai mata pelajaran resmi, program tersebut disebut Gaikokugo Katsudou. Tetapi pada kenyataannya kegiatan tersebut menitikberatkan pada bahasa Inggris. Sekolah akan diminta untuk memberikan kelas bahasa Inggris seminggu sekali selama 35 minggu dalam satu tahun ajaran. Kelas tersebut lebih menekankan pengajaran bahasa Inggris berdasarka pengalaman-pengalaman, bukan pada hafalan yang berhubungan dengan linguistik. Penerapan inovasi ini baru dilakukan sejak usulan tersebut ada sejak tahun 1991. Boleh dikatakan Jepang terlambat dari negara-negara lain seperti Thailand, Korea Selatan, dan China yang sudah mengadakan kelas bahasa Inggris sebagai pengajaran bahasa wajib di sekolah dasar pada tahun 1996, 1997, dan 2001.

Fakta di atas merupakan hal yang paradoks dengan sistem pendidikan di Jepang secara umum, yang banyak diakui sebagai negara yang mempunyai sistem pendidikan terbaik di dunia.

Polemik Bahasa Inggris di Jepang

Yusuke Shindo berpendapat bahwa, salah satu hal yang menyebabkan orang Jepang memiliki kemampuan yang rendah dalam bidang bahasa Inggris adalah karena minimnya buku yang ditulis dalam teks bahasa Inggris. Di Jepang, pada umumnya buku yang dipakai di sekolah-sekolah dan universitas dicetak dengan menggunakan bahasa Jepang sendiri, seperti buku fisika, kimia, dan teknik. Hal tersebut dikarenakan mereka yang menulis buku tersebut adalah guru yang berkebangsaan Jepang, yang mana mereka mempunyai level keilmuan yang berkembang, disamping banyaknya jumlah guru orang Jepang.

Salah satu haafu yang berprofesi sebagai produser acara televisi Jepang, Dave Spector, mengemukakan kalau satu di antara banyaknya sebab orang Jepang lemah dalam bahasa Inggris adalah karena pengucapan bahasa Inggris orang Jepang yang berdasarkan pelafalan katakana semenjak kecil. Sehingga ketika dewasa, kebiasaan tersebut sulit diubah, dan menyebabkan pelafalan bahasa Inggris yang aneh.

Pakar linguistik Jepang, Takao Suzuki, berpendapat mengenai pendidikan bahasa Inggris di Jepang, menurutnya, sistem yang ada sekarang ini tidak mempunyai tujuan spesifik yang jelas. Ia mengajukan tiga tipe tujuan pembelajaran bahasa berdasarkan tiga tujuan tersebut. Pertama, language as an end, yaitu pembelajaran bahasa untuk diri sendiri. Misalnya, mempelajari suatu bahasa hanya karena merasa tertarik kepada bahasa tersebut dan budayanya. Kedua, language as means, yaitu belajar bahasa hanya sebatas untuk mengerti teks yang berdasarkan bahasa yang dipelajari. Misalnya, mempelajari bahasa Jerman untuk mengerti filsafat Jerman. Terakhir, language for communication, yaitu pembelajaran bahasa yang dimaksudkan untuk komunikasi secara internasional. Bahasa Inggris merupakan bahasa yang memiliki kedudukan tinggi dalam skala internasional, Takao Suzuki menekankan seharusnya pendidikan bahasa Inggris di Jepang berdasarkan tipe pembelajaran yang ketiga, language for communication. Idenya tersebut sangat penting bagi perkembangan pendidikan bahasa Inggris di Jepang yang selalu berubah sesuai perkembangan jaman.

Penyebab lain yang dianggap menghambat pendidikan bahasa Inggris di Jepang adalah kualitas buku yang dipakai, kualitas guru pengajar, sistem pembelajaran di kelas, dan termasuk faktor grammar bahasa Inggris. Selain itu, faktor penghambat yang dilihat dari segi budaya adalah kecenderungan orang Jepang untuk diam dan tidak mudah berkomunikasi serta kesulitan untuk mengekspresikan perasaan mereka. Hal tersebut menyebabkan tidak adanya kemungkinan yang efektif untuk mereka mempraktikan bahasa Inggris yang sudah dipelajari ke dalam kehidupan sehari-hari.

Kesadaran pentingnya bahasa Inggris dalam kehidupan masyarakat Jepang juga masih jauh untuk bisa dikatakan tinggi, sehingga berdampak terhadap kebutuhan untuk menggunakan bahasa Inggris dalam berbagai hal sangat minim. Hal tersebut bisa dilihat dari acara-acara televisi yang dominan menggunakan bahasa Jepang, dan hampir dipastikan akan sulit menemukan orang-orang memakai bahasa Inggris, baik verbal maupun teks. Bahkan film Barat yang ditayangkan di televisi pun di-dubbing dengan bahasa Jepang, serta subtitle yang bertuliskan huruf kana dan kanji.

Olimpiade Tokyo 2020

Menyongsong Olimpiade 2020 yang akan diadakan di Tokyo, pemerintah Jepang mulai merencanakan untuk memasukan peljaran bahasa Inggris di kelas 3 sekolah dasar, serta melalui program Japanese English Teacher (JET), pemerintah berkomitmen untuk memperluas program yang sudah ada sejak dekade 80-an tersebut dengan menambah jumlah pengajar native bahasa Inggris.

 

 

Bahasa Inggris & Jepang pt.1

Kontak langsung orang Jepang dengan bahasa Inggris diyakini terjadi pada masa pemerintahan Tokugawa, tepatnya ketika Tokugawa Ieyasu bertemu dengan William Adams, pelaut Inggris pertama yang dianggap melakukan pelayaran ke Jepang,  sekitar April  tahun 1600. Ia dikenal dengan nama Miura Anjin atau Anjin-sama yang berarti navigator dari Miura. William Adams saat itu dipercaya Ieyasu membantu Mukai Shogen untuk membuat kapal model Barat pertama untuk Jepang. Ia juga dipercaya menjadi penasihat pribadi tentang semua hal yang berhubungan dengan peradaban Barat. Beberapa tahun kemudian, ia diangkat menjadi penerjemah resmi shogun. Ieyasu dan Adams menjalin hubungan positif sampai keduanya meninggal.

Semenjak kematian Tokugawa Ieyasu, kebijakan luar negeri bakufu yang ditandai dengan sakoku mengalami perubahan, salah satunya yaitu menutup kantor dagang Inggris di Hirado pada tahun 1623 setelah beroperasi hampir selama sepuluh tahun sejak didirikan pada tahun 1613. Pada tahun 1673, Inggris diusir dari Jepang dan dilarang kembali masuk ke Jepang. Pada tahun 1808, kapal Phaeton Inggris menyita barang di Nagasaki, sehingga bakufu memerintahkan kaum feodal untuk mengusir semua kapal asing kecuali Belanda dan Cina. Mulai saat itu kontak Jepang dengan dunia luar hanya dengan Belanda dan Cina.